Mengobjektifikasi Tubuh Perempuan Itu Tindakan Primitif, Norak, dan Enggak Manusiawi Blas!



Mengobjektifikasi Tubuh Perempuan Itu Tindakan Primitif, Norak, dan Enggak Manusiawi Blas!
Sumber Foto: kalaliterasi.com
Penulis: Septia Annur Rizkia*


“Kalau candaanmu masih seputar tubuh perempuan, sungguh norak sekali selera humormu! Sana, ke laut aja!”


Perlu kita tanamkan dan pahami bersama, terlahir menjadi laki-laki maupun perempuan bukanlah sebuah pilihan, melainkan takdir. Karena hal tersebut adalah takdir, yang perlu dipertegas adalah saling menghormati antara satu dengan yang lain. Maka dari itu, tidak sepatutnya mengatur hidup seseorang atau bahkan merendahkan martabatnya, hanya karena ia memiliki alat kelamin vagina, yang di dalam masyarakat terkonstruk dan disebut sebagai perempuan.


Oh ya, sebelum melebar jauh, kita pun harus paham dulu bahwa seks, seksual, dan seksualitas adalah tiga hal yang berbeda, baik secara esensi maupun maknanya. Untuk mengawali tulisan kali ini, saya akan memfokuskan pada pengertian seksnya dulu, agar pembahasannya pun nggak ambyar.


Oke, seks sendiri merupakan penamaan fungsi biologis atau nama lain dari alat kelamin dan fungsi reproduksi. Bisa dikatakan, bahwa seks hanyalah pembedaan antara vagina dan penis. Pelabelan bahwa seseorang yang memiliki alat kelamin berupa vagina adalah perempuan, sedangkan seseorang yang beralat kelamin penis disebut sebagai laki-laki, merupakan konstruk atau bentukan dari masyarakat yang heteronormatif.


Hakikatnya, siapapun pemilik alat kelamin atau seks tersebut tidak berpengaruh, apakah namanya laki-laki, perempuan, priawan, waria, ataupun tanpa label. Karena hal itu berasal dari bentukan masyrakat yang ada.


Nah, sampai di sini sudah jelas kan, untuk membedakan mana yang sifatnya kodrati serta yang masih bisa dikompromikan? Kurasa sudah ya~


Namun kali ini, saya sebagai penulis akan menyebut istilah perempuan untuk makhluk yang memiliki alat kelamin vagina, dan sebutan laki-laki untuk yang berkelamin penis, sebagai upaya untuk mempermudah penyebutan. Mohon dipahami ya!


Pertama, kita akan ngomongin tubuh. Dalam sebuah tulisan di Jurnal Perempuan berjudul Tubuh Perempuan yang Dipatuhkan, menyebutkan, tubuh merupakan keseluruhan struktur fisik organisme manusia, yang terdiri atas bentuk tubuh yang kasat mata dan tidak. Karena dalam tubuh manusia ada serangkaian antara jiwa dan raga; bukan hanya ada tangan, hidung, kepala, kaki, mata, rambut, rahim, vagina, penis, jantung, dan lain-lain. Akan tetapi juga mencakup seisi jiwa; baik itu pikiran, perasaan, hati dan atas apa yang tak terlihat oleh mata, namun bisa dirasakan dalam satu naluri manusia.


Kalau sudah begitu, apa pun alasannya, siapa pun itu, tak berhak menjadikan tubuh manusia sebagai objek. Sebab apa? Laki-laki dan perempuan diciptakan di dunia ini sebagai subjek penuh atas kehidupan, dengan menjunjung nilai-nilai kesetaraan. Perlu digarisbawahi pula, setara dan sama adalah dua hal yang berbeda, bagaikan langit dan bumi, seperti lirik lagu yang kerapkali dinyanyikan mba Via Vallen. Kapan-kapan kita bahas lebih spesifik lagi.


Sekarang saya mau menumpahkan sedikit unek-unek dan keresahan selama menjadi perempuan di tengah kultur patriarkis ini. 


Ya, sangatlah nyata bahwa tubuh perempuan selalu dijadikan sebagai objek yang selalu diatur-atur dan juga diumpamakan dengan beragam hal, entah lemper, bunga, mutiara, dan lainnya. Padahal, tidak ada satu pun benda atau barang yang patut disamakan dengan manusia. Secara, derajat manusia lebih tinggi dan mulia dibanding dengan segala macam perumpamaan. Mengapa?  Seperti yang kita tahu, manusia dikaruniai akal untuk berpikir serta hati untuk saling berempati. 


Menjengkalkannya lagi, tak jarang pula perempuan kerap kali dijadikan bahan candaan dan lelucon yang merendahkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. LOL. Hei, katanya memanusiakan manusia? Aku tanya lagi nih, manusia yang mana ya? Bukannya perempuan merupakan bagian dari manusia yang juga memiliki hak atas keamanan dan kenyamanan? Ah, lepas deh kaca mata kuda yang menutup matamu itu!


Nggak usah jauh-jauh, coba cek group WhatsApp kalian masing-masing. Masih ada nggak tuh, yang ngirim stiker gambar organ tubuh perempuan maupun laki-laki? Atau gambar maupun foto yang diambil tanpa seizin orangnya untuk dijadikan objek candaan yang seksis-seksis? Hei mbok pakai akal kalau bercanda. Nggak lucu blas!


Lah iya, kalau pihak yang gambarnya disebar itu mengizinkan? Kalau enggak? Sama halnya melanggar hak privasi orang dong? Apalagi jika itu adalah organ tubuh yang bisa dikatakan bagian-bagian vital yang nggak semua orang menginginkan bagian tubuhnya itu diekspos. Hei, seorang aktor atau aktris porno saja kalau keluar rumah masih pakai baju kok. Iya to?


Lagi, dalam konsep otoritas tubuh, setiap orang memiliki hak dan kuasa atas tubuhnya masing-masing, serta diharapkan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab atas tubuhnya. Nah, kita mau menyentuh tubuh seseorang saja harus melalui consent atau persetujuan dulu. Sama halnya ketika kamu bertamu ke rumah orang. Nggak mungkin langsung nyelonong masuk to? Pastinya pakai attitude bukan? Ketok-ketok atau ngucapin salam terlebih dahulu, dan menunggu si pemilik rumah mempersilahkan.


Bagaimanapun, perempuan akan terus-terusan menjadi mahkluk kedua, jikalau nilai seorang perempuan hanya dilihat dari tubuh yang kemudian diseksualisasi atau dijadikan objek seks semata. Camkan ya, perempuan tidak hanya makhluk seksual, ia juga makhluk sosial, intelektual, maupun spiritual, yang memiliki ragam potensi dan juga sumbangsih besar terhadap peradaban ini.


Saya pun nggak habis pikir, jikalau yang kerapkali menseksualisasi tubuh perempuan ialah sseseorang yang tiap hari baca buku, bukunya bejibun, dari wacana ke-kiri-an sampai ke-kakan-an mentok. Hei, selama ini apa sih yang dibaca? Covernya saja? Pantes.


Apalagi jika seseorang terutama laki-laki yang sok-sok an belajar wacana feminisme, kesetaraan dan lain-lain, tapi hanya untuk mengelabui seorang perempuan. Kan teliq minthi to?


Saya nggak lagi omong kosong, saya pribadi pun juga pernah menjalin hubungan dengan seseorang yang mendaku sebagai aktivis plogecip (katanya), tapi isi otaknya selangkangan, selangkangan, dan selangkangan.


Nyatanya kejadian semacam itu tidak hanya saya dapati dari pengalaman pribadi. Baik dari beberapa teman, orang yang saya kenal, kisah-kisah yang termuat dalam sebuah akun di Instagram, sampai beberapa kasus yang berhasil terungkap dan terekspos di kanal-kanal media karena gerakan solidaritas, sebagian besar mempunyai kemiripan dengan keresahan saya tersebut. Padahal, mereka itu yang setiap saat ngomonin keadilan, perlawanan, dan tetek-bengeknya. Heran kan?


Tahu tidak? Jika kita menormalisasikan kebiasaan mengobjektifikasi tubuh perempuan, sama halnya dengan kita melanggengkan kekerasan seksual itu sendiri. Kenapa? Sebab kasus-kasus kekerasan seksual, terutama pemerkosaan tidak ujug-ujug terjadi. Semua itu berawal dari tindakan yang dianggap remeh-temeh, padahal jelas-jelas tidak memanusiakan perempuan. Seperti mengobjektifikasi, menseksualisasi, maupun perilaku catcalling..


Hei manusia-manusia budiman. Sorry nih, kalau saya nulisnya sambil nge-gas, alias buang angin..


Gini deh, setiap organ tubuh itu memiliki fungsinya masing-masing, termasuk tonjolan daging yang disebut sebagai payudara. Tanpa payudara, tidak akan ada air susu kehidupan yang bisa membuatmu hidup hingga saat ini. Tanpa rahim dan vagina, kamu tidak akan pernah lahir di dunia. Perlu diingat, organ tubuh yang melekat pada perempuan tidak sebatas objek seks atau pemuas nafsu semata. Jadi tolong, jangan direduksi dengan sedemikian rupa ya! Nanti dilaknat sama Sang Penciptanya lho!


Bicara otoritas tubuh, jikalau ada perempuan lebih nyaman dengan baju yang ia kenakan walaupun terbuka, orang lain pun tak berhak menseksualisasi atau menyalahkan cara berpakaiannya. Ingat lagi, perempuan di hadapanmu itu bukan seeonggok daging, dan laki-laki juga bukan binatang yang tak mampu mengontrol dirinya sendiri.


Ketika konstruksi sosial kita masih seperti itu, apa yang harus dilakukan? Jangan salah sangka, kesadaran sosial kita masih dibangun dalam masyarakat yang patriarkis, dan terkungkung pada nilai-nilai yang kadang sangat bias gender. Seperti, perempuan selalu dijadikan penjaga moral. Sejak kecil, perempuan selalu diingatkan untuk menjaga diri agar tidak diperkosa, sedangkan laki-laki tidak pernah diajarkan untuk menjaga diri agar tidak memperkosa.


Begini ya, laki-laki adalah manusia yang memiliki akal, pikiran, serta nurani, sama halnya dengan perempuan. Maka, kamu (laki-laki) pun punya kendali atas tubuhmu. Jika yang terjadi adalah terus-terusan menseksualisasi tubuh perempuan, maka kamu pun gagal mengendalikan kemanusiaanmu sendiri. Dan kalaupun kamu tertarik dengan seorang perempuan yang kamu lihat, kamu pun tak berhak menseksualisasinya, melecahkan, atau bahkan memperkosanya.




FYI: Kalau banyak istilah yang masih belum familiar, silahkan ditanyakan sama mbah Gugel atau orang sekitarmu yang sekiranya tahu ya! 


*Yang tidak pernah selesai menghitung bintang  di langit.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel