Mencoba Menikmati Jazz Versi Gelap lewat Bohren and Der Club of Gore


Mencoba Menikmati Jazz Versi Gelap lewat Bohren and Der Club of Gore
Sumber Gambar: Discogs.com
Penulis: Kusharditya Albi Hafiezal

Di tengah situasi saat ini, saya justru sering merasa kesal ketika mendengarkan musik. Pasalnya, ketika mendengarkan musik-musik yang saya dengarkan biasanya, saya justru merindukan masa-masa di mana virus Corona belum bertandang di belahan bumi mana pun. Sulit rasanya mendengarkan lagu-lagu yang menyenangkan, padahal situasi sedang tidak memungkinkan untuk bersenang-senang.


Alih-alih mendengarkan musik yang menyenangkan untuk mengatur stress, saya justru mencoba menempuh jalur ekstrem, yaitu mendengarkan musik yang gelap supaya cocok dengan situasi saat ini. Katakanlah saya butuh soundtrack buat menjalani hidup saya di saat ini. Supaya saya seolah-olah ada di film-film distopia.


Sebelum membahas hal-hal yang menyeramkan. Mungkin kita bahas hal-hal yang menyenangkan dulu. Misalnya ketika saya melihat film-film Woody Allen. Woody sering meletakan jazz sebagai elemen penting dalam tiap filmnya. Contohnya dalam film  Annie Hall, Manhattan, atau yang paling kentara di Cafe Society.


Woody, seolah-olah tidak bisa lepas dari jazz. Tentu musik jazz yang dipakainya adalah musik-musik yang menggembirakan. Musik yang glamor dan romantis. Soundtracknya mungkin lebih mengarah ke musik jazz seperti Ella Fitzgerald atau Louis Armstrong. Jika suasananya sedih, paling banter musik yang dipakai adalah musik seperti Chet Baker. Maka dari itu , jazz jadi semacam signature bagi Woody dalam tiap filmnya. Barangkali, karena selain dirinya seorang sutradara, ia juga seorang pemain klarinet di New Orleans jazz band. 


Formula jazz dan film tentu bukan barang baru lagi. Terbukti ketika menilik kembali era keemasan film noir. Tepatnya tahun 40 sampai 50an. Kita bisa melihat bagaimana jazz adalah pembawa suasana yang baik. Dalam film Elevator to The Gallows misalnya, Miles Davis mengisi score film dengan baik sekali, bahkan cukup remarkable menurut saya. Film noir sangat identik dengan cerita-cerita tentang kriminalitas, detektif, dan kisah cinta terlarang. Dan jazz dalam film noir hampir sama fungsinya dengan suara petir ataupun teriakan di film horror.


Ciri khas jazz dalam film noir bisa dilihat dari suara bass dan drum yang intens, memiliki suasana misterius dan memburu. Lengkingan trompet dan saxophone pun kadang tidak beraturan. Kadang mengiringi di tiap adegan tembak-tembakan, atau dalam adegan kejar-kejaran antara detektif dan penjahat.


Berbeda dengan jazz dalam film noir yang identik dengan suasana kriminal. Bohren and Der Club of Gore menyajikan suasana gelap seperti di film-film horor. Bohren adalah trio jazz yang berasal dari German. Yang ternyata, sebelum memutuskan untuk membuat musik di Bohren, seluruh personilnya justru (bekas) pernah membuat band Hardcore Punk bernama 7 Inch Boots. Maka dari itu, tidak heran kalau mereka membuat musik jazz, jadi musik yang cukup gelap.


Saya justru membayangkan, ketika ada orang yang ingin mendengarkan jazz dengan niatan untuk bersantai. Namun, secara tidak sengaja malah memilih Bohren di dalam katalog musik jazz, lalu bukan santai yang didapat, tapi malah jadi bergidik ngeri. Tentu hal itu tidak terjadi pada saya. Saya justru menikmati dengan apa yang disebut "dark jazz" ini.


Selain Bohren and Der Club of Gore, tentu banyak band-band serupa, yang memainkan jazz dalam mode gelap. Misalnya The Kilimanjaro Darkjazz Ensemble, Heroin and Your Veins, The Mount Fuji Doomjazz Corporation, dan masih banyak lainnya. Mungkin saya lebih suka Bohren karena masih terdengar akar-akar jazznya, sedangkan yang lain terlalu avant garde menurut saya.


Sejak tahun 1994 sampai sekarang, Bohren sudah menghasilkan setidaknya 9 album dan 1 album kompilasi. Ciri khas tiap albumnya pun terkadang berbeda-beda. Musik yang mereka sajikan bisa saja dalam bentuk gitar yang menyayat, seperti di album pertamanya, Gore Motel, ataupun keheningan dan kesepian dalam album Piano Nights. Tak jarang juga trompet dan saxophone hadir semacam tiupan sangkakala. Sangat banyak eksperimen yang dilakukan Bohren dalam mencipta musiknya. Saya sendiri lebih jatuh hati pada album Piano Nights.


Suasana gelap dan sepi tentunya tidak hanya saya dapat dari Bohren saja. Sebelumnya, saya pernah tercengang dengan suasana dunia pasca apokalips yang dibawakan oleh Godspeed You! Black Emperor. Sebuah band post-rock bernuansa gelap. GB!YE juga memainkan ambient dalam musiknya, bahkan ruang-ruang kosong, dengan hanya suara drone dalam musiknya terkadang malah membuat suasana semakin mencekam.


Bohren juga melakukan hal yang sama dalam musiknya, terutama dalam lagu "I'm Rauch". Selama 44 detik, lagu dibiarkan kosong dan hanya terdapat bunyi syntheizer yang menghasilkan noise. Piano bermain not demi not, jari pemain seakan-akan malas untuk memencet tuts. Terkadang hanya bunyi satu nada yang panjang diselingi suara saxophone. Seketika suasana kamar saya seperti berkabut dan dingin.


Permainan musik a la Bohren terletak pada suara bass yang tebal, drum, synthetizer, piano, saxophone, kadang gitar. Semuanya bergantian bermain, hanya menciptakan bunyi yang sedikit, keseluruhan suara didominasi oleh suara efek synth yang mencekam. Temponya pelan, namun instrumen yang bermain terkadang bisa keras dan mengagetkan. Dengar saja lagu "Bei Rosarotem Licht" dalam album Piano Nights.


Saya berpikir lagu-lagu Bohren sangat cocok menjadi score dalam film horor. Terlebih dengan adegan sepi di sudut jalan, dengan lampu jalan yang nyaris mampus, dan mahluk aneh yang tiba-tiba muncul.


Seandainya ada yang membuat film dari cerpen-cerpen Lovecraft. Mungkin suasana cosmic horror bisa diciptakan dari musik-musik Bohren. Jadi, silahkan bagi kalian yang ingin merasakan suasana horor dari musik jazz. Dan untuk kalian yang sedang bosan mendengarkan lagu itu-itu saja. Anggaplah mendengarkan Bohren and Der Club of Gore sebagai bentuk penerimaan hidup dalam situasi sekarang.



Seorang penggemar musik dan film, kadang-kadang terpaksa jadi jurnalis di LPM Rhetor. Bisa ditemui di instagram @sharkassthic_

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel