Memperingati Hari yang Mengandung Sebuah Harapan


Memperingati Hari yang Mengandung Sebuah Harapan
Sumber Foto: cuadernoderetazos.wordpress.com

Penulis: Vander Setia Nugraha*

Setelah memasuki dunia perkuliahan, saya pribadi sempat gamang dengan kondisi pendidikan yang sedang saya tempuh. Pasalnya, sebelum saya memutuskan berangkat ke tanah rantau, bayangan tentang indahnya hidup, bakal terwujud jika berhasil melewati fase pendidikan formal. Alih-alih ilusi impian indah itu terpenuhi, yang ada malah hancur berantakan sama sekali. Jangankan memkhayalkan angan-angan indah seperti sebelumnya, untuk bisa lolos dari jeratan pendidikan hari ini saja, saya merasa amat payah untuk melewatinya.

Ya, hal ini tidak lain tidak bukan karena saya menaruh harapan lebih kepada hal abstrak, yaitu pendidikan. Setelah sebelumnya saya sempat dijebak oleh ilusi keindahannya, pada akhirnya saya harus menanggung konsekuensi karena tergiur oleh rayuan tersebut. Ah, sempat terpikir, betapa bodoh dan lugunya saya sebagai orang manusia. Manusia yang selama ini terperangkap dalam tempurung. Manusia yang berusaha merubah takdir, melalui hal yang belum diketahui seluk-beluknya. Untuk mundur, rasanya sudah tidak mungkin.

Hal ini selanjutnya membuat saya pribadi terkadang setengah hati, untuk menjalani salah satu fase kehidupan yang sudah saya plih sebelumnya. Di samping tidak ingin mengecewakan orang tua, saya pun cuma berharap saya belum mati duluan sampai menyelesaikan kuliah saya. Tentu tidak ada jaminan soal itu. Akan tetapi tidak ada salahnya saya rasa untuk berharap. Entah hasilnya akan seperti apa, saya memilih untuk menikmatinya akhir-akhir ini. Karena sesungguhnya, tidak ada sama sekali yang perlu disesali.

Sama halnya dengan perjalanan panjang, ketika kita sudah memilihnya, imbasnya kita harus siap dengan segala yang bakal terjadi. Entah itu hal menyenangkan tapi merenggut prinsip, ataupun hal menyusahkan namun menempa lebih keras jati diri kita. Setidaknya, saya punya penilaian seperti itu untuk waktu sekarang ini. Walaupun nantinya boleh jadi berubah, saya memilih untuk menikmati hal tersebut. Sampai pada titik kejenuhan terendah saya. Ketika sudah jenuh pun, saya akan mencari cara agar saya tidak menyerah begitu saja. Itu pasti.

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia, sulit rasanya untuk memisahkan dengan nama Ki Hajar Dewantara. Selain jasanya dalam bidang pendidikan sangat terbukti, beliau adalah salah satu pelopor dalam mendidik bangsa ini menuju kehidupan yang lebih berkeadilan. Lewat gagasan-gagasan besarnya seperti cinta bangsa dan tanah air, Ki Hajar mengajarkan tentang betapa pentingnya rasa untuk memiliki. Tidak hanya itu, rasa memiliki ini juga tidak bisa berdasarkan sebuah paksaan. Karena rasa memiliki ini seharusnya lahir dengan kesadaran pribadi.

Jika kita ingin bandingkan apa yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara dengan kondisi sekarang, tentu akan sangat jauh berbeda bukan? Tidak hanya dari segi konsep semata, untuk tujuan yang seharunya dicapai pendidikan, tidaklah lagi berangkat dari rasa kepemilikan tadi. Mulai dari tingkatan yang paling bawah dari pendidikan formal, kita sudah diajarkan yang namanya persaingan. Kita terlalu disibukkan oleh yang namanya pencapaian prestasi. Dan hal itu kebanyakan lebih mengarah pada pencapaian pribadi.

Tidak berhenti sampai di sana, kita juga seolah-olah dibuat agar minim rasa kepekaan terhadap sekitar. Mulai dari tingkatan terbawah, yang kita tahu kalau kita pintar kita akan menjadi orang baik. Sayangnya jarang orang tahu, kepintaran tadi sebaiknya digunakan untuk hal apa. Apakah untuk kepentingan pribadi, ataukah untuk kepentingan yang lebih luas dari itu? Tentu jawaban dengan kondisi hari ini, pendidkan kita lebih cenderung pada yang pertama. Pertanyaanya, kenapa bisa begitu? Apakah pendidikan sudah melenceng dari harapan sebelumnya?

Pastinya hal tersebut tidak bisa kita jawab dengan mudah, dan dengan jawaban yang sangat sederhana. Selain amat berjalin-kelindannya dengan hal lain, pendidikan sudah menjadi sebuah investasi hari ini. Bilamana semakin tinggi menempuh pendidikan formal, maka akan semakin banyak pula investasi yang kita punya. Betul tidak? Pertanyaannya lagi, apa yang mesti kita perbuat dengan investasi yang kita punya tadi? Toh kalau mau dipakai untuk apa, paling banter kita hanya akan mendahulukan kepentingan pribadi bukan?

Lantas, kenapa sebenarnya kita masih terlalu memuja dan menghamba dengan yang namanya pendidikan? Mungkinkah ada yang mencoba menyalahi aturan sebagaimana yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara? Dan sebagai apa sebenarnya kita menjadikan pendidikan hari ini?

Haaahhh, terlalu ruwet ya. Tidak juga sih sebenarnya. Asalkan kita mau mencoba membaca pendidikan lewat berbagai sisi hari ini. Kira-kira, apa yang akan kita lakukan jika sudah ruwet begini? Memilih bertahan? Atau malah hilang perlahan? Tidak perlu terburu-buru menjawabnya, toh masih banyak waktu dan kesempatan lain kali. Yang terpenting, kita harus memperingati hari pendidikan dulu kan? Walaupun sebenarnya kita juga tidak paham apa yang seharusnya kita peringati.

Namun tak mengapa. Bukankah ikut bergembira karena kelahiran seseorang ke dunia ini menjadi hal yang wajar? Ya sudah tidak apa-apa. Mari kita lanjutkan saja. Untuk apa juga akhirnya kalau kita berpikir keras, tanpa pernah tahu sama sekali tujuan yang harus kita capai. Sebelum itu, memangnya kita selama ini masih punya harapan?

*Seseorang yang sedang berusaha keluar dari jebakan~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel