Memilih Jantungmu Sebagai Makam dan Puisi Lainnya


Memilih Jantungmu Sebagai Makam dan Puisi Lainnya
Sumber Foto: cuadernoderetazos.wordpress.com
Penulis: Daffa Randai
 
PENDAKIAN KE KUNLUN, 2

            : Hou Yi & Chang Er



harusnya kau cekal hasratku berburu

biar tanpa satai kijang, kelinci, dan puyuh,

ubi bisa direbus buat menipu perut.



kuwaspadai kau dari yang jahat,

seperti peng meng yang diam-diam berhasrat

merebut ramuan hsi wang mu di malam pekat.



api nyala di latar, kubimbing kau dalam pelukan.

“lihat, langit perlahan melahirkan bintang-bintang,

di detik ketujuh, terberkatilah kepulangan kita.”



2019




XIAO, AKU ADA DALAM SEMBUHMU

: Yang Feng & Xiao Hui



sejak pagi bertunas, telah kutunggalkan

keinginan yang suci pada kau seorang

pada nama yang sejak sehujan lalu

kutemui di laman kedai zhengzhou.



yang tampak jelas di mata, xiao, kau tahu

ialah serbuk bayang-bayang yang dipersekutukan waktu

menjelma rindu, rindu yatim yang tersesat di ujung

jalan pencarian menujumu, menuju letak nun jauh

di dasar rahasia, segala mauku bersarang dan berlindung.



sebelum kau lantun, angin yang kerap luput disentuh

mengalir tanpa denah, mengisahkan jalan sejarah

atas kegetiran di tubuh yang kau erami tanpa keluh

lantas kumenduka lagi meratap: “tabah kau dalam sakit

tangguh kau dalam baring, xiao. aku ada dalam sembuhmu.”



air mata menggurun, tersesat dan selesai sebelum jatuh

di pipiku, di cemasku, duka lebih dulu mengguyur:

menguyupkan rencana kudus untuk menjadikan kau

ujung atas pengembaraan cinta dalam hidup.



2019




MEMILIH JANTUNGMU SEBAGAI MAKAM

            : Meyzhian



kau berjalan ke utara dikawal dua singa

menuju pentas yang urung digelar sebab cuaca

mendansakan udara, membikin naga di atas istana

merasa tersindir oleh dewa yang dengan sayap sucinya

hinggap berulang di punggung waktu tanpa suara.



jejakmu disambut wangi dupa

disilakan rebah di pucuk ranjang

sejenak di dalam pejam, kau akan

dimandi-kembangkan bayanganmu sendiri

yang gelap dan penuh bercak kesedihan

sejak pangeran dalam kitab tidurmu

gugur dalam pertarungan.



di tengah kepul dupa, adakah kau tangkap wajah

serupa dewa sedang menabur senyuman

di atas ranjang pembaringanmu, meyzhian?

atau kau endus bau seanyir darah, persis mengucur

dari pedang lawan tarung pangeran pujaan

yang selepas gugur memilih jantungmu

sebagai makam?



2019




TIDUR, 2



sejenak, aku hendak melupakan

apa yang selalu kuingat sebagai petaka:

mencintai kau semata untuk mencecap

luka yang lebih perih, lebih parah

dari luka sebelumnya.



dengan tidur, ingatan sejenak sanggup

kututup untuk jeda yang lebih lama.

kau jadi tak mudah mengutuk aku

sebagai apapun yang tak kau inginkan.



jarak jelas memanjang, membelah dunia:

kau sebagai nyata, dan aku sebagai mimpi.

di dalam tidur, aku leluasa mengingat kau

sebagai masa lalu yang tak pernah selesai.



2019



SEANDAINYA



seandainya hanya dengan pelukan

kita bisa membahasakan segalanya

masihkah perlu kita rawat perdebatan

tentang siapa yang paling berdarah

ketika harus menanggung rindu

tanpa mengutuk perjumpaan?



seandainya kau sanggup mengerti

hanya di jantungmu aku akan berangkat

dan pulang untuk waktu yang lebih kekal

masihkah perlu kita rawat perdebatan

tentang benarkah kau ada

dari rusuk kiriku yang hilang

atau ada sekadar untuk dilupakan?



2019




KITA TAK LAGI MENGENAL BAHASA



kita tak lagi mengenal bahasa

perbincangan paling bising

yang kita kenal hanya ketika

mata kita sempurna saling mengejar



saling mendakwa dan bertanya:

 “adakah ujung dari penyesalan

sebab pernah saling melepas

tanpa berhasil saling melupakan?”



2019





 
Lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Alumnus mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Presiden komunitas Pura-Pura Penyair. Buku tunggal perdana: Rumah Kecil di Kepalamu (Purata Publishing, 2018). Beberapa puisinya terbit di buku antologi bersama, media cetak dan online. E-mail: randaidaffa22@gmail.com, Instagram: @randaidaffa96,

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel