Melihat Sisi Lain Seorang Musisi lewat Ulasan Musiknya


Melihat Sisi Lain Seorang Musisi lewat Ulasan Musiknya

Penulis: Kusharditya Albi Hafiezal

Identitas Buku

Judul: Flip Da Skrip: Kumpulan Catatan RAP Nerd Selama Satu Dekade

Penulis: Herry Sutresna

Penerbit: Elevation Books

Tahun: 2018

Bahasa: Indonesia

Halaman: 240+ sisipan

Mungkin semua sepakat, bahwa mendengarkan musik sudah tak sama lagi hari ini. Banjir informasi di internet, tentunya sudah include dengan informasi soal musik. Hampir tiap hari saya melihat rilisan terbaru di platform digital, entah Spotify, Bandcamp, atau YouTube kalau mau lebih masif lagi. Saya cukup sepakat dengan Taufiq Rahman, jurnalis musik, dalam wawancaranya bersama Tirto.id. Menurutnya “kita sekarang bergantung dengan algoritma dalam menentukan suatu informasi, termasuk dalam hal mendengarkan musik.

Sekitar dua atau tiga tahun ke belakang, awal-awal Alvvays dan Boy Pablo populer dengan genre dream pop (yang sudah tentu bukan barang baru), ujug-ujug banyak bermunculan band-band baru dengan genre serupa. Sebenarnya tidak muncul bersamaan, tapi mungkin algoritma saya mendadak penuh dengan band-band serupa. Mulai dari Sunset Rollercoaster, Mellow Fellow, sampai Cuco.

Saya sendiri sampai bingung mendengarnya. Fungsi analisis yang dimiliki manusia, memang tidak bisa digantikan dengan algoritma. Dalam artian lain, kalau mau mencari musik yang bagus dan tidak melulu itu-itu saja, ya solusinya harus menggali sendiri.

Buku kedua yang ditulis Herry Sutresna ini, saya pikir arahnya sama dengan apa yang dilakukan jurnalis musik. Meskipun mungkin ini hanya catatan personal, tapi buku ini sangat membantu meringankan proses penggalian musik hiphop bagi saya. Herry menulis rilisan hiphop terbaik menurutnya, mulai dari tahun 2007-2017. Maka tidak berlebihan kalau Herry menyebut dirinya RAP Nerd.

Selain memberi ulasan, ia bahkan tahu, album jelek mana saja yang pernah dikeluarkan alumni Wu-Tang Clan, atau album mana yang jelek dari Public Enemy. Sebelumnya saya pikir musisi bagus akan selamanya bagus, saya sempat enjoy saja ketika mendengar album-album terakhir Public Enemy, sampai sadar ternyata Public Enemy tak pernah sama dengan yang dulu. Itu semua sebab tulisan Herry Sutresna, die hard fans Public Enemy sendiri.

Herry Sutresna (Ucok) adalah penulis, orang-orang mengenalnya sebagai Morgue Vanguard lewat projek hiphopnya Homicide. Lalu sampai hari ini masih aktif di depan microphone dengan Bars of Death. Bagi saya, adalah dua hal yang berbeda ketika membicarakan antara Herry Sutresna atau Morgue Vanguard. Karena Herry Sutresna adalah penulis, dan Morgue Vanguard adalah musisi. 

Tidak banyak musisi yang menulis tentang musik. Dan sebagai musisi yang juga menulis musik, Herry Sutresna melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Roberto Bolano, atau Eka Kurniawan dalam dunia sastra. Bolano, membuat esai dan tulisan menganai penulis-penulis yang ia baca. Begitu pula Eka, ia rutin membuat jurnal mengenai bacaan-bacaannya.

Selain penulis, mereka pembaca yang baik. Begitu pula halnya dengan Herry Sutresna. Selain seorang musisi, dia adalah pendengar musik yang baik. Dan catatan-catatan yang dibuat Herry, cukup membuktikan ia lebih dari pada pendengar hiphop. Jadi tidak heran jika saya masih mendengar projek hiphopnya, sejak Homicide sampai sekarang. Hal tersebut menjadi semacam bukti, bahwa modal referensi juga berpengaruh dalam sebuah karya. 

Saya cukup membaca tulisan Herry sejak buku pertamanya, Setelah Boombox Usai Menyalak (2016), yang merupakan kumpulan tulisan dari website pribadinya Gutterspit.com. Herry konsisten menulis ulasan dan esai soal musik. Ia adalah orang yang membuat saya mengutuki 20 tahun umur saya, karena baru mengenal Company Flow dan GY!BE.

Tulisan di dalam buku ini, adalah catatan-catatan penulis mengenai album hiphop favoritnya tiap tahun dalam satu dekade. Saya justru lebih menyukai esai-esai impresif Herry mengenai musik yang ia dengar, seperti buku sebelumnya. Menurut saya, buku ini lebih serupa tour guide daripada bacaan. Karena tidak cukup hanya selesai membaca tulisan-tulisan di buku ini.

Terkadang, pembaca juga diajak ikut mendengarkan album-album yang ditulis. Untuk saya pribadi, cukup lama untuk mencoba merampungkan buku ini. Saya bahkan sempat mengantungi beberapa nama dan album untuk saya dengar sendiri. Dalam satu bab saja, bisa terdapat 10-20 ulasan. Beruntung terdapat esai di sela-sela bab, sebagai jeda bagi pembaca setelah membaca katalog ulasan. 

Agak telat sebenarnya untuk membicarakan buku ini. Sejak saya hadir dalam perilisan buku ini di Jogja, saya belum bisa juga membaca buku ini. Hingga salah satu kawan berbaik hati meminjamkannya. Saya ingat pada saat perilisan buku ini, seorang audiens bertanya kenapa buku ini hanya mengulas rilisan hiphop dari luar negeri? Herry Sutresna hanya berkelakar, jika ia takut akan memilih albumnya sendiri untuk masuk ke katalog rilisan hiphop lokal terbaik. 

Buku ini sangat cocok bagi kalian yang mengaku sebagai Hiphop Head, atau RAP Nerd jika kalian ingin mengalahkan Herry Sutresna. Seperti yang dikatakan penulis pada pengantarnya, alangkah lebih baik jika terdapat indeks dan glosarium mengenai istilah-istilah hiphop. Menurut saya, buku ini nyaris untuk bisa dikatakan buku babon tentang hiphop. Lebih dari itu, Herry Sutresna cukup membuktikan, bahwa musik tidak melulu hanya didengarkan lalu hilang setelahnya. Musik juga perlu ditulis, sebagai bentuk apresiasi dari para pendengarnya.


Seorang penggemar musik dan film, kadang-kadang terpakda jadi jurnalis di LPM Rhetor. Bisa ditemui di instagram @kush_albi

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel