Masjid Sultan Muhammad Salahuddin; Simbol Kekuasaan dan Religiositas



Masjid Sultan Muhammad Salahuddin; Simbol Kekuasaan dan Religiositas

Penulis: Hilful Fudhul


Dibangun pertama kali pada tahun 1770 M oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, dan oleh putranya Sultan Abdul Hamid, direnovasi atas menjadi bersusun tiga, mirip bentuk masjid-masjid kuno di pulau Jawa. Masjid memang menjadi bangunan penting dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Kemegahaan masjid, merupakan tanpa kejayaan Islam di masa kesultanan.


Masjid, selanjutnya menjelma sebagai pusat dakwah para penyebar agama Islam. Ketika Islam mulai diterima oleh masyarakat luas, dan diakui serta dianut pula oleh penguasa, masjid menjadi pusat peradaban sebuah daerah. Pusat kegiatan keagamaan pun berada di masjid. Dimulai dari melantunkan ayat suci Al-Qur’an, kultum, serta bermusyawarah. Bahkan, sekadar membincangkan berbagai persoalan umat, juga tidak akan jauh-jauh dari masjid.


Mungkin, hal ini pula yang membuat sebagian masyarakat di Indonesia, tetap berjamaah di masjid. Serta tetap mengadakan berbagai kegiatan. Meskipun oleh pemerintah, sementara waktu diminta untuk beribadah di rumah. Mengingat, dunia sedang menghadapi Pandemi Covid-19.


Bima pada abad ke 15-16 M, menjadi salah satu daerah di Indonesia Timur, yang tergolong sebagai daerah pusat penyebaran Islam. Masyarakat dan para penguasa Bima, memeluk agama Islam yang dibawa oleh para Dato’ dari Melayu. Kemudian, peradaban Islam berdiri di tanah Bima, yang terbukti salah satunya dengan berdirinya Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.


Masjid Sultan Muhammad Salahuddin ini terletak di pusat kota Bima. Satu kompleks dengan Istana Bima sebagai pusat kekuasaan dan juga dengan alun-alun Serasuba, yang dimaknai sebagai tempat berkumpulnya masyarakat Bima. Atau tempat di mana para prajurit untuk menerima titah dari sang Sultan. Desain kota seperti ini, juga bisa kita jumpai di daerah-daerah lain di pulau Jawa. Di mana pusat kekuasaan, alun-alun dan masjid bersejarah, berada dalam satu kompleks.


Di dalam area masjid terdapat makam para pentinggi dari kesultanan, termasuk makam Sultan Abdul yang mendirikan masjid tersebut. Nama masjid menjadi Sultan Muhammad Salahuddin, adalah hasil dari perubahan yang dilakukan oleh keturunannya, yaitu Siti Maryam, yang juga menginisiasi adanya renovasi masjid yang rusak akibat para penjajah pada saat itu.


Memang masjid adalah bangunan penting dalam peradaban Islam yang kita kenal di Indonesia. Selain masjid, juga terdapat situs sejarah lainnya seperti makam keramat, bangunan istana kesultanan, dan masih banyak lagi.


Sebagaimana masjid-masjid kuno pada umumnya, masjid Sultan Muhammad Salahuddin ini, adalah khas bangunan masjid di Indonesia yang bisa kita lihat di daerah lain. Atap utama masjid berbentuk lonjong tanpa kubah, adalah satu dari sekian ciri yang bisa kita kenali, bahwa bangunan masjid dalam sejarah Islam di Indonesia, memanglah seperti itu pada umumnya.


Pendirian masjid ini merupakan simbol kekuasaan Islam yang tertancap kuat di tanah Bima. Hingga saat ini, Islam menjadi agama mayoritas penduduk Bima serta daerah-daerah kekuasaan kesultanan dahulu di sebagian daerah di Nusa Tenggara Timur, seperti pulau Komodo, Ende, Manggarai dan lain-lain.





Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel