Masjid Ki Merogan; Tempat Persilangan Budaya



Masjid Ki Merogan; Tempat Persilangan Budaya
Sumber Foto: assajidin.com
Dari beberapa masjid bersejarah yang ada di Palembang, salah satunya ialah masjid Ki Merogan. Masjid ini termasuk salah satu masjid tertua yang ada di Palembang, dan masih bertahan hingga sekarang. Masjid ini dibangun pada saat pemerintahan Sultan Mahmud Badarudin II. Dibangun oleh Masagus Haji Abdul Hamid (1811-1901), atau yang lebih akrab dikenal sebagai Kiai Merogan, seorang ulama dan pengusaha sukses pada tahun 1871.


Masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun di Palembang, setelah adanya masjid Agung. Hampi mirip dengan masjid Agung, masjid Ki Merogan ini adalah masjid yang lahir karena terdapat perpaduan budaya di dalamnya. Namun bedanya dengan masjid Agung Palembang, masjid Ki Merogan tidak memiliki unsur khas ciri penanda bangunan Nusantara. Bisa dibilang, masjid ini sedikit terpengaruh oleh budaya yang dibawa oleh orang-orang India yang ada di Palembang waktu itu.


Masjid ini memiliki prasasti yang menjadi penanda, bahwa pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, masjid ini punya peran yang signifikan. Terletak di tepian Sungai Ogan, kecamatan Kertapati, menjadikan masjid ini tidak masuk dalam wilayah pusat pemerintahan waktu itu. Oleh karena itu pula, di wilayah ini dulunya banyak dihuni oleh orang-orang Tionghoa. Orang Tionghoa pada waktu itu, banyak menimba ilmu keagamaan dari Kiai Merogan. Bahkan tidak hanya orang Tionghoa saja, orang Arab dan India yang beragama Islam pun turut serta pada waktu itu.


Sebagaimana masjid bersejarah pada umumnya, dahulu juga banyak terdapat kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial yang diselenggarakan di masjid ini. Oleh karena itu, masjid ini lantas dijuluki sebagai tempat perpaduan budaya yang ada di sana. Selain menjadi tempat persilangan budaya, masjid ini dikisahkan menjadi tempat yang nyaman digunakan untuk istirahat oleh para perantauan pada waktu itu. Banyak para perantau yang belum punya tempat menginap, lantas lebih memilih istirahat di masjid ini.


Masjid ini juga menjadi saksi perjalanan Kesultanan yang ada di Palembang. Selain itu, masjid ini juga menjadi penanda kultur yang ada di Palembang, sudah sangat pesat mengalami kemajuan. Dibuktikan dengan beragamnya budaya yang bisa saling berdampingan di sana. Bahkan, hingga hari ini, hal itu bisa kita jumpai dari banyaknya peziarah yang mendatangi makam Kiai Merogan. Lantaran karena beliau adalah ulama besar yang mampu menyatukan berbagai budaya yang ada di sana pada waktu itu.


Pengaruh dan harumnya nama masjid ini di kalangan pendatang dan penduduk asli di sana, tidak terlepas juga karena kharisma yang dimiliki oleh Kiai Merogan. Selain pengusaha sukses, beliau selalu menganjurkan orang-orang yang berguru kepadanya untuk selalu rutin membaca dzikir. Saking terkenalnya, ketika di perjalanaan akan melintasi daerah, Kiai Merogan selalu mengajak rombongannya untuk berdzikir. Oleh karena itu pula, orang yang mendengar akan langsung paham, bahwa Kiai Merogan dan rombongannya akan lewat.


Secara tidak langsung, masjid ini menjadi bukti peninggalan Islam yang ada di Palembang. Daya tarik masjid ini, salah satunya karena terdapat makam Kiai Merogan di sana. Peziarah yang datang pun tidak hanya dari Indonesia saja, bahkan banyak juga peziarah mancanegara yang sengaja mendatangi makam Kiai Merogan ini.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel