Laki-laki Bara Api dan Sehimpun Puisi Lainnya


Laki-laki Bara Api dan Sehimpun Puisi Lainnya
Sumber Foto: cuadernoderetazos.wordpress.com
Penulis: Wahyu Widiyawati

DIKAU


DIKAU ialah sepucuk surat Tuhan yang berisikan permenungan

penggambaran warna dan garis kehidupan

yang membentuk lukisan peradaban

euforia pelucutan keduniawian

menuju keabadian



DIKAU ialah sumber nyala bagi jiwa yang hampa

pengisi kedamaian yang beraroma surga

yang tiada pernah asing lagi hina

sekalipun diasingkan para pendosa;

seperti aku, misalnya



Kulonprogo, Oktober 2018





Hiduplah Sendiri



Sepasang mata hanya mampu tertunduk hina

Ketika pasang mata lain menatap dengan angkuhnya



Sepasang telinga hanya mampu menuli

Ketika suara-suara meluncur tanpa spasi



Sepasang bibir hanya mampu bergeming

Ketika telinga selalu melempar sudut pandang asing



Kau terlalu tinggi

Tak sudi terciprati

Maka, hiduplah sendiri



Kulonprogo, Juli 2019






Laki-laki Bara Api



Seorang laki-laki berjalan di atas bara api

keyakinan yang kuat ialah bekalnya setiap hari

terbakar ialah resiko yang dialami

tapi jauh sebelum itu sudah ia pahami

maka langkah yang ia ayunkan hari ini

ialah ketetapan yang tak akan tervonis mati



Seorang laki-laki berjalan di atas bara api

ia merelakan hatinya tercabik sepi

kepala berasap ia pun tak peduli

istri berujar; kembali

anak merengek; ayah tetaplah di sini

kawan berteriak; api lagi



Menjadi seperti air pasti menenteramkan

menjernihkan pikiran

memadamkan kegelisahan

tenang menepis kegamangan

lalu roboh seutuhnya pada Tuhan

yang akan mengatasi segala kekalutan



Kulonprogo, Agustus 2019






Saat Sendirian



Aku terjebak dalam lubang kesunyian

Terseret arus zaman

Yang meniadakan keadilan



Yogyakarta, Juni 2019






Datang Memberi-Pergi Melukai



Tiap-tiap yang datang memberi

Tiap-tiap yang pergi melukai

Tiap-tiap kau punya cara sendiri memberi dan melukai



Semua orang saling mencintai

Sekaligus semua orang saling melukai

Berhentilah histeris

Seolah hidupmu paling tragis

Baca dan pandang kejadian dari sudut pandang manis

Maka biarlah patah terjadi

Sebab kau akan mampu bangkit lagi



Tuhan memang sengaja demikian

supaya kau punya kenangan

supaya kau punya pelajaran

untuk dibagikan

dan kau mampu memberi ucapan;

Tenang, kau tak sendirian



Kulon Progo, Januari 2020






Kita Telah Dihasut Maya



Ruang bercanda kita dihasut maya

Gelak tawa yang riuh

Luruh.

Emoji kian bergemuruh



Degub jantung kita mengalirkan prasangka

Jemari menghasilkan retorika

Semua bergaya dusta

Dalam balutan canda

Kata dan nada tak lagi seirama

Kita terbuai masa

Tertipu layar sua

Lupa berkarya

Apalagi senyum pada sesama



Pengasih, Februari 2020








 
Perempuan ini bernama pena Wahyu We, lahir di bulan Desember 1995. Bertempat tinggal di Yogyakarta. Alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobinya ialah membaca, menulis, dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan seni seperti misalnya desain grafis, tarik suara, dan seni mencintainya dalam imaji. Beberapa karyanya pernah tak sengaja lari dari dokumen menuju web pura-pura penyair, tembi.net, kabapesisir, dan floressastra. Puisinya juga kadang kabur memilih tergabung dalam antologi puisi Sumpah, Serapah, Sripah (2019, Reybook Media), Membaca Hujan di Bulan Purnama (2019, Sastra Tembi.net), dan antologi cermin Growing Memories (2019, Ellunar Publisher). Segala yang tersaji merupakan kejadian yang baru saja ataupun telah lama berlalu. Kemudian endap dan menjadi memoar; untuk dilupakan atau dikenang. Apabila ingin bercakap dengannya bisa terhubung ke wahyuwe30@gmail.com. Facebook Wahyu Widiyawati.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel