Kopi, Kolonialisme, dan Sejarah Kelam di Baliknya

Kopi, Kolonialisme, dan Sejarah Kelam di Baliknya
Sumber Foto: picuki.com
Identitas Buku

JudulBabad Kopi Parahyangan

PenulisEvi Sri Rezeki

PenerbitMarjin Kiri

CetakanFebruari, 2020

Tebali-x+348


Pahitnya kopi ketika diseruput terasa begitu lekat di lidah, bahkan tidak jarang sampai memenuhi hingga ke rongga mulut. Kesan yang cukup menarik tersebut, menjadi salah satu alasan kuat untuk selalu menghadirkan secangkir kopi disela-sela padatnya kegiatan, ataupun saat bersantai. Lalu bagaimana kiranya mereka yang tidak suka dengan pahit? Bukankah masih ada persediaan gula di dalam toples di rumahmu? Maka gunakalah gula itu untuk menemani pahitnya kopi tadi.

Anak kecil gak boleh minum kopi. Begitulah ucapan dari seorang ibu melarang anaknya meminum kopi. Itu pula yang saya alami ketika hendak meminum kopi Bapak, saat Bapak sedang asik ngobrol bersama temannya. Karena kopi yang pahit, terkadang membuat bapak susah untuk tidur, dan itu menjadi salah satu alasan kenapa saya tidak boleh ikut menikmati kopi.

Mulai dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, hingga Jepang, mereka hadir di tanah Nusantara dengan tujuan untuk mencari rempah-rempah. Tampaknya itu saja tidak cukup memuaskan, ketika mereka melihat tanah Nusantara dengan beraneka ragam tumbuhan dan keuntungannya. Silih berganti mereka menyerap dengan membabi buta, mempekerjakan rakyat dengan tidak manusiawi, semata-mata hanya untuk terus menambah keuntungan.

Begitu pun dengan kopi, menajdi salah satu tujuan negara-negara dari benua Eropa  hadir di tanah Nusantara. Dengan daya tarik yang luar biasa itu, menjadikan nasib kopi seperti halnya dengan yang terjadi pada tanaman-tanaman lain, yang juga menarik perhatian orang-orang dari Eropa. Nampaknya, tanaman kopi juga mempunyai peranan yang tidak kecil, sehingga adanya kolonialisme yang terjadi di Nusantara.

Evi Sri Rezeki dalam bukunya Babad Kopi Parahyangan, coba menunjukkan pada kita bagaimana sejarah panjang kopi di negeri ini. Melalui penelitiannya selama enam tahun belakangan mengenai kopi, kita diajak untuk melangkah jauh ke belakang, melihat bagaimana sejarah perjuangan panjang kopi yang bisa kita nikmati saat ini. Evi menaruh tugas kepada tokoh yang ada di dalam novelnya, agar kita paham bahwa cerita yang terkandung dalam secangkir kopi, bukanlah hal remeh-temeh. Sebagaimana yang digambarkan dan terwakili oleh tokoh Karim dalam buku tersebut.

Karim, sebagai seorang yang berkeinginan menjadi Bandar kopi, membulatkan tekad merantau ke tanah Parahyangan. Keinginannya diperkuat ketika Karim bertemu dengan pelaut di pelabuhan. Sang pelaut memulai ceritanya; bahwa ia telah berkeliling mencicipi berbagai kopi. Berbagai Benua telah ia jelajahi, berbagai kopi pun telah ia rasakan. Namun Si Emas dari Jawa lah yang lebih nikmat, terlebih harganya pun lebih mahal dibandingkan dengan kopi yang lain. Secangkir Jawa, begitulah mereka menyebutnya.

Cerita-cerita mengenai kopi terus ia gali dari Sang Pelaut. Mulai dari saat pertama kali bertemu dan bercengkerama, sampai dengan perpisahannya dengan Sang Pelaut. Bukan karena semata-mata keingintahuannya saja. Itu semua ia yakini sebagai pengetahuan dasar yang harus dimiliki, dan sebagai bekal wajib seorang Bandar kopi.
Musim kikir memanggil para petani, mengubur nyawa di bawah rumpun kopi (halaman 135).

Tepat pada saat musim kikir Karim tiba di tanah Parahyangan. Musim di mana perkebunan kopi membutuhkan sebanyak-banyaknya pekerja. Sehingga dengan mudah saja Karim dapat diterima bekerja di perkebunan kopi. Langkah awal mimpi sebagai Bandar kopi pun bermula dari perkebunan tersebut.

Kondisi perkebunan yang tidak menunjang para pekerja, membuat betapa sulitnya pekerja mendapat tempat ataupun makanan yang layak, dengan jam kerja lewat batas. Untuk meminum kopi pun menjadi hal yang dilarang bagi pribumi. Hal ini bisa kita temui pada tokoh Ujang yang meminum kopi dengan sembunyi-sembunyi.

Siapa sangka, kopi luwak yang saat ini secangkirnya dibandrol dengan harga ratusan ribu, ternyata lahir dari sebuah keterbatasan. Keterbatasan yang muncul persis ketika masyarakat dilarang meminum kopi. Ya, kopi yang Ujang minum itu adalah kopi dari kotoran luwak.

Ketika manusia telah mencapai puncak, ia melihat puncak yang lain. Ingin meraihnya dengan berbagai cara. Senyatanya patutlah kita bertanya, di manakah puncak sesungguhnya? (halaman 37).

Kondisi perkebunan kopi yang seperti itu pada akhirnya membuat Karim tidak habis pikir. Dengan keadaan para pekerja yang serba kekurangan, alih-alih akan mendapat panen yang besar, malah justru membuat panen kopi tersebut merosot.

Pernah terbesit dalam benak Karim untuk membuka lahan, agar kebutuhan pangan para pekerja minimal mencukupi kehidupan sehari-hari. Akan tetapi hal itu tidak memungkinkan. Melihat pengawasan yang ketat dan hukuman yang akan didapat.

Dengan berbagai alternatif, Karim memulai perlawanan di perkebunan kopi. Karim dibantu oleh Euis, kang Asep dan Ateng. Melalui barter antara kopi dan beras atau kebutuhan pokok lainnya, Karim berharap dapat untuk sedikit memenuhi kebutuhan pangan para pekerja.

Kopi hasil dari barter dengan para petani tersebut, kemudian dijual Karim secara illegal kepada babah Liong, keturunan Tionghoa yang berada di pusat kota. Hal itu dilakukan Karim dengan susah payah, meskipun ia memakai gerobak yang ditarik dengan kerbau. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih sepekan, membuat pekerjaan menyetor kopi menjadi pekerjaan yang paling sulit di antara pekerjaan lain di perkebunan. Karena bukan hanya tenaga dan waktu yang dipertaruhkan, namun juga nyawa sebagai jaminan keberhasilan.

Akhirnya, ketika sudah selesai membaca buku ini, membuat saya di kala sedang menikmati kopi dengan rasa pahit-manisnya teringat sesuatu. Teringat akan sebuah ingatan yang kembali melekat jauh ke belakang. Mulai dari bagaimana para petani kopi ketika menjalani hidupnya, dengan pahit-manis yang tiada henti dan silih berganti . Terbayang dengan kerja keras tanpa mengenal waktu, kehidupan yang tidak selayaknya hidup. Ah, kopi memang memiliki sejarah kelam bagi para petaninya. Oleh karena itu pula saya rasa kita sepatutnya bersyukur, masih bisa menikmati kopi hingga sekarang.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel