Keukeu (1)


       
Keukeu (1)
pinterest.com

  Keukeu bergoyang-goyang mengikuti irama musik dangdut yang mengalun, sesekali pantat bohaynya dengan nakal menampol muka lelaki-lelaki yang meyembah-nyembah goyangan yahudnya itu. Keukeu memang sudah ditunggu-tunggu sedari ba'da maghrib, sudah tentu oleh para lelaki yang memujanya, tepatnya memuja paras cantik dan tubuhnya yang buahenol. Kehadiran keukeu di atas panggung selalu ditunggu oleh hampir semua lelaki di kampungnya. Keukeu si kembang desa, kecantikannya tiada tara, bahkan diantara artis-artis panggung lainnya ia tetap tak terkalahkan. Alias paling debes

***

  "Digoyang lagi atuh neng..." pinta salah seorang penonton sesaat setelah musik berhenti beberapa menit, dan Keukeu nampak kelelahan dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya. Itu tentu saja tak dipedulikan para penontonnya, justru dalam keadaan seperti itulah mereka dapat melihat kecantikan Keukeu; tubuh lunglai dan keringat mengucur, di mana Keukeu semakin terlihat menggoda. Giliran artis yang lain bernyanyi menunjukan kemampuan suara dan goyangannya. Giliran Keukeu untuk duduk beristirahat.

  Namun, tidak begitu dengan penonton yang kadung dimabuk Keukeu, dan sialnya hampir semua penonton kepengin hal yang sama. Mereka meneriaki si artis "turun bangsat! Kami mau Keukeu nyanyi lagi, goyang lagi. Bukan kamu, goyanganmu payah,  gak sebagus Keukeu" suara protes terhadap si artis semakin keras dan banyak, itu lumayan membuatnya bingung dan kikuk untuk bertahan di atas panggung, hingga ia merasa jengkel lalu membanting mik ke arah penonton. Dengan muka setengah kesal ia ngeloyor seraya menatap jengkel Keukeu. Keukeu jelas tahu apa yang mesti ia lakukan. Meski badannya belum cukup energi untuk menggoyang kembali penonton. Namun dengan sepenuh hati dan suara yang mulai agak parau ia mulai menggeol. "Musik... Yuk.. geol-geol deui!

  Para penonton kembali riang gembira, bergoyang seperti merayakan kemenangan besar. Bahkan, saking senangnya, ada dari mereka naik ke atas panggung menghampiri Keukeu, berusaha mengimbagi goyangan liar Keukeu serta menyawernya dengan pecahan seratus ribuan.

  "Neng Keukeu sok atuh mana goyang gijag-gijugnya" mendengar permintaan salah seorang penonton setianya, Keukeu tak kuasa menolak, ia tersenyum ke arah si penonton lalu mengoyang-goyang pinggulnya; patah-patah ke arah depan-belakang, setelah didapatnya sekitar sepuluh patahan konsisten depan-belakang, ia tambah variasi patahan kanan-kiri. Kedua tangannya menekuk, posisi mendayung, dan terjadilah kombinasi goyangan ala Keukeu, yang oleh penontonnya dinamai "goyang gijag-gijug".

  “Eh, itu goyang pamungkasnya? Goyang gijag-gijug yang mashur sekampung itu?”  Tanya seorang penonton yang nampaknya baru pertama kali menonton konser Keukeu kepada teman di sebelahnya, yang tak pernah ketinggalan konser tour Keukeu. "Hooh.. mantap, kan?" Jawabnya singkat sambil menikmati musik "Edan.. goyangannya teh brutal pisan, bikin betah lama-lama ninggalin istri.

***

  Waktu hampir shubuh dan penonton masih bersemangat menyaksikan Keukeu bernyanyi. Tapi grup musik dimana Keukeu termasuk di dalamnya, dibayar sampai jam setengah empat, di sisi lain kru dan artis-artisnya pun sudah sangat kelelahan. Para penonton yang sebetulnya belum puas mulai berbondong-bondong pulang ke rumah masing-masing, tentu dengan hati setengah kecewa. Namun, dengan membawa harapan; esok atau lusa pasti kembali lagi

***

  Kian hari nama Keukeu semakin jadi buah perbincangan di tiap mulut warga kampung, dari mulut para lelaki tentu pujian keluar seolah bahasan dunia ini hanyalah Keukeu. Di Sawah, di Pasar, di Kantor Desa, dan bahkan di Serambi Masjid mereka membicarakan Keukeu. Akan tetapi, ini jelas berbeda dengan apa yang keluar dari mulut ibu-ibu, mereka mulai mengkhawatirkan suami-suami mereka atau anak-anak mereka yang bujangan, semuanya gila Keukeu. Teruntuk perempuan mereka resah sekaligus merasa kalau mereka harus mulai menyelamatkan lelaki-lelaki mereka.

  Jadi, sekali waktu, mereka sepakat untuk berkumpul di rumah Bu RT, mengadukannya, dan mencari jalan keluar atas kegilaan suami-suami mereka.

  "Keukeu tak boleh lagi ada di kampung ini. Setuju Ibu-ibu!?" Seru salah seorang perempuan yang mendadak vokal setelah tau suaminya menyebut-nyebut nama Keukeu di setiap tidur malamnya.

  "Satuju pisan..!" Jawab kompak ibu-ibu dalam kesempatan itu.

  "Eh.. Tunggu dulu jangan langsung diusir atuh. Ibu-ibu sadayana bagaimana pun kita mesti inget, Neng Keukeu itu bagian dari warga kampung sini. Dia juga dulunya peremuan baik-baik" Ujar Bu Rt berusaha menengahi ketegangan antara ibu-ibu.

  Perkataan Bu Rt membuat ibu-ibu kembali memikirkan ulang kesepakatan mereka. Mereka mulai mengingat-ingat ke belakang, masa lalu Keukeu, dan keluarganya.

***

  Mereka tinggal di kampung Bojong Jero, di sebuah rumah kecil sederhana dengan kondisi jauh dari berkecukupan. Bah Ikin dan Nyi Dewi, dan anak mereka baru berusia empat belas tahun, Keukeu. Bah Ikin cukup dikenal di kampung Bojong Jero sebagai tukang parkir di gerbang TOL Cikampek, atau mereka lebih mengenalnya sebagai preman daerah itu. Ia biasa menarik uang dari supir angkot dan pedagang kaki lima sepanjang jembatan sebelum gerbang TOL, dalilnya tentu saja "keamanan." Sedang, para tukang angkot dan pedagang kaki lima punya istilah lain untuk menyebut uang keamanan itu "Japren" (Jatah Preman).
Mereka cukup tahu Bah Ikin dan kawan-kawannya juga dibekingi oleh polisi-polisi yang juga sama-sama mata duitan. Menurut Polisi-polisi di situ, ya mau bagaimana lagi premanisme sulit untuk dibasmi, mending cari aman. Ibarat pepatah lama "patah satu tumbuh seribu".

  Sedang Nyi Dewi, dulunya, sebelum menikah dengan Bah Ikin, ia dikenal sebagai perempuan biasa sebagaimana mestinya orang-orang di kampungnya: berladang, sekolah hingga lulus SD, dan menikah kala dianggap sudah aqil baligh. Hidup yang singkat. Setidaknya itulah pase normal perempuan di kampungya. Namun, lima tahun setelah menikah dengan Bah Ikin, Nyi Dewi tidak lagi menjalani hidup seperti perempuan di kampungnya, yang bila sudah berkeluarga dan mempunyai anak hanya tinggal menunggu mati. Dalam arti lain karena memang tak ada yang dilakukan selain hidup berkalang lelaki.

  Ini tidak terjadi pada Nyi Dewi, ia memilih jalan lain sebagai istri, sebagai ibu, sebagai seorang perempuan. Menjadi Penyanyi, hal yang tak lazim dilakukan perempuan di kampungya, bahkan mungkin baru ia yang pertamakali menggelutinya.

  Tentu Nyi Dewi menjadi penyanyi dengan sepengetahuan Bah Ikin, suaminya. Bahkan, Bah Ikin sendiri yang menawari Nyi Dewi profesi itu. Melalui Temannya semasa muda dulu, yang ternyata punya grup musik keliling, Bah Ikin memperkenalkan Nyi Dewi. Setelah dirasa adanya kecocokan, Nyi Dewi diharuskan melewati tes. Tesnya, ya cuma tes suara dan tes goyangan. Tidak ada syarat lainnya. Oh terkecuali pakaian, yang memang siapapun tau, termasuk Bah Ikin dan Nyi Dewi: pakaiannya mesti rada ketat.

  Sejak saat itu Nyi Dewi rutin bepergian ke luar kota. Namanya mulai dikenal di berbagai kota. Dan tentu saja ia jadi bahan perbincangan orang-orang di kampungnya: "tuh si Dewi sekarang dia sering pulang shubuh. Selain nyanyi pasti dia ngejablay." Tapi sekalipun pandangan buruk bermunculan dari orang-orang di sekitarnya, itu samasekali tidak membikin Nyi Dewi patah semangat. Sebab, ia mendapat dukungan dan kepercayaan penuh dari Bah Ikin, Suaminya. Bilamana Nyi Dewi kepikiran omongan tetangga, yang tak jarang membuatnya melamun sendiri di beranda rumah, di situlah Bah Ikin hadir membangunkan semangatnya kembali.

  "Tak usah dipikir apa kata mereka. Toh kamu gak nyuri, gak nipu, gak bunuh orang. Artinya, samasekali tidak merepotkan mereka. Kamu cuma bekerja sesuai kepiawaianmu, Nyi." ujarnya suatu waktu.

  Sikap Bah Ikin yang amat pengertian dan mampu memahami isi hati dan pikiran Nyi Dewi, ini membuat ia yakin; ia tidak harus melulu menghiraukan omongan tetangga. Yang harus ia lakukan adalah terus maju ke depan dan jangan sekali-kali berpikir kalau ucapan tetangga bakal merusak hidupnya.

  Dimulai dari setiap bada shubuh, selepas sembahyang, Nyi Dewi mulai Rutin melatih vokal suara anaknya, Kekeu. Keukeu terlebih dahulu diberi segelas air putih yang sudah dibiarkan mengembun semalaman di halaman rumah, itu merupakan rahasia turun-temurun kokolot di kampungnya; konon berkhasiat memperhalus suara. Selain itu, setiap tiga bulan sekali, Nyi Dewi juga rutin mengajak Keukeu ke tempat seorang tabib untuk melakukan gurah (membersihkan kotoran di hidung dan tenggorokan).

  Ternyata usaha Nyi Dewi membuahkan hasil, selain daripada Keukeu memang mewarisi suara ibunya yang merdu.

  Nyatanya dalam beberapa bulan setelah rutin dilatih ibunya, ditambah gurah. Keukeu berhasil menjuarai Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) sekabupaten. Kekeu juga bergabung dalam sebuah grup marawis di tempat pengajiannya dan tentu saja, ia termasuk tim inti, sebagai vokalis.

  Kala itu mereka sama-sama populernya seantero kampung. Keukeu, dianggap perempuan sholeh ideal: orang-orang memuja-muji parasnya, suaranya dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, maupun membawakan bait-bait sholawat. Tentu saja, ia pribadi yang jago ngaji pula. Orang-orang menilai apa yang terjadi pada keluarga Nyi Dewi adalah sebuah bukti keadilan Tuhan: di mana keburukan sangat mungkin melahirkan kebaikan. Ya, Keukeulah buktinya.
  
***

"Jadi begitu ya, ibu-ibu sekalian. Soal Keukeu biar saya dan suami saya yang urus"

  Tak seberapa lama, acara kumpul di rumah Bu Rt bubar. Ibu-ibu menerima tawaran Bu Rt, agar segala bentuk persoalan yang berkaitan dengan Keukeu, dia dan suaminya yang akan menangani. Sekaligus Bu Rt juga berani memberi jaminan tanggung jawab bilamana terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap suami-suami mereka, semisal, kalau tiba-tiba para suami menghilang dari rumah secara berjamaah, apalagi kalau bersamaan dengan konsernya Keukeu. Sudah bisa dipastikan penyebab kemana perginya.

  Sementara ibu-ibu dibuat resah dengan keadaan suami-suami mereka. 
Keukeu justru tengah sibuk mengurusi tournya ke beberapa kota: Karawang, Subang, Indramayu, dan Cirebon. Butuh energi lebih untuk bernyanyi, bergoyang di kota-kota tersebut. Apalagi, Si Pemilik grup musik sempat menerangkan, kalau tour kali ini bakal jadi tour terpadat sepanjang hayatnya, soalnya hanya dalam hitungan perdua hari mereka harus langsung bergerak menuju kota lain, tambahnya lagi, kontrak kali ini bukan orang biasa yang minta, bukan seperi bulan lalu; acara sunatan, kawinan, atau pun tujuh belas agustusan. Bukan! Ini Orang partai yang minta. 

  Di kota-kota sepanjang utara Jawa Barat, pada pertengahan tahun, mereka akan bertarung dalam perhelatan politik. Mereka butuh panggung agar bisa dikenal masyarakat luas, tentu kenapa dangdut yang disasar, sebab inilah yang disukai wong-wong cilik kita. Sebetulnya, si pemilik grup musik tak begitu peduli dengan kampanye politik orang-orang partai yang menyewa grup musiknya. Ia selalu menyimpan curiga pada orang-orang berdasi, mereka sering kelewat lupa kalau bikin janji-janji sama orang-rang kecil sepertinya. Namun. Si Pemilik grup musik tetap harus profesional, justru inilah usahanya, ia adalah penjual jasa yang harus membuat pelanggannya terpuaskan. Maka akan ia beri apa yang si pelanggan inginkan; Tour Pantura sebulan penuh!

  Dan demi memberikan pelayanan terbaiknya sudah seyogyanya penyanyi-penyanyi yang dipakai juga mesti jempolan, macam Keukeu tentunya. 

  Kabar tour pantura yang akan membawa Keukeu ke berbagai kota di sepanjang utara Jawa Barat, segera tersebar ke pelosok kampung. Tinggal seminggu lagi. Para pecinta Keukeu amat senang mendapat kabar Keukeu bakal tampil lagi. Mereka keranjingan tak sabar ingin bertemu dengan penyanyi idola umat kampung Bojong Jero itu. Keukeu; penyanyi yang tengah naik daun, tak diragukan suara dan goyangannya di belantika dandut se-kampung Bojong Jero—dan kini ia perlahan tapi pasti—tengah menapaki karir dangdutnya menuju Pantura 1.

***

  Ketika hari yang ditunggu-tunggu tiba, Keukeu dan rombongan Grup Musiknya berangkat dari Kampung Bojong Jero, dengan dua mobil milik grup musik itu. Mobil pertama dan kedua merupakan mobil sewaan, mobil truk dengan bawaan alat-alat musik serta properti artis. Ketiga dan keempat dengan bawaan Keukeu dan kru lainnya. Sementara, tak jauh dari belakang rombongan grup musik itu, orang-orang dengan menaiki sepeda motor, sekitar tiga puluhan motor—setiap motor dinaiki dua orang—ikut mengiringi rombongan grup musik, dan tentu saja Keukeu.

  Sambil terus menyebut-nyebut nama Keukeu, mereka juga membawa kertas bergambar wajah Keukeu, ada gambar yang cuma setengah dada dimana Keukeu masih mengenakan kerudung, lainnya gambar pose goyang—yang mungkin didapat menggunakan jepretan HP saat Keukeu manggung—gija-gijug.

  Kota pertama yang dituju adalah Karawang, kemudian Subang, Indramayu, dan terakhir Cirebon.

  Setibanya di kota pertama, Karawang. Grup Musik itu mendapatkan sambutan yang meriah, penontonnya ratusan dari berbagai kalangan. Mereka menikmati lagu-lagu yang dibawakan penyanyi-penyanyi Grup Musik itu: Sekali kesempatan, mereka dibuat senyap, saat Si Caleg—orang yang menyewa Grup Musik itu—tampil di panggung, ngomong ini-itu “jalan yang rusak akan saya perbaiki, Insya Allah kalau saya terpilih guru-guru ngaji di kampung-kampung akan saya gaji, kalau..” dan saat Si Caleg belum selesai berbicara, seorang penonton  yang tak kuat menanti alunan dangdut kini berhenti, segera meneriaki Si Caleg “cepetan bangsat. Bacot mulu. Besok juga elu lupa sama omongan sendiri, elu mau dicoblos kan? Ntar gua coblos pas dipantat elu. Mana musiknya? Goyang lagi!”

  Perangkat keamanan acara itu mulai kalut. Benar saja, adu mulut terjadi antara penonton yang gak kuat kepengin goyang dengan tim pemenangan Si Caleg. “Cepet anjing!” seru penonton “Bentar bangsat!” balas salah seorang tim pemenangan Si Caleg. Keadaan mulai tak terkendali. Seorang penonton melontarkan pukulan tepat di pipi salah seorang dari tim pemenangang Si Caleg, yang berdiri memagar di sekitar panggung. “Sudah-sudah, jangan berkelahi” cegah Si Caleg melalui mic digengamannya. Tak ada yang bisa menenangkan. Penonton sudah tidak sabar, tak ubahnya massa tawuran.

  Si Pemilik Grup Musik dari arah belakang  segera naik panggung, lalu mengambil alih. Ia meminta mik Si Caleg, yang wajahnya nampak ketakutan. Si Pemilik Grup Musik tanpa rasa takut “Sudara-sudara mau goyang?” tanya Si Pemilik grup musik pada para penonton “Baiklah, mari kita sambut artis kita dari Kampung Bojong Jero, Keukeu.”
Keukeu menapaki tangga panggung yang tak terlalu tinggi itu. Di atas panggung, Keukeu menyapa  para penonton. Meski dag-dig-dug, Keukeu mencoba tenang. Ia terlebih berpengalaman mengahadapi penonton yang sudah kumat, keranjingan pengin digoyang, lagi, lagi, dan lagi. Untuk sesaat,  Keukeu memandang  para penonton secara menyeluruh. Betul, ia pastikan, seperti biasanya mereka tak semuanya sadar, ada yang teler. Sebelum nonton, mereka pasti mabuk, entah pil koplo, tuak, lem,  apapun penyebabnya. Keukeu harus menghibur mereka, pikir Keukeu. 

***

  Di dalam rumahnya, Bah Ikin terseguk-seguk. Mendapati istrinya sudah jadi mayat.
Suatu malam, setelah tampil di Kalijati, Subang. Nyi Dewi ambruk, lalu dilarikan ke Rumah Sakit terdekat di daerah itu, ia sekarat. Setelah konser di Koramil dalam rangka menyemarakan HUT TNI ke-59. Sebutir pelor, nyasar tepat di dada kirinya.

  Menurut kesaksian Si Pemilik Grup Musik pada Bah Ikin, kejadiannya begitu cepat, penonton yang terdiri dari tentara-tentara muda, pemuda-pemuda kampung, supir angkot, dan mungkin preman juga ada. Terjadi baku pukul.  Seorang penonton dari warga biasa dikeroyok lima orang dari kalangan tentara. Saat itulah terdengar tembakan. Tembakan pertama penonton buyar berlarian tak tentu arah, tembakan kedua menyisakan lima orang tentara yang tengah menghajar seorang pemuda, di muka panggung, dan tembakan ketiga tak terjadi apa-apa. Beberapa detik kemudian setelah seorang penyanyi yang semula berusaha melerai Lima Tentara melalui mikropon, ambruk, sempat kejang-kejang, dan terbaring menatap kosong ke arah langit. Sekarat.

  Si Pemilik Grup Musik, keluar dari persembunyiannya di bawah panggung, ia terhenyat melihat penyanyinya terbujur bersimbah darah. Ia berteriak, berusaha meminta tolong. Orang-orang mulai berdatangan. Dengan mobil dinas milik Koramil, penyanyi itu dibawa ke Rumah Sakit. Tetapi saat di Rumah Sakit itulah nyawa tidak lagi melekat di badannya.
Bah Ikin, Kekeu, dibantu Bu Rt dan Pak Rt serta dua orang tukang gali kubur, yang sengaja didatangkan dari kampung sebelah—sebab, tukang gali kubur yang biasa mengubur orang mati di kampung Bojong Jero, enggan menggali kubur untuk perempuan yang dicap laknatullah oleh orang-orang di kampunya itu—mereka berkerumun di kuburan Nyi Dewi. Tentu saja, satu orang terakhir, yang terus menjaga jarak dari Keukeu, dan jangkau pukulan Bah Ikin, Si Pemilik Grup Musik. Ia menangis sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, setelah Bah Ikin menghajarnya habis-habisan kala Si Pemilik rup musik tiba membawa mayat Nyi Dewi.

***

 Sir gobang gosir sir

Gula gula Jawa wa..

Sir boleh naksir sir..

Kalau abang suka..ihaa..”  

  Keukeu bernyanyi. Dengan alunan musik yang menghentak-hentak ia menyihir para penontonnya. Rambutnya terurai bebas, kakinya bergantian menghentak, lalu pinggul mulai digoyang-goyangkannya, dan dada sintalnya menyembul-nyembul seolah hendak berontak keluar dari kain pengampunya.

  Rombongan pemuda-pemuda kampung Bojong Jero, juga tak luput, mereka ikut larut bergoyang bersama penonton lainnya. Sesekali, di tengah-tengah Keukeu bernyanyi, secara kompak mereka menyebut nama Keukeu. Itu dibalas Keukeu dengan kedipan genit.

***

  Kampung Bojong Jero gelap dilahap malam. Sepi. Di setiap rumah, para istri jengah tiada tara, mereka tak mendapati suami-suami mereka di rumah, atau barangkali di Pos Ronda, Masjid, Balai Desa.

  Para istri di Kampung Bojong Jero, memecah keheningan malam itu, mereka berbondong-bondong menuju rumah Bu Rt. Mereka menagih pertanggungjawaban Bu Rt tempo hari. Sekarang, suami-suami mereka tidak ada di rumah. Bu Rt tak bisa berkata apa-apa, ia memang menyanggupi bertanggung jawab soal kegilaan suami-suami mereka pada Keukeu.

  Bu Rt didampinggi Pak Rt—benar-benar ditekan para istri kampung Bojong Jero, dan tak bisa membendung tuntutan mereka, agar bagaimanapun suami mereka balik ke r umah masing malam itu juga—serta Para Istri kampung Bojong Jero bertolak menuju rumah Bah Ikin.

  Rumah dengan bilik bambu itu sepi dan nyaris tak terlihat, hanya sebuah lampu yang nampaknya korslet  mati-matian menerangi halaman rumah Bah Ikin.
Pak Rt mengetuk pintu rumah itu secara pelan sebagaimana ia tau adab seseorang bertamu di malam hari. Namun, beda halnya para istri Bojong Jero yang tak sabar lagi. Mereka meneriaki rumah kecil nan reot itu.

“Bah...Bah, keluar!  Kamu mesti mempertanggungjawabkan anakmu diahadapan kami.”




Warungboto, 13 Mei 2020



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel