Ketakberhinggaan Adalah Awal Mula Sebuah Kehidupan



Ketakberhinggaan Adalah Awal Mula Sebuah Kehidupan

Identitas Buku


Judul: Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya


Penulis: Gioconda Belli


Penerjemah: Fransiskus Pascaries


Penerbit: Marjin Kiri


Cetakan: Oktober, 2019


Tebal: i-xii+202


“Begitu banyak misteri kehidupan yang harus kita jalani. Kebanyakan dari kita, mungkin ingin segera mengakhirinya. Namun siapa sangka, niat agar semuanya tadi bisa cepat selesai, sering kali berubah menjadi sebuah tindakan yang mengawali suatu teka-teki baru. Untuk menghindarinya sudah tidak mungkin. Dan yang bisa kita lakukan hanyalah terus belajar, sampai bertemu dengan sesuatu yang lebih mengerikan dari yang namanya sebuah kematian”.


Cerita tentang Adam dan Hawa, selalu melemparkan ingatan saya ke masa lalu. Ke sebuah ingatan seorang bocah lugu yang tidak banyak berani bertanya. Bahkan ke persoalan yang amat sublim, yaitu rahasia dari sebuah realitas kehidupan. Hingga sekarang, kisah Adam dan Hawa yang diceritakan guru saya waktu itu, masih berbekas jelas dalam memori otak saya. Andai waktu bisa diputar, saya ingin bisa kembali ke masa itu dan bertanya lebih jauh kepada guru saya tentang riwayat Adam dan Hawa.


Berbeda dengan anak kecil pada umumnya, saya lebih terkesan patuh terhadap apa yang dikatakan oleh orang-orang yang lebih tua dari saya pada waktu itu. Anehnya lagi, saya seperti tidak pernah punya niatan untuk menyanggahnya sedikit pun. Walaupun dalam hati kecil sering bertanya-tanya, tentang jawaban dari persoalan yang disampaikan. Ketidakberanian untuk bertanya itu, saya simpulkan adalah simbol ketakutan yang mengekang kebebasan saya selama ini. Meskipun hal tersebut pada nyatanya tidak akan pernah saya sesali sama sekali.


Kebiasaan saya semasa kecil ini, saya temukan kembali dalam sosok Habel, anak Adam dan Hawa, dalam novel yang berjudul Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya, karya Gioconda Belli. Habel, adalah anak yang mencerminkan kebesarhatian dan ketakutan sekaligus dalam dirinya. Habel, adalah pion terbaik dari skenario terindah yang telah dirancang sebelumnya. Pengorbanan Habel yang memilih mati, adalah pilihan terbaik dari semua kemungkinan terburuk yang ada. Ketiadaannya, adalah akhir dari sebuah awal mula yang telah dijanjikan kepada dunia sebelumnya.


Diceritakan, Habel adalah anak yang menjadi kebanggaan Adam. Hal ini bermula dari kemampuan Habel yang mampu menundukkan para binatang, dan dianggap Adam mewarisi keahliannya ketika masih berada di Taman Firdaus. Kesederhanaan, keluguan, dan kepolosan yang melekat pada diri Habel, menjelma sebuah ketakutan yang ditaksir Hawa akan menjadi sebuah kesombongan.


Padahal, bagi saya, sifat Habel tersebut adalah bentuk kepasrahan tertinggi kepada Sang Pencipta—atau Yang Lain atau Elokim dalam buku ini. Dengan kata lain, keunikan Habel adalah bentuk sikap dan sifat manusia yang “Nrimo”. Saya mengartikan buku ini berbeda dengan kebanyakan orang lainnya, yang lebih melihat sisi kesetaraan dalam sosok Adam dan Hawa. Bagi saya, Gioconda Belli mempersembahkan karya ini atas dasar kemanusiaan, bukan karena ingin menegaskan kebersalingan dan keterhubungan anatara laki-laki dan perempuan.


Buku ini , menurut saya adalah sebuah karya yang lahir dari tangan Aktivis Religius, yang keberpihakannya tidak perlu diragukan lagi. Buku yang hadir dari sebuah rasa takjub ini, selanjutnya saya rasa mampu untuk merekonstruksi pandangan kita terhadap dunia dan kehidupan yang ada di dalamnya. Menghadirkan sebuah kompilasi yang bisa jadi merontokkan semua kegembiraan selama ini, melatih kita untuk berimajinasi dan menganyam puing-puing ingatan masa lalu.


Membaca buku ini, ibarat ketika kita melihat sebuah kematian. Di kemudian hari, tentunya bakal bernostalgia dengan sekian kumpulan perasaan yang terekam dan terabadikan pada momen itu. “Kau takkan merasakan apa pun. Justru itulah masalahnya. Kau takkan pernah merasakan apa pun lagi. Kematian adalah kesederhanaan yang mengerikan (hlm 24).


Buku ini membuat saya sangat terkesan, dengan unsur pengabdian pada sebuah kehidupan yang terkandung di dalamnya. Buku ini lalu mengajarkan saya, perihal ketakutan-ketakutan yang tidak selayaknya kita takuti. Tentang awal mula sebuah peradaban manusia yang penuh dengan rahasia dan ketidaktahuan. Atas perkara ketelanjangan dari pengetahuan yang kita miliki selama ini.


Selain memabukkan, buku ini memberikan gambaran tegas atas ketidakjelasan batas antara yang Baik dan yang Jahat. Oleh sebab itu, Gioconda Belli mengajak kita untuk selalu meragukan pengetahuan yang kita punya. Karena bertahan hidup baginya, akan selalu berangkat dari yang namanya ketidaktahuan tadi. Saya pribadi juga menyepakati hal itu. Sebab, jika sudah tak ada misteri lagi di dunia ini, lantas apa yang akan kita jadikan pegangan? Bukankah kita adalah makhluk pencari, yang tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah diraih?


“Inilah malam. Aku membuat ini agar kalian bisa beristirahat, karena kalian harus bekerja agar bisa bertahan hidup. Dengan begitu kalian bisa masuk ke dalam kesadaran. Mengenali dan melupakan secara serentak” (hlm 50). Sama halnya dengan kelaparan yang bersarang pasti dalam tubuh, rasa penasaran tidak semestinya selalu kita turuti. Ada kalanya, kita juga harus bisa mengendalikan keingintahuan tersebut. Ketidakpercayaan dan ketidaksadaran kita terhadap realitas kehidupan, tidak jarang hanya membawa kita pada keragu-raguan yang menjerumuskan.


Buku ini, menjadi contoh pembelajaran yang tepat dari sebuah ketanggungan kita terhadap sesuatu. Seperti kisah Adam dan Hawa yang sama-sama memilki fase setengah-setengah dalam hidupnya. Entah karena itu berawal dari sifat kurangnya percaya diri, dan ketakutan itu sendiri. Yang jelas, keberanian untuk menghadapi sebuah rintangan dan pantang mencari jalan pulang, begitu gamblang digambarkan dalam buku ini. Karena sewaktu-waktu, kita juga perlu belajar dari pengalaman, dan bukan hanya dari pengetahuan semata bukan?


Maka menjadi wajar dan tepat, ketika ada sebuah pendapat yang menganggap “pengalaman adalah guru terbaik”. Karena yang semestinya kita takuti dari sebuah ketidaktahuan itu, bukanlah karena kita bisa melupakan dunia dan kehidupan yang ada di sekitar kita. Melainkan ketika dunia dan yang ada di sekitar kita, melupakan dan menganggap kita tidak pernah ada.


Karya Gioconda Belli ini, selanjutnya saya rasa menjadi buku bacaan yang cocok dibaca semua kalangan dan dari segala umur. Selain memperkaya imajinasi, dan memberi perspektif baru serta berbeda dari kisah Adam dan Hawa pada umumnya, buku ini mempunyai daya kuat yang mengukir ingatan dan pengalaman soal ketidakpastian. Tidak hanya itu, buku ini memberi sebuah pelajaraan ketakziman tanpa berniat mengajak kita kepada taklid buta. Pada akhirnya, kita akan tersadar tentang pentingnnya setiap pengetahuan, untuk menjadi bekal di dalam kehidupan yang menyimpan banyak ketakberhinggaan ini.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel