Kepergian Wanita yang Mandi Air Susu

Kepergian Wanita yang Mandi Air Susu
Sumber Foto: pxhere.com
Memasuki musim kemarau, aku merasa selalu gerah di waktu malam. Tiada kipas untuk berharap agar rasa gerah ini segera menghilang perlahan. Tidak mungkin pula aku mengebaskan buku tulis sebagai alat yang mengundang angin seadanya. Badanku sungguh lelah sebenarnya malam ini. Aku pun mengutuki diri sendiri, yang terus mengeluh sepanjang malam tanpa ada yang mendengarkan. Kulihat wajah adikku yang sayu dalam tidurnya. Mungkin ia sedang bermain di alam mimpinya sekarang. Sama sepertiku yang merasa gerah, adikku tidur dengan membuka bajunya. Terlihat begitu banyak keringat malam yang menempel di punggung. Bintik-bintik kecil yang teramat gatal jika keringat menyentuhnya, dan seakan sengaja mengundang rasa tidak nyaman agar setiap saat ingin digaruk.


Setelah cukup lama berniat untuk tidur, akhirnya aku tertidur pula. Di bawah lampu kuning yang remang-remang. Sepintas menggenapi kekesalan dan ketidaknyamananku malam ini. Aku masih tertidur sebelum suara Ibu membangunkanku, dan tangannya menggoyangkan tubuhku agar aku terbangun dalam tidur yang terbilang sebentar itu. Sebenarnya aku juga merasa aneh, karena upaya membangunkan ini seperti tidak biasanya, jika tidak ada keperluan mendesak. Sayup-sayup kudengar suara Ibu yang mencoba mengulang kata-katanya dalam kondisiku yang setengah terjaga itu.


“Hei bangun, ayo bangun. Ayukmu meninggal. Ayuk Nopitasari meninggal! Cepat bangunkan adikmu itu. Bangunkan saja walau ia susah dibangunkan. Cepatlah. Ibu harus ke rumah Uwak Cik mu sekarang.”


Masih belum jelas apa yang aku tangkap malam itu. Sebelumnya aku memang mendengar suara orang mengetuk pintu rumah, namun tidak aku hiraukan. Karena aku merasa tidak berkepentingan membukanya. Toh ada Ibuku yang akan bangun pikirku. Jika tidak begitu, pastilah Ayah yang akan membukakan pintu itu. Tapi setelah aku ingat dan kurangkai lagi kejadian tadi, seingatku baik Ibu dan Ayah tidak ada yang membuka pintu. Ibu hanya menyahut dari kamarnya kepada orang yang memanggil itu. Dan tentu saja orang itu bergegas pergi setelah menyelesaikan tujuannya dan ditanggapi oleh Ibuku.


Dalam keterpejaman singkat itu, aku merasa begitu lama kejadian setelahnya. Seakan tidak ada lagi yang lebih lama. Ibarat orang yang mengelilingi dunia dan kembali ke titik awalnya. Tapi kurasa itu hanya perasaanku semata, karena yang terjadi tidaklah seperti yang dibayangkan. Memang dalam sebuah kejadian singkat, terkadang kita akan merasa begitu lama. Entah karena nyaman yang menemani, atau kegelisahan yang berubah menjadi sebuah kekhawatiran.


Setelah bisa menguasai ngantuk yang masih melanda dan nyawaku terkumpul sepenuhnya, aku tidak langsung membangunkan adikku yang tidur seperti tanpa beban. Sama dengan anak-anak yang hari-harinya diisi dengan bermain, dan kukira hanya sedikit tahu tentang arti dari sebuah kehilangan, adikku tetap tidur meski seisi rumah menjadi tidak tenang setelah mendengar kabar itu. Seakan tiada lagi yang lebih gawat dari itu, dan kabar yang baru saja diterima keluargaku ibarat lebih genting ketimbang kami tidak bisa makan esok hari.


Aku yang sudah diberi tugas tersebut pada akhirnya tetap membangunkan adikku. Dengan perasaan yang bimbang dan kaget, seperti kabar ini datangnya terlalu cepat. Bagai tidak sempat lagi menunggu hari lain yang lebih baik, dan ketika kami siap.


“Van ayo bangun. Heh bangun, ayo. Ayuk Nopitasari meninggal, pan. Ayo bangunlah. Bangun dulu. Itu ayuk Nopitasari meninggal.”


Kulihat wajah adikku masih malas sebenarnya untuk bangun. Tapi tak ada niat yang tersirat dari wajahnya untuk kembali tidur, setelah mendengarkan kabar buruk itu.


“Hah, yang bener Bang? Kapan meninggalnya?”


“Entahlah, aku juga belum tahu kapan tepatnya meninggal. Yang jelas Ibu dan Ayah sudah berangkat ke rumah Uwak Cik sekarang. Kamu di rumah dulu ya. Aku pengen ke rumah Uwak.”


“Aku ikut. Aku juga pengen ke rumah Uwak Cik.”


“Heh, jaga rumah dulu. Itu Vina dan Vira masih tidur. Kalau mereka bangun baru kamu ajak sekalian ke rumah Uwak. Sekarang tunggu rumah dulu.”


“Tapi kan, aku juga pengen tahu kapan Ayuk meninggalnya.”


Setelah berhasil membujuknya, aku langsung bergegas ke rumah Uwak yang hanya berjarak 200 meter dari rumah. kami Tentu saja setelah berhasil meyakinkan kalau aku tidak akan lama.


Sekilas sebelum sampai ke tempat tujuan, kulihat rumah Uwak sudah ramai dengan orang-orang yang tinggal di dekat sana. Tua, muda, balita, dari yang beruban dan rambutnya masih hitam semua, seakan berkumpul dengan satu tujuan yang sama di rumah Uwak. Tidak lain dan tidak bukan memastikan kabar yang sudah pasti itu, dan kiranya merasakan hal yang sama dengan yang aku alami sekarang, yaitu ‘kehilangan’.


Sepintas rumah Uwak memang mirip seperti rumah orang-orang yang berkabung pada umumnya, karena meninggalnya salah satu anggota keluarga tidaklah mudah direlakan. Terlebih jika yang meninggal membekaskan banyak kenangan baik kepada mereka yang masih hidup. Begitu pula kondisi di malam menjelang pagi itu. Sebelum memasuki waktu Subuh, rumah Uwak sudah kedatangan lebih dari lima puluh orang. Sanak saudara, tetangga, dan semua yang merasa kehilangan, berkumpul satu pada waktu itu.


“Apakah memang sudah waktunya Ayuk pergi?” ujarku dalam hati dan lebih tepatnya pada diriku sendiri. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi di malam hari, dan aku masih berkeyakinan ketika bangun nanti, yang sesungguhnya terjadi tidaklah seperti ini. Sejujurnya aku belum bisa menerima sepenuhnya kabar ini. Kabar kematian orang yang memberiku sepatu pink sebagai hadiah lebaran beberapa tahun silam.


Masih teringat jelas ketika aku dijemput ke kampung halaman Ibuku ini. Aku masih kecil dan bocah sekali waktu itu. Penjemputanku sekeluarga tidak lain karena motor yang keluargaku pakai untuk mudik dipenuhi barang-barang bawaan. Oleh karena itu pula kiranya Uwak meminta Ayuk menjemputku. Hanya sekadar meringankan beban bawaan motor kami yang sudah penuh tapi dipaksakan itu.


***


Malam ini semua kenangan itu melayang-layang dalam kepalaku. Tiada angin dan hujan yang melengkapi atau sekadar mengantar kesenduanku malam ini. Semuanya terjadi dengan tiba-tiba dan begitu saja. Tanpa pernah kuundang apalagi kupanggil ingatan dan sisa-sisa kenangan yang sudah mengendap kurang-lebih satu windu itu.


Mereka hadir bagai tak terbendung, menyisakan luka yang teramat dalam karena kehilangan yang tidak bisa dicegah. Andai bisa kuputar waktu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ayukku. Kepada wanita cantik yang kulitnya putih itu, yang serasi dengan raut wajah, postur badan, dan pembawaannya yang selalu riang. Jika teringat ia pernah menangis, kalau tidak salah, tidaklah mengurangi tingkat kecantikannya. Sekaan tiada lagi yang lebih cantik dalam bayanganku waktu itu.


Aku masih terduduk di kamar kecilku yang berantakan. Dengan segala kondisinya yang serba acak-acakan. Dengan kondisi pintu dan jendela yang tertutup, bilamana hanya angin yang kuanggap dapat masuk, tak kusangka membawa pula kenangan sedih nan perih ini. Ingatan ini, berkelebat seperti kilatan dari sebuah kegelapan yang langsung masuk ke dalam kepalaku. Tanpa pernah aku kehendaki seutuhnya, dan belum lagi kusetujui menyeret kondisiku menjadi selemah ini.


Ya, Nopitasari adalah kembang desa kami waktu itu. Sejauh yang aku tahu, dirinya tidaklah mempunya seorang kekasih. Untuk alasan yang tidak perlu kutanyakan kepada Uwak, cukuplah kesimpulanku karena Ayuk yang memilih belum menjalin hubungan. Takdir yang menjemput pada saat umurnya masih sangat muda itu, ibarat jalan yang sudah digariskan dan dibuat untuknya. Tiadalah seorang manusia yang mampu merubahnya. Karena kematian bukan untuk diratapi dan dikutuk, sebab kematian selalu menggandeng kepastian.


Aku memang menuju rumah Uwak antara berjalan dan berlari. Kupacu kaki secepat munngkin. Dalam kegelapan di jalan desa kami yang belum teraliri listrik, dan hanya mengandalkan penerangan lewat genset-genset pribadi, terang bulanlah yang menemani dan menggandeng kesedihanku malam itu.


Setibanya di rumah Uwak, setiap kulihat keadaan sekeliling, hanyalah muka yang memancarkan aura kesedihan. Tidak bisa kuurutkan tingkat kesedihannya, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Semuanya tampak sama. Tampak muram dan kelabu. Selayaknya adegan di film hitam-putih, atau tampilan TV yang belum berwarna.


Menjelang pagi, sudah kuingkari janji dengan adikku. Aku tidak berniat kembali ke rumah, sampai aku melihat kembali dengan mata-kepala sendiri sosok yang tiada bernyawa lagi itu. Sosok perempuan yang mencium pipi kanan dan pipi kiriku ketika dijemputnya sewaktu mudik dulu. Berada di tengah antara supir dan Ayuk Nopitasari, pipiku habis basah diciumnya. Entahlah, aku tidak merasa kalau ia sampai begitu sayangnya dengaku. Jika mengingat caranya menyiumku, mungkin itulah ciuman terakhir dan terindah yang pernah aku dapat. Dari seorang wanita yang tiada lain adalah sepupuku sendiri. Yang kepergiannya tiba-tiba, walaupun aku tahu jelas kalau sebelumnya ada sebuah kecelakaan yang menimpanya.


Sampai  pada suatu malam ketika Ibuku bermimpi, Ayukku mengenakan gaun indah dan berhias di depan kaca. Ibu menceritakan mimpi itu pada keesokan harinya. Dengan perasaan was-was dan khawatir yang tiada terkira. Aku menanggapi kalau itu hanyalah bunga tidur. Aku juga masih berkeyakinan kalau Ayuk bisa sembuh dan selamat dari kecelakaan yang menimpanya. Sebab aku merasa Ayukku adalah wanita kuat. Dari situlah aku berpikir, tidak mungkin Ayuk akan meninggal secepat ini.


Namun nasib dan takdir berkata lain. Ketika dengan jelas aku menatap ambulans yang datang dari kejauhan. Aku memilih duduk di dekat pintu masuk rumah Uwak, dan tidak beranjak walaupun ambulans itu sudah sampai di depan rumah yang isinya sedang berduka ini. Aku lebih memilih menunggu. Menunggu jenazah itu melewatiku. Perlahan aku juga tersadar, bahwa ini kejadian nyata dan bukan khayalan semata.


Sampai pada waktunya, jenazah itu benar-benar melewatiku. Dengan wajah yang bercahaya kekuningan, tubuhnya dibungkus dengan kain kafan. Tangis histeris Uwakku yang tidak lain adalah kakak dari Ibuku, seakan tidak menggangu tatapan dari seorang bocah belasan tahun ini. Mataku tetap fokus kepada sosok yang tak lagi bernyawa itu. Sejak semula, saat mendengar kabar duka ini, dan sampai jenazah itu melewatiku, tiada satu pun air mata yang menetes. Bukan karena aku tidak sedih dan merasa kehilangan, tapi tiada lain karena aku menjadi manusia yang seutuhnya kebingungan.


Seakan itu semua berlangsung begitu cepat, sampai tidak ada lagi yang lebih cepat. Dalam sekejap mata saja, jenazah itu sudah dimandikan dan dikafani. Seperti tidak ada lagi yang ditunggu olehnya. Seperti tidak sabar untuk memasuki rumah barunya. Rumah yang sempit di bawah tanah itu, dan hanya muat dan dibuat untuknya seorang.


Di malam antara tenang dan penuh gangguan ini, aku mengisahkan ulang dan mengingat kembali cerita yang menyayat setiap jiwa yang sekirannya pernah merasa kehilangan.


Tenanglah dikau di sana, wahai wanita yang seputih susu, yang selalu mengaku mandi air susu setiap hari. Selaksa kerinduan ini kiranya tidak sebanding dengan ketenangan yang sudah engkau dapat di sana. Tetaplah tenang, sampai kita bisa bertemu lagi, dan semoga saja ketika kita bertemu nanti, engaku masih mau mencium pipi kiri dan kananku. Sama seperti waktu itu, di atas motor yang membelah angin berhembus. Di jalanan berdebu lagi berbatu.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel