Keabadian yang Menggugat Kematian



Keabadian yang Menggugat Kematian

Identitas Buku


Judul: Matinya Seorang Penulis Besar


Penulis: Mario Vargas Llosa


Penerjemah: Ronny Agustinus


Penerbit: Immortal Publishing dan Octopus


Cetakan: 2018


Tebal: x-vii+142


Keeksperimentalan Mario Vargas Llosa dalam menulis, tidak urung membuat saya merasa iri padanya. Dari sekian banyak karya yang telah ia tulis, membekaskan guratan dan pergelutan pengalaman panjangnya sebagai seorang penulis. Selayaknya pedang yang direndam dalam cairan racun dengan waktu sangat lama, tulisan-tulisannya begitu menohok dan meninggalkan jejak yang sangat sulit dihapus, bahkan jika dengan sengaja ingin dilupakan.


Jika diibaratkan ada sebuah ruangan yang sudah penuh dengan berbagai barang, dan hewan sekecil kecoa saja sulit untuk masuk, maka tulisan Llosa bisa tetap masuk ke dalam ruangan yang sudah penuh itu. Tulisan-tulisannya tak ayal seperti udara, yang tetap bisa menyelinap di celah sekecil apa pun. Hal ini tentu berkat ketekunan dan konsistensinya dalam menulis, yang sudah merentang lebih dari setengah abad. Dan tidak menutup kemungkinan, akan menjadi abadi, sebab aktivitas menulisnya—yang eksperimental itu—akan terus dilanjutkan oleh orang lain.


Saya rasa, tidaklah mudah menjadi seorang penulis yang eksperimental tanpa pernah tercerabut dari akar bukan? Akar yang saya maksud adalah, pencerahan melalui aktivitas menulis itu sendiri. Begitulah seorang Llosa, yang meskipun mengalami berbagai tahap perubahan, tidak menjadikan ia seorang ‘penghkhianat’ dari dunia tulis-menulis. Kritik dan keberpihakannya tentu saja amat elastis, namun penghambaannya kepada rasa persaudaraan dan kemanusiaan, tidak lantas menjadi kabur karena hal tersebut.


Jika belum percaya dan merasa ragu atas apa yang saya sampaikan di atas, silahkan membaca karya Llosa yang berjudul Matinya Seorang Penulis Besar. Di buku itu, kita akan menemui Llosa dalam banyak wajah. Akan tetapi, meski terdapat banyak wajah Llosa di sana, tetap saja kita akan bisa mengenalinya. Kita akan bisa melihat Llosa yang tidak memilih tunduk pada keadaan dominan dan menghilangkan identitasnya, Llosa yang berpendirian teguh sekeras batu karang meskipun ombak menerjang, dan Llosa yang sendu serta getir layaknya seorang manusia biasa.


Dari karya Llosa yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus tersebut, saya belajar banyak hal. Mulai dari pengorbanan di luar akal sehat, tentang dunia sastra yang mengharukan tapi tidak malah membuat kita menjadi orang yang cengeng, serta lompatan pemikiran Llosa yang melampaui zamannya.


Saya pun pada akhirnya sependapat dengan Ronny selaku penerjemah buku yang berisi kumpulan esai tersebut. Bahwa sepuluh esai yang ada di dalam buku ini, tidaklah mampu mewakili secara penuh seorang Mario Vargas Llosa. Bahkan bisa jadi, buku ini malah belum merepresentasikan sepotong Llosa sendiri. Namun kita tidak perlu merisaukan hal tersebut. Sebab, lewat sepuluh tulisan yang ada di dalam buku ini saja, sudah lebih dari cukup untuk mengguncang dan menggoyahkan apa yang kita anggap sebagai sebuah ‘Kebeneran’.


Mari kita mulai dengan esainya yang berjudul Menjenguk Karl Marx, yang ditulis pada tahun 1966. Tulisan ini lumayan berkesan untuk saya pribadi. Lantaran beriringan dengan suatu momen yang mengubah wajah Indonesia. Selain beriringan waktu ditulisnya esai ini dengan momen yang sudah saya singgung sebelumnya, daya tarik tersendiri bagi saya ialah persoalan yang dibahas di dalamnya. Sebab Llosa menyajikan suatu fakta yang kemungkinan besar jarang diketahui orang.


Llosa sebenarnya sekadar menceritakan ulang pengalamannnya bernapak tilas dalam esai ini. Pertanyaanya, di mana kira-kira letak menariknya esai ini? Nah, daya tarik—atau dalam istilah yang dipakai Llosa sendiri yaitu “daya membujuk”—esai ini terletak pada fungsi esai ini sendiri. Sebab esai ini bisa saya ibaratkan sebagai sebuah jembatan penghubung. Jembatan yang tidak hanya menghubungkan fakta semata, akan tetapi juga membuka luka yang pada kenyataannya perih tiada terkira.


Dalam esai ini, Llosa sangat mahir menyeret kita mengingat ulang kenangan pahit seorang Karl Marx yang datang silih berganti. Melalui esai ini, Llosa menceritakan kembali terperangkapnya Karl Marx dalam jerat kemiskinan, sekaligus memerangkap kita semua selaku pembaca. Melalui esai ini pula, kita bisa belajar arti dari sebuah pilihan dan tidak perlu bersusah payah menyesalinya. Cukup terus jalani apa yang sudah kita mulai, tanpa harus menyerah pada nasib. Sebab nasib itu ada kalanya sangat senang jika diajak berkompromi.


Esai selanjutnya yang berkesan bagi saya, berjudul Sastra dan Eksil. Esai ini ditulis berselang dua tahun dengan esai yang sebelumnya saya sebutkan. Dari beberapa tulisan yang membahas soal eksil, baru pada tulisan Llosa ini saya begitu bergairah. Semacam ada tambahan nyawa yang ia hembuskan pada esai yang satu ini. Hingga dengan kata lain, ketaktentuaan sastra itu, saya anggap sebagai sebuah pelengkap dan sangat sulit rasanya untuk dihindari.


Selain itu, esai ini juga ibarat menyuntikkan semangat tambahan untuk lebih membulatkan tekad saya ‘merantau’. Merantau ke banyak negeri yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Selain saya terpikat dengan cara Llosa mengupasnya, esai ini semacam memberikan penegasan kepada saya yang seorang labil ini. Dengan kata lain, esai ini menjadi teman baru saya yang akan bisa saya kunjungi setiap saat. Baik itu untuk berkonsultasi, meminta agar diingatkan, dan bahkan hanya sekadar ‘beremeh-temeh’.


Esai yang selanjutnya juga berkesan bagi saya, sayangnya bukan esai yang menjadi judul buku ini. Melainkan esai terakhir dan bisa dibilang esai terpanjang di buku ini. Esai ini berjudul Peradaban Tontonan, yang ditulis Llosa pada tahun 2012 silam. Esai yang membuat teman saya, yang sebelumnya terlebih dahulu membaca buku ini, menjadi malas untuk menulis.


Awalnya, sebelum sampai pada halaman terakhir, saya juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh teman saya tersebut. Saya pun merasa kalau esai ini memang benar jika dikatakan esai pemuncak dalam buku ini. Namun sayangnya, saya tidak ingin terjebak oleh perasaan yang membuat kita malas menulis setelah membaca esai tersebut.


Saya mencoba membaca dan memaknai esai ini dari arah sebaliknya. Yang jika saya jelaskan dan artikan secara singkat, kemungkinan tidak lain menjadi tujuan seorang Llosa sendiri, sekaligus menjadi tujuan hadir dan dipilihnya judul buku ini.


Ya, jika saya boleh berasumsi, tujuan utama buku ini bukanlah agar kita merenungi nasib yang menimpa para penulis, mulai dari dulu hingga yang terbaru. Berkebalikan dari itu, saya rasa baik Llosa dan Ronny, sebenarnya ingin mengajak dan menyeret kita agar tidak mematikan aktivitas menulis, bahkan jika nyawa adalah taruhannya. Pendeknya seperti itu saya mengartikan dan memaknai buku ini.


Buku ini layak dibaca dan akan selalu relevan, selama manusia di bumi masih melakukan aktivtias menulis dan masih ada yang bergelut serta berkubang dalam dunia literer. Sebagaimana Llosa yang merasa beruntung menjadi warga negara Peru, dan bisa menikmati banyak karya orang lain yang berbeda kewarganegaraan dengannya, saya pribadi juga merasa beruntung bisa mmebaca karya Llosa yang ini. Salam tabik dari saya~

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel