Hujan di Bulan Maret



Hujan di Bulan Maret
Sumber Foto: cuadernoderetazos.wordpress.com
Penulis: Adiratna

Ikhlas…… Nimas, ikhlas……


Suara itu terus menggema di sepanjang otaknya. Tapi tak pernah selaras dengan hati yang merapalkan kasih. Seolah otak dan hati sedang mempertarungkan keyakinannya masing-masing.


Di luar hujan tengah merintik. Menjatuhkan sebuah pengorbanan demi membuat bumi tetap berjalan sesuai siklus kekehidupan.


“Masih tidak beranjak? Lihat daun dan tanah itu… mereka rela berbasah-basahan demi menghargai pengorbanan hujan. Sedangkan kamu? Masih saja bungkam dan menyalahkan”


“Menjadi yang dikorbankan itu berat” keluhku.


“Kamu merasa dikorbankan? Namun apakah kamu tahu, menjadi tersangka belum tentu tidak lebih berat, bukankah begitu?”


Aku hanya diam memandang hujan yang masih sama.


“Kamu ingat hujan itu ?”


Aku setengah mendengarnya


“Dia saksi atas kalian”


Memang itulah awalnya hujan, membawa kami saling bertemu, memandu untuk mengisi tangki-tangki kekosongan hidup masing-masing.


Lalu tiba-tiba, entah dari mana banjir itu datang, membuyarkan segala rasa yang pernah ada. Aku tahu menjadi yang meninggalkan atau yang ditinggalkan tentunya sama beratnya.


Namun seperti hujan di bulan Maret, yang akan tetap mengguyur kota. Hujan di hatiku pun demikian, sama halnya belum mampu untuk berhenti. Semua membutuhkan waktu, waktu yang akan menciptakan musim yang baru, agar apa yang pernah layu, mampu bangkit lagi sepeti bunga itu.


“Kau mau kemana?”.


“Aku ingin pulang”.


“Tapi Nimas, di luar masih hujan”.


“Seperti katamu, tumbuhan itu saja mampu menerima hujan, lalu kenapa aku tidak kembali mencoba menerimanya?” Ku beri dia senyum lalu pergi.


“Tapiii…….”


Aku terus berjalan keluar, tidak menghiraukan temanku. Lagi pula, telingaku panas mendengarkan kata-katanya. Aku tahu dia memang benar dan dia sedang mengkhawatirkan aku, namun yang aku butuhkan sekarang bukan nasehat, aku hanya butuh didengarkan.


“Langit, tidak cukupkah Langit Yang Lain saja menghukumku dengan hujan? Kenapa engkau pun bersekongkol denganya untuk menghujaniku?” Teriakku pada langit. 

Hujan semakin deras seolah tahu, bendungan awan hujan di hatikupun siap untuk jatuh bersamanya. Sepanjang jalan mereka seperti sahabat karib, saling jatuh untuk menutupi. Seolah tak ingin ada orang lain yang tahu, bahwa itu hujan yang sesungguhnya atau hanya hujan air mata. 

***


Sesampainya aku di rumah, aku melihat beberapa barang jatuh, seperti ada badai yang tengah masuk ke dalam rumah. Namun seperti sudah biasa, aku bergegas masuk kamar tanpa ingin tahu badai mana yang melanda rumahku.


Tidak berselang lama di kamar, seketika aku merasa perutku amat perih, lalu aku teringat kemaren seharian aku telah menzalimi tubuhku. Aku memutuskan untuk keluar kamar, rumahku telah kembali seperti semula. Namun rumah tetap saja sepi, seperti rumah yang tidak berpenghuni. Aku mencari sesuatu yang bisa dimakan, tapi tidak ada makanan yang kutemukan.


Aku memutuskan membuat mie instan dengan irisan cabe dan kubis, tidak lupa telur dadar kubis sebagi topingnya. Seketika aku teringat, “lihat Langit, ini mie dan telur yang selalu kamu masak untuk kumakan. Yang akan selalu menyogokku untuk rela makan, meski dalam keadaan paling tidak mau”.


“Dek kamu sedang apa?”


“Emm.. Makan bun, hehe” jawabku dengan sendok penuh makanan.


“Ohh, ya sudah teruskan”


Sebelum Bunda beranjak, aku segera berkata “Bun, minggu depan adek sudah harus pindah ke Bandung”


“Apa?” Bunda terkejut mendengarkan perkataanku


“Iya bun.. semua sudah adek persiapkan”


“Tapi dek…..”


Sebelum Bunda meneruskan perkataannya, segera kupotong dengan kalimatku, “Ini bukan permintaan izin bun. Bunda pun tahu ini sudah menjadi keputusan final bagi adek”.


Bunda hanya diam lalu melanjutkan langkahnya. seketika ia berbalik dan berkata,Iya dek hati-hati, doa bunda bersamamu”.


“Makasih, bun”.


Selama ini rumah bukan tempat untuk pulang bagiku. Rumah hanya tempat singgah untuk kembali pergi. Hubunganku dengan Ayah dan Bunda hanya sebuah hubungan sebatas ikatan darah, terhitung sejak bulan Maret 10 tahun yang lalu. Aku semakin tidak mengenal mereka. Mereka hidup seatap namun seperti sepasang singa yang berebut kekuasaan. Saling bertengkar dengan egonya masing-masing.


“Nimas……” Sebuah suara datang dari kejauhan lalu perlahan mendekat


“Kenapa kamu di sini?”


“Aku temanmu, tentu aku tahu kamu akan ke mana. Lagi pula ini bulan Maret, dan di bulan ini kamu akan menghabiskan waktu di pantai” jawabnya tersenyum.


“Baiklah” jawabku pasrah.


Dia memang benar, selain hujan, pantai adalah tempatku untuk pergi. Pantai juga tempat Langit dan aku menghabiskan menit-menit kehidupan. Bahkan di sana pula kami pernah saling mengukir janji untuk saling menjaga. Ah… kenapa di saat seperti ini justru Langit masih saja mengusai pikiranku. Kenapa Langit? Kenapa kamu meninggalkanku saat aku mulai percaya pada kehidupan ini???


Lamunanku buyar setelah suara itu memanggilku.


“Nimas, kamu jadi pergi ke Bandung?”


“Jadi”.


“Yaahhh… aku sendiri dong” jawabnya cemberut.


“Biasanya juga sendiri” ejekku.


“Tapi kan selam ini ada kamu”.


“Makanya cari pacar”.


“Ogah, semua cowok sama saja”.


“Sok tahu”.


“Tahuu, contohnya… ”


Sebelum ia meneruskan omongannya, kupotong kalimatnya, “Siapa? Langit? Atau Ayahku?”


Ia lantas gugup dan terbata-bata menjawab cecaran pertanyaan sekaligus tebakanku barusan.


“Buu buukan Nimas, itu artis AP dan RA, maksudku atau artis J asal amerika itu”


Aku hanya diam tidak menjawab


“Maaf Nimas jika itu membuatmu teringat kembali. Nanti aku belikan es krim deh, aku janji, asal kamu tidak marah, please” tangannya memegang tanganku sambil memohon.


Aku berlagak marah, tetapi kemudian aku berkata “asal dibelikan 2”.


“Oke siapp. Kamu minta 100 pun akan aku belikan”.


“Ogah, nanti aku bisa-bisa mendadak diabetes”


Maka dari itu, aku rela memberikannya, karena kamu pasti akan menjawab tidak mau, wkwk”.


“Ihh dasar”, sahutku.


“Eh Nimas, kamu sudah benar-benar yakin ingin pergi?


Aku mengukir senyum tipis di wajahku, lalu kuanggukan perlahan kepalaku.


"Baiklah, semoga kamu menemukan apa yang kamu cari selama ini”.


“Aamiin”


Lalu awan yang sedari tadi mengintip pembicaraan kami, akhirnya ikut turun dalam butir-butir hujan yang begitu lembut, setelah berminggu-minggu sebelumnya turun dengan deras. Kelembutannya seakan menjadi tanda, yang memberi salam perpisahan padaku. Aku menengadah untuk menyambutnya.


Mungkin ini saatnya untuk ku menjemput hal baru. Bandung, kota yang akan membuatku meninggalkan masa laluku. Meninggalkan Bunda, Ayah, rumah, dan Langit. Seperti kamu yang mengkhianatiku Langit, hari ini akupun akan mengikuti jejakmu untuk melakukannya pada diriku sendiri bahkan pada bunda.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel