Emosi, Lelah, dan Keputusasaan selama Corona?



Emosi, Lelah, dan Keputusasaan selama Corona?
Sumber Foto: pexels.com
Emosian itu ibarat ombak di tengah laut yang menakutkan. Tidak tenang, penuh dengan kengerian, bahkan membuat kebanyakan dari kita akan segan untuk sekadar menatapnya. Pembawaan yang tenang, bisa diumpamakan desiran ombak di bibir pantai, yang menyapu segala luka dan kenangan buruk, serta bayangan kecemasan yang hinggap dalam benak kita.


Namun ada kalanya tidak harus selalu begitu. Sewaktu-waktu, mungkin saja ada orang yang lebih senang memandang ombak yang menampakkan wajah garangnya. Ketimbang menatap ombak tenang yang menyimpan banyak rahasia. Sama halnya dengan orang yang merasa ramai, padahal ia sendiri sedang berada dalam kamar kos yang mengurungnya. Atau orang yang merasa kesepian, padahal ia sedang berada di pusat perbelanjaan, tempat hiburan, atau sedang nongkrong di sebuah warung kopi.


Sebagian besar dari kita, kemungkinan bakal dan pernah mengalami hal yang semacam itu. Hal tersebut bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Bisa terjadi pada saat kita punya banyak uang, di kondisi sedang kelaparan, bahkan bisa saja di waktu kita bersetebuh dengan pasangan. Apa yang kita rasakan sebagai sebuah kebingungan, bisa jadi adalah secercah harapan bagi orang lain. Begitu pula dengan hal-hal yang kita anggap beban, malah siapa tahu menjadi inspirasi untuk orang lain bukan?


Di tengah kondisi pandemi seperti sekarang, kita akan mudah menemukan banyaknya hujatan yang terlontar. Banyak pihak yang merasa paling benar, dan tentu saja tidak ingin disalahkan. Jika sudah begitu, kepada siapa kira-kira kita akan minta pertanggungjawaban? Kepada negara kah? Kepada pemerintah kah? Atau kepada para pemilik modal yang masih terus mendapat kemudahan? Oh tentu saja tidak. Tidak ada yang ingin memadamkan api dalam sekam kawan. Tidak akan ada juga yang ingin menyiram kobaran kebencian yang sedang meluap-luap ini.


Hidup memang akan selalu begini; penuh dengan ketidakpastiaan. Karena kita hanya bisa berencana, maka usaha terbaik yang akan mengarahkan. Untuk sisanya, mari kita serahkan kepada Tuhan yang kita sebut dengan banyak nama.


Ya, keberanian dan kebebasan. Dua hal yang sering kali tidak berjalan beriringan. Dua hal yang sebenarnya bisa saling melengkapi, akan tetapi dengan catatan harus berhati-hati. Tidak ada yang lebih diprioritaskan. Sebab keberanian dan kebebasan adalah dua hal yang satu, dan satu hal yang dua. Bak dua sayap burung yang membantu untuk mengangkasa. Mengudara tanpa takut akan jatuh karena gaya tarik gravitasi. Tanpa pernah malu untuk menutupi kekurangan yang lain.


Seperti yang sudah saya utarakan sebelumnya, emosi, lelah, dan keputusasaan itu bukanlah bencana atau malapetaka. Ia adalah sebuah fase yang niscaya. Ia adalah bagian dari skenario hidup yang mesti dihadapi. Tidak perlu repot-repot menghindar, karena ia akan datang tepat pada waktunya. Dan tidak perlu pula dikejar, karena ia akan menjemput anda dengan segala kejutannya. Hal yang bisa kita lakukan adalah, mempersiapkan dengan sebaik mungkin, dan tidak lupa mencari pilihan terbaik dari semua kemungkinan terburuk.


Kesannya mudah bukan? Tapi apakah memang bakal semudah seperti yang diucapkan dan dipikirkan? Tidak, sama sekali tidak. Ujian terberatnya adalah, kita jarang mengetahui kapan saat itu akan datang. Lebih parahnya lagi, ketika kondisi itu sedang berlangsung, kita malah mencari sebuah pelampiasan. Pelampiasan untuk menyalurkan segala kemarahan yang timbul. Dan menyalurkan segala keresahan yang seperti tak ada ujung, dan segala macam percikan kebencian.


Rehat dan mampir lah sejenak ke titik keputusasaan terdalam. Bukankah ketika kita masih percaya bisa hidup, pasti akan selalu ada alasan kenapa kita bertahan? Walaupun dengan alasan yang paling remeh; menunda kematian, tidak ada pilihan lain, atau mengikuti pola pikir kebanyakan. Yang pasti, tidak menjadi masalah bukan? Selama kita tidak merugikan siapa-siapa.


Merasa lelah adalah hal yang manusiawi. Karena kita bukanlah kumpulan mesin yang dirakit menjadi satu-kesatuan. Satu hal yang perlu diketahui dan kita sadari bersama, mungkinkah kita hanya perlu istirahat? Berhibernasi seperti beruang yang sedang menghadapi musim dingin? Atau seperti unggas dan penguin yang sedang mengerami telur?


Bagaimana jadinya nanti, andaikan kita tidak siap jika keadaan sudah kembali normal. Normal menurut kebiasaan kita sebelum datangnya wabah yang melelahkan ini? Sudahkah kita pastikan dengan secermat mungkin, bahwa kita bisa menjadi berbeda dari yang sebelumnya. Tidak perlu untuk menjadi lebih baik bagi orang lain, minimal ada sebuah kebiasaan yang mendukung kita naik kelas? Naik kelas dalam artian yang bisa ditafsirkan masing-masing.


Ini bukanlah renungan seorang yang bijak. Lebih buruknya lagi, ini adalah makian pribadi kepada diri saya sendiri. Yang tidak pernah mampu mencari hikmah dalam sebuah kesempitan. Yang hanya bisa meracau tidak jelas tanpa arah yang pasti. Satu hal yang saya harapkan setelah wabah ini berakhir, saya ingin tetap menjadi seorang manusia. Bukan manusia yang arif, bijaksana, atau terkenal. Saya hanya ingin menjadi manusia biasa-biasa saja, yang sedikit-banyak bisa bersiap diri dan menyesuaikan dengan apa yang memang seharusnya terjadi.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel