Elang Merah dan Puisi Lainnya


Elang Merah dan Puisi Lainnya
Sumber Foto: wallpaperbetter.com
Penulis: Amrita Sinaga*

Sepasang Naga Celah Kledung



Orang tua dari yang Tak Bernama

Memberi cinta sebesar dunia

Merawat dan mengasuh bagai hamba

Menjadi guru dari segala kasta

Dicintai orang desa

Dibenci dan disegani para musuhnya



Pengasuh yang kini tak tentu rimbanya

Hanya mewariskan bekal untuk negeri yang fana

Tanpa pernah berucap akan berpisah

Tiadalah selain daku yang merasa

Bahwa mereka hanya singgah



Tidak hanya silat, namun juga filsafat

Tidak hanya pedang, namun juga tangan kosong

Tidak hanya sebagai legenda, namun juga menjadi semesta

Sungguh menjadi sebuah kenyataan

Tanpa ada yang bisa meragukan



Dinobatkan selaku Pahoman Naga

Memilih mundur tanpa pernah bertanya

Hanya cerita yang ada padanya

Yang berisi banyak rahasia

Rahasia yang memenuhi seluruh semesta

Semesta raya yang entah ada atau tidak ujungnya





Yan Zi Si Walet



Umur bukan menjadi sebuah penghalang

Ketika terlahir langsung dibuang

Diadopsi oleh para Biksu di pegunungan

Putri permaisuri yang dicampakkan oleh kerajaan



Mengingatkan dengan iblis peremuk tulang

Berlawanan dengan Maha Guru Kupu-kupu

Tiada teman dan juga lawan

Yang memilih untuk menikam ataupun bertahan



Bertemu dengan Pendekar Tanpa Nama

Tiada sengaja menaruh rasa

Memilih diam dalam sebuah kisah

Tanpa pernah berani mengungkap kasih



Menjadi pewaris pedang cahaya

Salah satu dari senjata mestika

Bagai takdir yang menyimpan luka

Tak berdaya menghadap fakta



Api cemburu selalu ditahan

Walau tiada upaya berkeras hati

Hingga datanglah suatu mimpi

Pada siang di tengah hari

Yang mengantar Yan Zi memilih mati





Elang Merah



Pengikut yang setia

Bersumpah, bertaruh nyawa

Berjumpa sebagai lawan

Berakhir menjadi teman

Tak pernah terpikir akan tiada

Meski nyawa telah dijaga



Dalam mendung yang mewakili jingga

Di bawah hujan yang mengacungkan luka

Perasaan berkecamuk ditangkap mata

Perasaan dendam dijerat telinga

Hanya pikiran yang bisa meraba

Tindakan pula yang mewakili bahasa



Perempuan muda yang telah berpulang

Memilih hilang di tengah siang

Meninggalkan semua bayang

Menjejakkan segala riang

Tanpa pernah berhutang pada ruang

Dan tak dapat dicegah untuk berpulang





Pendekar Panah Wangi



Muncul di sebuah malam bulan purnama

Tanpa perkenalan dan basa-basi

Menyoreng busur di balik punggung

Anak panah lantas beterbangan



Melamun dan memilih menyerah pada nasib

Namun Panah Wangi yang malah mengusik

Baginya tiada sebuah kata untuk menyerah

Selain penyesalan yang tak ada guna



Anak panah merebakkan keharuman

Menumbuhkan sepucuk dan secarik ingatan

Dalam kekelaman dan kegelapan

Dirinya berkelebat seperti tak pernah ada tujuan



Melayang dan menghilang

Bagai bayang yang ingin dikenang

Memilih takdir yang beterbangan

Jatuh ke dalam pelukan seorang pangeran



Kisah yang tak akan pernah kubalas dengan kasih

Mengiringi perpisahan yang menyeret air mata

Dengan kuda Uighur kutinggalkan Chang'an

Perlahan-lahan menuju gerbang

Tiada upacara tiada ucapan

Bagi diriku yang menyisakan sebuah kenangan


*Penikmat Puisi yang berusaha mengagumi segala keindahan di dalamnya~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel