Buruh telah Mati


Buruh telah Mati
Sumber Foto: cuadernoderetazos.wordpress.com

Penulis: Urek Mazino*

Bertepatan dengan Hari Buruh sedunia, kita bisa menyaksikan betapa sepi-sunyinya perhelatan perayaan untuk memeperingatinya. Tidak ada demo di jalan, tidak ada unjuk rasa di depan perusahaan, pun tidak ada tuntutan agar gaji dinaikkan. Semuanya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak banyak yang bisa diperbuat, kecuali hanya sekadar memasang sebuah ucapan. Ya, “Selamat Hari Buruh”. Sudah cukup itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Ah ayolah, kenapa hidup sebosan ini? Bukankah kita memang harus merayakan dari tidak merayakannya Hari Buruh di tahun ini? Toh untuk apa juga diperingati dan dirayakan secara serius? Bukankah tidak bakal banyak yang berubah? Untuk apa juga memfokuskan satu hari dan menghabiskan energi yang lebih, ketika kita sebenarnya bisa bersantai? Bukankah lebih baik kita ibadah saja sekarang ini? Sudah waktunya ibadah, bukan?

Ya, tentu saja bersantai adalah pilihan yang tepat hari ini. Selain sembari merenungi hiudp yang serba monoton ini, alangkah baiknya kita berterima kasih. Terima kasih kepada virus yang memuakkan ini. Yang akhirnya membuat kita kalang-kabut bukan? Dan selanjutnya tak ayal, membuat para majikan berpikir ulang jika ingin menyediakan lapangan pekerjaan. Karena masih jauh akan berbicara kenaikan upah, ketika kondisi perekonomian kita kalang kabut. Lantas, siapa yang bisa disalahkan? Jawabannya, adalah kematian!

Sebenarnya juga tidak sepenuhnya salah kematian. Kita juga turut salah dalam hal ini. Karena tidak pernah berupaya untuk menjemput kematian. Kematian yang sudah jelas dari waktu sebelumnya, bahkan sebelum virus ini menyerang. Hanya saja, kita terus membangun sebuah ilusi, bahwa buruh akan punya kemapanan, kesejahteraan, dan ketenteraman hidup yang layak. Wah, seyakin itukah? Seberapa besar rasa yakin itu kira-kira akan bertahan?

Dalam lingkaran kapitalisme dan jaring-jaringnya seperti sekarang, nyawa buruh sudah jelas berada dalam gengagamannya. Jangakan untuk menumbangkan kapitalisme dengan meminjam kekuatan yang dimiliki oleh buruh, untuk membanntu buruh menaiikkan taraf hidupnya satu garis lebih baik saja, kita sangat kesulitan. Betul tidak, wahai suluh pergerakan yang seharusnya mengarahkan buruh ke jalannya? Kenapa kalian masih memilih untuk terus membual? Melontarkan janji harapan yang palsu. Yang bahkan kalian sendiri sebenarnya tidak utuh membayngakan hal itu?

Mari, kita katakan selamat tinggal kepada barisan perlawanan. Barisan perjuangan. Dan barisan para buruh yang riwayatnya tidak lama lagi. Yang perannya akan segera tergantikan oleh mesin buatan, yang diisi oleh kecerdasan buatan. Mari, belum terlambat untuk kita menghiburnya. Belum terlambat untuk kita meninggalkan serta menggoreskan kenangan akhir yang indah, setidaknya sebelum perpisahan ini terjadi. Mari, tidak ada salahnya mencoba, mencoba ikhlas kepada takdir, kepada nasib, dan kepada kematian.

Ayo kita membayangkan apa yang akan terjadi ke depan? Sengsarakah kita tanpa buruh? Kesusahankah para majikan tanpa buruh? Dan akan hancurkah sebuah hirarki kekuasaan jika buruh kita bunuh? Jika kita hilangkan sama sekali peran buruh? Serta kita hapus ingatan tentangnya? Mungkinkah?

Tidak perlu langsung dijawab. Setidaknya masih ada waktu sampai tahun depan. Toh walaupun virus ini berakhir, nasib buruh juga belum tentu membaik bukan? Karena kondisi setelah krisis, untuk ukuran Indonesia, akan selalu mengamankan keselamatan pribadi terlebih dahulu. Mementingkan kebaikan pribadi ke depannya, tanpa pernah ingin tahu nasib di sekitarnya. Sampai sini sudah paham kira-kira? Kalau belum paham, mari kita masuk lebih ke dalam.

Bukankah sudah jelas? Keberadaan buruh karena adanya majikan? Dan eksistensi buruh, sepenuhnya ditentukan oleh eksistensi majikannya? Kalau kita lantas melawan takdir itu, bukankah akan menentang hukum alam? Hukum yang sudah dibuat semenjak buruh pertama kali ada. Siapa yang bisa menduga, kalau hal itu tidak menjadi bencana nantinya? Kekacauan yang akan lahir lalu ditutup dengan sebuah kenormalan. Pembunuhan yang akan timbul atas dalih mengikuti aturan. Begitu menyenangkan untuk dibayangkan.

Jadi, apa yang kita tunggu sebenarnya? Adakah sebuah  harapan yang pada akhirnya melahirkan cahaya tumpuan? Sampai hari itu tiba, apa yang kita-kira mesti kita perbuat? Duduk diam atau bangkit perlahan? Atau kita akan lebih memilih meninggalkan kematian? Ayo kita segera berkumpul, dan segera kita bahas, apakah kita layak merayakan setiap tahunnya “perang yang tidak akan kita menangkan?”

*Buruh digital yang sedang mencari cahaya tumpuan

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel