Bagi Siapa pun, Quarter Life Crisis Itu Menyebalkan, Butuh Proses untuk Bisa Menerima hingga Mengakhirinya



Bagi Siapa pun, Quarter Life Crisis Itu Menyebalkan, Butuh Proses untuk Bisa Menerima hingga Mengakhirinya
Sumber Foto: cuadernoderetazos.wordpress.com
Penulis: Septia Annur Rizkia


“Tidak semua yang mengembara itu tersesat,” J.RR. Tolkien.


Ya, bagi sebagian orang, hidup dalam kebingungan maupun kecemasan adalah hal yang menyebalkan, dan sangat-sangat menyebalkan. Sama halnya ketika memasuki usia 20-an yang penuh dengan ketidakpastian hidup.


Beberapa sumber yang pernah saya baca menyebutkan, setiap orang pasti akan, sedang, maupun pernah melewati fase-fase Quarter life Crisis dalam hidupnya. Quarter Life Crisis atau yang biasa disebut sebagai krisis seperempat hidup, yaitu kondisi di mana seseorang merasa gagal akan hidupnya, hilangnya motivasi, bahkan menarik diri dari pergaulan, yang umumnya terjadi di usia 20-30 tahun.


Perasaan cemas, bingung, bimbang, marah, kecewa, merasa sendiri, merasa terkucilkan, hingga merasa terabaikan, sering kali muncul di saat kita sedang mengalami  fese QLC.


Oh my love, gini aja deh, saya pribadi pernah mengalami fase tersebut. Fase di mana hidup serasa tak hidup, dan pastinya tak semua orang sadar jika ia sedang mengalami QLC. Namun tak jarang pula yang menyalahkan kondisi QLC, yang justru membuat hidup semakin krisis.


Pernah suatu ketika seorang teman mengirim chat di WhatsApp yang berbunyi, “Emang ya, usia 20 ke atas itu masa-masa di mana kita akan mengalami patah hati yang sesungguhnya.” Karena saya merasakan hal serupa, dengan sigap saya pun mengiyakan message yang ia kirim tersebut.


Kalau diingat-ingat kembali, saya pernah benar-benar merasakan krisis di usia 21-22. Ya, itu tahun-tahun yang penuh dengan problem buat saya pribadi. Merasakan jatuh cinta hingga patah hati, yang membuat hati remhook berkeping-keping karena merasa dikhianati. Cihuyy aselole. Kalau sekarang? Ya sudah masuk museum semua, kenangan beserta sosoknya, wehehehe.


Baiq, QLC memang masa-masa yang mengantarkan kita dari satu fase ke fase selanjutnya. Sederhananya, hati serta pikiran kita sedang ditempa, agar menjadi pribadi yang lebih bijak dan dewasa dalam menghadapi persoalan hidup, tjuy! Bisa dikatakan lolos jika mampu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan remidi  jika yang terjadi adalah sebaliknya, Mashoook ra?


Dulu, saya pun sempat putus asa, tidak punya tujuan hidup, dan bingung dengan kemauan diri sendiri. Justru, dari pengalaman patah hati yang membuat hati remhokk, menjadikan saya lebih mengenal diri sendiri, mengenali bakat serta potensi yang sebenarnya sudah lama ada, namun tidak pernah disadari sebelumnya.


Misal nih ya, buat story di sosial media yang bisa menghibur para audiens yang lagi patah hati akibat ditinggal pas sayang-sayangnya. Terhitung pahala gak kira-kira? Memang, sekilas tampak sepele, namun tak dinyana, hal seperti itu merupakan bakat yang tak semua orang bisa lho! Serius.


Oh ya, beberapa pakar di bidang Psikologi juga mengatakan, Quarter Life Crisis adalah fase di mana kita bingung bahkan mencemasakan soal tujuan hidup, pekerjaan, hingga urusan cinta atau asmara. Jomlo merana, entah karena butuh tambatan hati atau lelah dibully sana sini, punya pacar tapi toxic, ada juga kan yang seperti itu?


Saya tekankan, QLC tidak hanya menimpa mereka yang jomlo atau mereka yang pernah patah hati saja ya! Lebih dari itu, QLC bisa menimpa siapa pun, tak mengenal ras, kasta, agama, budaya, suku, jenis kelamin, dan sebagainya. Selama ia manusia, kemungkinan besar akan mengalami fase serupa.


Ada fakta menarik lagi nih, patah hati itu rupanya tidak melulu disebabkan putus cinta lho gaes. Tapi bisa juga karena putus harapan. Contoh, kehilangan pekerjaan di tengah pandemi seperti saat ini.


QLC pun bisa disebabkan karena faktor internal maupun eksternal. Faktor intenal yang berasal dari dalam diri seperti gejolak batin. Namun, tak jarang pula hal tersebut disebabkan oleh faktor eksternal. Misal, kondisi lingkungann, tuntutan sosial, keluarga, dan lain-lain.


Apalagi, menjadi perempuan di usia yang hampir seperempat abad tahun ini, dituntut menjadi tangguh dan siap siaga, untuk menghadapi segala macam pertanyaan yang akan muncul. Yang sudah seperti teka-teki silang, dan akhirnya menjadi tantangan tersendiri.


“Kapan nikah?, sekolah mulu, seseorang tuh belum bisa dikatakan dewasa kalau belum berumah tangga, apa sih yang mau kamu kejar? Kalau sudah ada laki-laki yang datang dan berniat serius ya diterima aja. Jadi perempuan itu nggak usah milih-milih, nanti malah nggak laku, jadi perawan tua baru tau rasa.”


Waduh, hati siapa yang nggak terisis-iris tcuy? Telinga pun sampai basah berlinang air mata. Hei ketahuilah, orang-orang yang masih suka ngompor-ngomporin untuk segera menikah itu, nggak bakalan mau ikut nanggung biaya pernikahan sampai kehidupan pasca itu. Lha terus, kenapa mesti didengerin? Hilih, bacot!


Oh ya, tidak menutup kemungkinan, saya pun bisa mengalami lagi fase tersebut, yang jika dipikir berlebihan justru bikin krisis beneran hingga hilang kendali.


Sebaiknya Bagaimana Menyikapi Kondisi Tersebut?


Menerima segala perasaan yang muncul adalah koenjti. Akui perasaan itu, dan sebisa mungkin belajar mengelola emosi dengan semestinya. Pastinya, jangan sampai berlarut dalam kondisi tersebut, dan membuat kita tidak melakukan apa-apa., sehingga malah memperburuk keadaan.


Selain itu, tak usah membanding-bandingkan pencapaian orang lain yang terlihat lebih gemilang dibanding dengan diri sendiri. Sebab situasi dan kondisi setiap orang pastilah berbeda, dan memang tidak akan pernah sama. Memang bener, kadangkala rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri, padahal kita sendiri tidak tahu-menahu jerih payah serta luka seseorang yang kadang tak ingin orang lain tahu.


Mengontrol ekspektasi juga perlu, agar tak berlarut dalam kesedihan serta tak mudah menyalahkan diri sendiri, yang bisa membuat diri semakin amburadul. Dan tak kalah penting, jadilah dirimu sendiri serta kenali dirimu dengan sebak mungkin.


Data WHO tahun 2018 mengatakan, setidaknya ada 1 orang meninggal di dunia dalam setiap 40 detik akibat bunuh diri. Sedangkan Quarter Life Crisis, juga termasuk dalam isu kesehatan mental, yang tidak menutup kemungkinan seseorang yang tak bisa mengontrol kondisi tersebut, akan memilih jalan pintas serupa.


Maka, jangan diremehkan, memberi dorongan atau support kepada orang sekitar yang memiliki kecenderungan kehilangan arah serta tujuan hidup itu perlu dan penting lho. Bukan malah menertawai atau menganggapnya aneh maupun lebay. Akan tetapi lebih ke menguatkan radar simpati dan empati dengan sesama. Ya karena tugas manusia ya memanusikan manusia. Bukankah begitu saudara-saudari?




Memiliki ambisi belajar kartu tarot

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel