Tebakan yang Tak Tersentuh dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]


Tebakan yang Tak Tersentuh dan Sehimpun Puisi Lainnya [Puisi]

Penulis: Aya*

Khayalan kepada Tuan

Menetapkan labuh pada keadaan sedikit rapuh,
bukan perkara yang mudah untuk kutempuh.
Mungkin kau pernah mendapat keyakinan,
akan apa yang kau bilang ada.
Tapi tuan.
Apa yang ada di keyakinanku,
belum kuyakini benar adanya.

Jangan tanya aku perlu berapa waktu lagi,
untuk meyakini sekadar adanya.
Karena kuyakin,
aku menginginkan selama mungkin.
Jika itu bisa terjadi.

Maka tuan,
atas menunggu dan usahamu,
kini kau kuberi hadiah.
Aku memutuskan untuk meyakini,
adanya keyakinan yang masih kuragukan tadi.

Tidak tuan.
Aku tidak memaksakan diri.
Aku benar-benar sedang merasakannya.
Lalu berusaha untuk menanamnya,
lebih dalam.
Tenang tuan.
Semua akan baik baik saja,
Sungguh.


Tebakan yang tak Tersentuh

Coba tebak.
Apa yang pertama kali terlintas di kepalaku,
saat pertama kali melihatmu?
Aku tak akan pernah bisa mengenalmu,
dengan kacamata dunia yang berbeda.
Juga simpang jalan yang berbeda.
Dan aku pun ternyata,
tak menginginkan itu semua.

Aku hanya ingin menjadi penikmat pesonamu di kejauhan.
Atau dekat, namun tak terlihat.
Kuandaikan kau sebagai mahakarya,
dalam pameran yang tak boleh disentuh oleh pemiliknya.
Kurasa kau pun begitu,
tak boleh kusentuh oleh si pemilik hatimu.

Entah wanita mana yang sedang beruntung bisa memilikimu.
Tapi akupun sudah merasa beruntung,
Karena bisa menatap gerakmu.

Kini beberapa kesempatan ternyata mempertemukan kita.
Bisa saja aku menghapus jarak antara kita,
dan paling tidak menjadi teman dekat.
Atau, lebih, ketika pemilikmu menyerahkan padaku
Tapi lagi, aku hanya ingin mengagumimu


Hari yang Tak Dinanti

Tiba saatnya hari yang tidak dinanti tiba
Kenapa menjadi hari tidak dinanti?
Karena mungkin sebelumnya kita memprediksi,
Bahwa ini akan terjadi.

Aku benci dengan prediksi.
Ia menjadi sok tahu akan apa yang terjadi.
Meyakini lalu menakuti.
Padahal, Tuhan saja tidak membeberkan rahasianya.
bahkan teka teki tentang makna hidup.

Tapi prediksi membuat kita menjadi sok hati-hati.
Kau mau prediksi apa akan hari esok?
Kau bangun dengan senyum,
atau tangan yang mengusap pipi?
Kuprediksi, kau akan menangis.
Sejadi-jadinya.

Aku tahu apa yang akan kau lakukan.
Membuat skenario penutup hari yang indah,
agar prediksiku tidak terjadi, bukan?
Jangan mengelak,
aku juga melakukan itu.
padahal kita tidak pernah tahu,
kalau prediksi itu nyata mungkin,
dan akan banyak pelajaran yang bisa kau ambil.

Lagi-lagi karena prediksi,
kau lebih memilih menghindar.
Sudah kubilang.
Prediksi itu sok tahu.
Kenapa tak dibiarkan terjadi saja?
Toh apapun itu,
selama kau memilih masih hidup.
kau akan menemukan berbagai macam rasa.


Perihal Rasa dan Cinta

Tuan...
Perihal adanya rasa, aku tak lagi ragu.
Perihal cinta, aku jatuhkan untukmu.
Perihal hati, aku tetapkan untukmu.

Namun tuan.
Ragu kini kembali menghantui.
Hadir mencari tepi.
Apakah kini hatimu benar terpatri di sini?
Benarkah rasamu tertuju pada diri ini?

Benar, semua ini bukan hanya sebuah ilusi?
Yang mungkin hadir 'hanya' saat mata kita saling bertabrakan,
dan terbentang sebuah senyuman?
Tuan...
Tak apa jika itu yang tuan rasakan.
Saya tidak bisa pergi saat sedang terjatuh.
Tuan tidak perlu membantu saya untuk berdiri lalu pergi.
Tinggalkan saja saya diruang hampa ini.

Tapi jikalu boleh,
menolehlah untuk terakhir kali.
Pahami apa yang memang kau cari.
Tuan melangkahlah,
telah menunggu seorang pemilik hatimu sesungguhnya.
Tidak, tuan tidak bersalah.
Sudah tuan,
pergilah.

*Pengen bikin istana di Moors

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel