Takdir Gelap Kaum Intelijen


Takdir Gelap Kaum Intelijen

Penulis: Saraswati Kumala

Data Film

Judul               : Joker Game

Sutradara         : Yu Irie

Aktor/Aktris    : Kazuya Kamenashi, Kyoko Fukada, Yusuke Iseya, Keisuke Koide, Jasper Bagg, dll

Durasi              : 108 menit

Produksi          : Toho studio

Menonton film bertema intelijen, selau menarik perhatian saya. Selain karena saya merasa terbawa oleh alurnya, film bertema intelijen selalu menawarkan hal-hal segar yang masih jarang sekali diketahui banyak orang. Kesukaan saya menonton film bertema ini, mulanya dipantik oleh salah seorang teman dekat, yang kebetulan sama-sama menggemari film bertema intelijen. Mulai dari sana, saya seperti kecanduan dan terus mencari film bertema ini yang sekiranya menarik untuk saya tonton

Oh ya, ketika berbicara soal film bertema intelijen, bisa dibilang kalau saya menggemari semua genrenya. Mulai dari yang bergenre komedi, sci-fi, action, misteri dan genre-genre lainnya. Dengan kata lain, asalkan itu film mengandung unsur intelijen di dalamnya, akan tetap saya tonton. Meskipun ada atau banyak yang menyebut serta menilai filmnya jelek, saya akan lebih memilih memastikan sendiri. Ketimbang harus pasrah menerima penilaian yang tidak terlepas dari subjektifitas si penilainya tadi.

Sama halnya dengan tulisan bagi saya, bagus-tidaknya sebuah film, hari ini sudah selaras dengan selera para penonton. Yang oleh sebab itu, tidak lantas bisa kita langsung menghakimi sebuah film kurang berkualitas, lantaran karena tidak sesuai dengan selera pribadi. Sama pula dengan tulisan, saya pribadi tipikal orang yang tidak menilai sebuah film dari bagus-jeleknya. Akan tetapi, lebih kepada apa yang ingin disampaikan oleh film tersebut. Berangkat dari hal itu, saya selanjutnya berusaha untuk tidak mudah menjadi orang yang serampangan dalam menilai.

Tulisan ini akan mengulas film yang baru saya tonton belakangan ini. Sebelumnya, saya tidak tahu menahu soal film ini. Jika tidak karena Corona, kemungkinan besar saya belum akan mengetahui dan menonton film ini dalam jangka waktu dekat.Oke kita langsung saja membahas filmnya.

Film yang akan saya ulas di sini, sebenarnya mengisahkan soal intelijen Jepang pada perang dunia kedua. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, sebelumnya saya sudah pernah mencari tahu soal film intelijen Jepang di internet. Akan tetapi hasilnya nihil, dan saya tidak pernah tahu film yang mengisahkan intelijen negeri Sakura ini. Beruntungnya, salah seorang teman saya, mengumpulkan berbagai film untuk mengisi waktu luang selama masa-masa di rumah aja ini. Salah satunya film yang akan saya bahas ini.

Judul film ini adalah Joker Game. Film ini pertama kali tayang di Indonesia lima tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2015. Film ini adalah film intelijen yang sama sekali berbeda dengan film-film intelijen lainnya yang sudah pernah saya tonton. Karena, ia bukan murni hasil imajinasi si pembuatnya, pun juga bukan diangkat dari kisah nyata. Akan tetapi, film ini diangkat dan mengadopsi jalan cerita dari sebuah novel dengan judul yang sama.

Dikisahkan di awal film, seorang tentara yang melawan atasannya untuk melindungi temannya yang sedang sakit. Di tengah hujan deras dan kilatan petir, Ia dan kawannya tadi, serta tentara lainnya, dipaksa terus latihan. Agar apa? Agar bisa menjadi prsayarat supaya kerajaan kekaisaran Jepang bisa menang dalam perang! Sampai di sini, kita langsung mengetahui, bahwa ada prasyarat yang harus dibayar untuk memenangkan perang. Dan begitu menyedihkannya, bahwa perang sama sekali tidak peduli dengan nyawa seorang manusia.

Oke, saya tidak berniat melow dan sendu. Maksud saya begini, film ini mungkin akan dianggap wah oleh orang Jepang sendiri. Karena kedisiplinan dan kepatuhan, adalah hal yang mutlak di sana. Apalagi jika sudah masuk wilayah kemiliterannya. Tentu harga mati untuk patuh pada atasan. Nah, film ini menyajikan hal yang tidak biasa bagi mereka (orang-orang Jepang). Karena ada seorang anggota tentara yang berpangkat rendah, berani melawan kapten tim, hanya untuk membela temannya yang sedang sakit.

Maka dari itu, menjadi wajar bagi saya kalau film ini, sejak awalnya saja sudah dianggap wah oleh orang Jepang sendiri. Namun, jika kita melihat konteks di Indonesia, melawan atasan adalah hal yang biasa saja bagi kemiliteran kita. Jika tidak percaya, silahkan cari sendiri tulisan-tulisannnya di Tirto yang banyak mengulas soal itu. Yup, balik lagi ke film ini. Sebenarnya bukan soal wah tidaknya anggapan film ini bagi saya. Tapi saya juga ikut senang dengan ide film ini, yang mengedepankan hubungan pertemanan ketimbang kepatuhan yang tidak masuk akal itu.

Setelah aksi yang dianggap pembangkangan itu, tentara tadi dijatuhi hukuman mati, karena diganjar pasal berat yang melarang membantah atasan. Tibalah pada hari eksekusi itu, nasib mujur dan baik memang bumbu yang wajar bukan bagi sebuah film? Nah, tentara ini masih bernasib mujur. Dikisahkan kalau akhirnya ia direkrut menjadi ‘mata-mata’. Dan secara tidak langsung, karir militernya berakhir pada saat itu juga.

Entah benar tidaknya, mata-mata di Jepang sama sekali tidak pernah merekrut orang militer di dalamnya. Karena diceritakan dalam film ini, semua mata-mata yang ada adalah orang sipil. Dan tentara tadi adalah pengecualian. Ia satu-satunya orang yang berlatar belakang militer. Lambat laun, perbedaan latar belakang itu menjadi bahan olok-olokan bagi yang lain. Diperlakukan dengan tidak biasa, membuat tentara ini seperti tambah semangat untuk melampui rekan sependidikannya. Terbukti hasil yang ia capai bisa dibilang  di atas rata-rata.

Film ini memang menyajikan konflik antara kalangan militer dan kaum intelijen. Yang menjadi ide besar dalam film ini, dan hal menariknya, bagi saya ialah kritik kepada militer itu sendiri. Orang yang merekrut tentara tadi, adalah bagian dari militer. Tetapi ia juga sekaligus yang mempelopori adanya divisi intelijen pada waktu itu. Pada akhirnya, unsur dualitas menjadi sangat ditonjolkan dalam film ini. Bahkan, pada sampai akhir film masih akan kita temui hal tersebut.

Takdir gelap yang saya maksud pada judul tulisan ini, adalah tentang kehidupan intelijen itu sendiri. Ya, mereka yang menolak pada kepatuhan mutlak, pada akhirnya tetap saja harus patuh kepada aturan. Sebelum mengakhiri tulisan ini, perlu saya sampaikan kalau film ini sangat unik. Keunikannya terletak pada larangan bagi intelijen Jepang untuk membunuh, terbunuh, dan bunuh diri. Yang kalau ingin kita bandingkan dengan intelijen di Indoensia atau intelijen pada umumnya, tentu sangat berkebalikan bukan?

Oleh karena itu, film ini tetap saja membawa hal baru yang segar yang sayang sekali jika kita lewatkan. Akhir kata, saya sarankan untuk menonton film ini, dan jangan lupa tertawa dan berbagialah setelah menontonya. Karena apa lagi selain tertawa yang bisa kita lakukan, ketika menghadapai yang namanya takdir gelap. Ya, tentu saja gelap seperti kelanjutan hubunganmu dengannya~

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel