Surat yang Hilang


Surat yang Hilang
Sumber Foto: imdb.com

Penulis: Nurinawati Kurnianingsih

Di sepanjang jalan yang ramai, aku melihat bayangan tubuhku teramat besar. Tak mengerti bagaimana cahaya melukis diriku yang begitu aneh di aspal. Pada daun yang terjatuh aku mengatakan:

“Jika hidup hambar begini, bagaimana aku mendapatkan cinta seperti mereka?” batinku sambil berjalan menuju pulang.

Ah, mungkin banyak wanita atau lelaki pada umumnya yang kesepian. Tanpa cinta, tanpa kasih sayang, dan tanpa kejelasan seperti diriku. Atau mungkin hanya drama cinta moyet, cinta segitiga, long distance relationship, putus nyambung bahkan cinta lebih dari cintanya sendiri, yang berujung pada hampir  membunuh diri sendiri.  Hingga akhirnya sampai pada bangunan berwarna merah, dengan banyak bunga-bunga taman di sekelilingnya.

Aku menyambut lesu ucapan ibuku. Hal yang tak biasa ku jalani seperti ini, keadaan memaksaku untuk mengikuti kehidupan yang melarat. Semenjak ayah pergi dengan istri barunya, serta pacarku yang menghilang entah kemana?

***

Fakhri, sosok lelaki dengan gaya rambut super lepes. Anak yang menyunggingkan senyum manisnya itu memintaku untuk berpacaran. Tak mengerti apa yang telah terjadi di antara kita. Aku mula-mula tak suka dengannya, apalagi mendengarkan dia saat kentut di kelas, terlebih setelah tahu ia menjadi anak pemalak di SMA Bakti. Jika diibaratkan dengan bunga yang ada di halaman rumah, dia bagaikan bunga kaktus. Iya, tidak berbau, tetapi banyak duri yang ku terima ketika harus dimiliki. Tanpa alasan apapun dan perasaan apapun, aku mengatakan padanya.

 Baiklah aku terima kamu jadi pacarku”. Seketika ia bergembira dengan naik ke meja kelasnya sambil berteriak

 “Yes, aku diterima sama kasih.” Tangannya lalu memegang tanganku,dan matanya yang indah itu, menatapku, sampai ingin bibirku juga bertemu.

Kita yang selalu bersama, berjalan ke mana-mana bersama. Aku yang ditraktirnya di kantin saat jadian, dijenguknya ketika berada di UKS, dan diantar pulang rumah, diajak main bahkan di kenalin orang tuanya. 

Kita punya sejuta mimpi yang di tulis di meja sekolah.ukiran dari pisau kecil yang aku tulis dengannya menceritakan tentang menikmati segala duka dan bahagia pernah dirajut di ruang kelas ini.Aku yakin nuansa cinta yang begitu dalam diantara kita akan abadi, semilir angin sore menujuku harus pulang rumah. Fakhri mengantarkanku pulang sampai di depan rumah.

“ Tidak mau mampir? Tanyaku padanya.

“ Kapan-kapan, aku mau main,  sore ini  ada janji sama temen-temen, di tempat biasa.”

“ Oke, hati-hati ya, sampai jumpa besok.”

Satu jam kemudian, fakhri tak memberiku kabar dan aku tunggu sampai bulan medongeng, sampai mentari tiba di timur tak ada notifikasi pesan darinya.
Aku bawakan sandwich dan minuman susu ke sekolah untuknya, mungkin kemarin dia kelelahan hingga rasa bantal adalah tempat ternyaman.

Suara bel, tanda masuk sekolah telah dibunyikan. Fakhri belum datang ke sekolah, entah dia berangkat atau tidak, perasaanku khawatir muncul kalau dia sakit. Atau dia bolos lagi, tapi tak mungkin dia sudah berubah semenjak kenal aku. Sudah berhenti jadi pemalak dan bahkan menutup kentutnya yang sembarangan. Pertama kali aku pergi ke gudang belakang tempat dia istirahat bersama teman gengnya.

“ Lihat Fakhri gak kalian?” tanyaku ketakutan memasuki ruang gelap dan berbau tak sedap, dan banyak mereka yang menyesap rokok.

“ Fakhri gak masuk, mungkin lagi di bawa sama tantenya.” Jawab lelaki tak ku kenal.

“ Fakhri hari ini gak kesini, bahkan kemarin juga tidak main bareng.” Jawab lelaki rada lembut dan sopan.

“ Fakhri kemarin nitip pesan ke saya, katanya suratnya suruh dititipin sama kekasih.” Kata temannya yang tak kukenal juga.

“ Lalu mana suratnya?” Pintaku.

“ Di atas meja, masuk saja ke ruangannya Fakhri.” Aku dipersilahkan masuk ke dalam.

Semakin aku masuk banyak rasa yang tak ingin ku rasa, bau minuman dan rokok. Hatiku saat ini bukan untuk melihat kalau fakhri juga sama seperti mereka. Tidak dia anak baik-baik. Lalu aku buka pintu ruangan itu. Astaga aku tidak pernah melihat banyak foto perempuan yang terpajang seperti ini, dan diantaranya adalah temanku sendiri, bahkan Fakhri terlihat romantis dengan temanku.

Lalu maksudnya apa Fakhri mengatakan semuanya tentangku dengan kata cintanya?” Lantas dengan hati yang tak kuat, bayak juga air mata yang menetes, aku pergi dari ruang penghianatan itu, sambil melempar kursi dan membantingnya. Jujur kepingan kesediahan membanjiri jiwa ini, seperti rasa pengorbananku dan lelahku tak dibayar serupa dengan kejadian saat ini.

***

Waktu berlalu cepat, tuhan menciptakan dunia dengan penuh kesempurnaan. Aku mengantungkan diri untuk merajut kuliahku di bangku negeri. Memutuskan mengambil jurusan Sastra. Tak banyak aku pelajari dari seseorang yang masuk kuliah jurusan sastra harus pandai memahami puisi dan lain-lainnya, yang diksinya cukup rumit dipahami. Aku baru saja menetap di semster genap. Lantas dalam benakku masih saja melukis wajahnya yang terkenang tentang Fakhri yang meninggalkanku tanpa pamit. Sebab tak jelas. 

Aku lupa, aku belum pernah membuka suratnya dahulu, kira-kira suratnya masih ada tidak yah?
 
Semilir angin mesra berbisik “ biarkan saja, dia sudah tidak pantas untukmu.”

Lalu segelintir daun jatuh di rambutku, pertanda ada tanda dari hal ini. aku berlari mengejar daun yang jatuh itu. Kebetulan kuliah hari ini libur, aku akan berkunjung ke SMA Bakti hari ini.

“ assalamualaikum, Pak Darmo.”  penjaga sekolah itu.

“ walaikumsalam,” salamnya terjawab.

“ Saya boleh ijin ke gudang belakang Pak Darmo, karena satu tahun lalu pacar saya menitipkan surat , yang sekarang belum pernah saya buka. Barangkali masih ada Pak Darmo.

“ Baik, Silahkan, hati-hati karena bangunan ini sudah tua.”

“ Oke” 

Lalu aku menyusuri dan mencari surat yang hilang, sudah banyak debu dan sarang laba-laba, ruang ini abu-abu, banyak kisah yang aku buang di dalamnya, dan ruangan ini tak pernah ada yang tahu. Ternyata aku menemukan suratnya, surat ini terlihat berbeda ada yang menghiasnya dan tersimpan rapi dalam kotak merah berpita. Serta ruangan yang tak ada lagi foto Fakhri dengan wanita lain.Lalu surat itu aku buka dan aku baca. Ternyata dia mengucapkan hari jadi kelahiranku. Dan aku masih mencintaimu Fakhri. Aku akan menjaga cinta Fakhri dengan nyawa dan kerinduan ini.



Mahasiswi semester 6 di IAIN Purwokerto jurusan Perbankan Syariah. Bergiat  aktif mengikuti Sekolah Sastra Peradaban Purwokerto, Lintang Indonesia, Relawan Membaca dan Redaksi Blank. Karyanya pernah dimuat di: Simalaba.net, Metamorfosa , Majalah  Suluh, Puisi Pendek Net, Negeri Kertas Com, Ayo Sekolah. Pengejar Aksara, Antologi menuntaskan ritual rindu oleh Jsi(2018), 250 Terbaik LCPN Rindu oleh Antaraksa(2019), puisi LCPN ke VI oleh T-Zone Publisher (2019), LCPN arti bahagia oleh Jejak Publisher dan Nyilih.com (2019), LC Cerpen Nasional di Pondok An-Najah Purwokerto (2018), LCPN oleh Santri Chenel Menulis(2018), LCPN tema kenangan oleh Mandiri group(2018), Finalis 10 Besar LC Esay Nasional oleh Dema-I IAIN Purwokerto (2019)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel