Surat Terbuka kepada Pembaca tirto.id Sedunia


Surat Terbuka kepada Pembaca tirto.id Sedunia
Sumber Foto: grid.id
Penulis: Lily Febrianty*

Selamat ulang tahun Soe Hok Gie. . .Semoga arwahmu tenang di surga sana. Semoga kau tidak kesal dengan kami para pengagummu. Yang belum bisa mencontoh sepak terjangmu. Apalagi keberanianmu untuk mati muda. Dari kami yang cuma berani mencontoh rutinitasmu naik gunung.

Setelah membaca tulisan di tirto.id soal Soe Hok Gie, saya tidak tahan untuk tidak menulis surat terbuka kepada tirto.id sendiri, dan para pembaca tirto.id sedunia. Rasanya jadi gatel nih tangan, dan penuh isi kepala kalau surat terbuka ini gak segera saya tulis. Saya pengen protes keras ke tirto, dan mengkritik kenapa judul tulisan yang diposting tirto dua hari yang lalu seperti itu?

Apakah ada sebuah ketakutan, sehingga harus mengubah judul tulisan yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya dengan judul "Saat Politik Memecah Belah, Mari Naik Gunung Seperti Hok Gie", ini. Kenapa melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali dengan judul “Mati Muda Soe Hok Gie di Tanah Tertinggi Pulau Jawa” yang mengisyaratkan sebuah kegetiran dan terkesan cemas seperti itu?

Apakah judul sebelumnya kurang menarik minat pembaca? Apakah judul sebelumnya kurang relevan dengan kondisi politik hari ini? Saya kira enggak sama sekali! Jika menjadi kurang viral tulisan tersebut dengan judul yang lama, saya kira gak jadi masalah.

Saya sangat menyayangkan dengan adanya perubahan judul seperti itu, yang menurut saya menyempitkan makna sebuah tulisan yang membahas soal sejarah dan sedikit banyaknya telah mengubah opini publik. Menyempitkan makna yang saya maksud di sini adalah, penyempitan sejarah yang dilakukan oleh tirto terhadap Soe Hok Gie. Karena lagi-lagi, Soe Hok Gie adalah sosok yang seharusnya menjadi panutan bagi sebagian besar kalangan, baik itu politisi, aktivis, dan mereka-mereka yang mengaku memperjuangkan keadilan di negara kita ini, terlebih lagi khususnya kalangan mahasiswa (tentunya tidak hanya sekedar mahasiswa MAPALA).

Saya tidak berusaha sok pintar, atau lebih tahu daripada orang-orang yang berkutat dan berjibaku serta sudah lama malang-melintang dalam dunia kepenulisan. Seperti para jurnalis yang ada di tirto tentunya. Saya malah mengagumi—walaupun tidak jarang jengkel—dengan beberapa tulisan yang dimuat di tirto. Menurut saya, tirto punya ciri kepenulisan yang khas terkait soal sejarah. Terkadang, sejarah yang ditulis saya anggap berguna, karena seringkali tirto menulis sejarah yang masih sangat jarang diketahui oleh publik.

Akan tetapi, lagi-lagi saya sungguh menyayangkan dengan adanya perubahan judul dari tulisan yang membahas Soe Hok Gie tersebut. Judul dari tulisan tersebut, saya nilai tidak bertendensi terhadap upaya gerakan agar masyarakat Indonesia—dalam ukuran kualitatif dan kuantitatif—melek sejarah. Alih-alih mencerahkan soal sejarah, apa yang dilakukan tirto dengan perubahan judul tersebut, membuat sejarah yang berkaitan dengan Soe Hok Gie semakin tercecer.

Kenapa semakin tercecer? Karena, orang yang tidak kenal dengan tindak-tanduk serta sepak terjangnya Soe Hok Gie, akan sangat mudah menyimpulkan, bahwa Soe Hok Gie tidak lebih dari seseorang  yang pernah jadi Mahasiswa dan yang hobi mendaki. Dengan kejadian tersebut, saya jadi ragu terhadap kapabilitas dan kualitas kepenulisan sejarah yang dilakukan tirto hari ini.

Selain itu, saya menilai ada kegentaran, serta keragu-raguan dan tersirat adanya penuruan kualitas keberanian dari tulisan yang diposting oleh media nasional sekelas tirto.id. Padahal, selama yang saya tahu, sebagai media kelas nasional, tirto selalu menjadi garda depan yang saya anggap kapabel dalam hal penulisan sejarah. Kalau boleh memberi saran, saya malah lebih mendukung ketika tirto.id menulis tulisan baru yang sejenis, yang tentunya menopang dan mendukung tulisan tersebut, bukan malah mengganti judulnya.

Ajakan yang esensinya baik yang menjadi kutipan dari tulisan tersebut; “Mari naik gunung seperti Gie dengan prinsip keselamatan yang utama. Namun, bukan untuk mati muda, seperti yang ditulis dalam catatan hariannya,” secara tidak langsung, semakin mencitrakan Soe Hok Gie murni hanya sekedar pendaki, tanpa ada embel-embel lain yang bisa dijadikan pembelajaran dari “aktivis mahasiswa” satu itu.

Padahal, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari Soe Hok Gie terlebih soal sejarah perpolitikan Indonesia waktu itu. Dan saya tegaskan lagi, Soe Hok Gie gak sekedar naik gunung lho ya, inget! Awas kalo masih ada yang cuma bisanya nyinyir doang dan bilang kalo Soe Hok Gie kerjaannya cuma naik gunung, setidaknya dia lebih produktif karena bergerak (baca; mendaki). Ketimbang yang bernyinyir ria itu sambil berlama-lama nongkrong (duduk) di warung kopi, tanpa melakukan kegiatan yang produktif, dan sekedar ngobrol ngalor ngidul gak jelas.

Mengutip perkataannya alamarhum Daoed Joesoef soal utopia realistik, saya kira Soe Hok Gie termasuk salah satu tokoh yang berpikiran seperti itu. Sangat jarang seorang tokoh di setiap zamannya berpikiran utopia realistik seperti ini. Seringkali yang kita temukan adalah tokoh yang berpikiran utopis non realistik dan tentunya seringkali mementingkan kepentingan golongannya. Berbeda dengan Soe Hok Gie yang berpandangan utopia realistik, dan berusaha mewujudkan utopia realistik tersebut menjadi utopia kolektif yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara ini. Hal itu terbukti dari beberapa perkataannya;

  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.

  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
Saya mau menyatakan kepada pembaca tirto sedunia, bahwa jika mau jadi pendaki minimal punya filosofi yang jelas, ya.. . Jika ditanya alasan kenapa naik gunung, jangan sampe jawabannya cuma sekedar; biar pernah aja, biar keren, biar punya kenangan sama pacar muncak bareng. Nyebelin lho emang kalo denger jawaban yang terakhir, hemmm..

Dengan judul baru yang telah dirubah, saya menilai tulisan tersebut, okelah pasti jadi lebih viral. Karena pasti banyak pendaki yang setuju akan hal itu. Akan tetapi, judul tersebut secara tersirat juga menghilangkan makna aslinya. Jika salah satu tujuannya agar pembaca lebih mengenal sejarah, saya rasa maksud tersebut sudah gagal total!

Seperti petuah Gie sebelum kematiannya; “masalah perbedaan itu soal bersikap”, dari petuah itu sepertinya kita bisa belajar membuang dan mengambil yang punya arti penting dari sejarah kita, bukan?

*Pendaki gunung yang suka ke pantai.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel