Setangkai Parijoto Untukmu


Setangkai Parijoto Untukmu

Penulis: Impian Nopitasari


Aku tidak tahu apakah ada orang yang lebih bodoh berada di bus yang penuh sesak sambil membaca pesan dari orang yang tidak berguna. Ya, seharusnya memang tidak berguna karena seperti menghangatkan makanan basi. Makanan basi dihangatkan sedemikian rupa pun tetap tidak layak dimakan. Kecuali kalau memang ingin keracunan. Sialnya, orang itu memilih menjadi bodoh dan keracunan. Orang itu adalah aku.


“Kamu benar-benar tidak mau membantuku?”


Deretan huruf yang terpampang di layar telepon pintarku hanya kuabaikan saja tanpa berniat untuk membalasnya. Bus yang membawaku dari Solo menuju Purwodadi ini sudah sampai Sumberlawang dan aku memutuskan untuk tidur. Walau banyak orang yang bilang bus menuju kota kelahiranku bobrok dan ugal-ugalan semua, aku tetap bisa tidur. Aku bisa tidur dalam kondisi bus ngebut, banyak pedagang asongan, pengamen yang menyanyikan lagu itu-itu saja, orang yang berbicara lewat telepon dengan begitu kerasnya, bahkan ketika setir bus lepas ketika bus sedang berjalan, aku tetap bisa tidur. 


Tapi aku terjaga gara-gara pesan itu. 


“Aku tahu ini akan membuatmu tidak berkenan. Tapi aku tahu kamu adalah orang baik yang tidak akan tega menolak permintaan tolong manusia lainnya. Tolonglah, aku hanya ingin setangkai parijoto darimu, untuk selamatan kelahiran anakku.”


Seseorang yang sudah kau hapus dari hidupmu tiba-tiba muncul lewat pesan. Memintamu peduli dengan kehidupannya. Apakah hidup memang sebercanda ini?


“Banyak orang yang menjual buah parijoto beserta olahannya. Kenapa harus aku? Kenapa aku harus peduli dengan kelahiran anakmu atau apalah itu? Adakah alasan yang lebih logis lagi untuk menghubungiku? Aku sudah bilang tidak ingin mendendam padamu, aku hanya minta tolong jangan menghubungiku. Dan kau baru saja melanggarnya.” Akhirnya kubalas juga pesan itu.


“Maafkan aku telah melanggar kesepakatan itu. Tapi apakah kau bisa menolak permintaan seorang ibu? Ibu yang menyuruhku menghubungimu. Ia ingin kau yang memetik buah parijoto itu untuk cucunya. Ibu bilang kamu adalah orang baik yang pantas melakukan itu. Perempuan baik yang pernah disakiti oleh anaknya. Kamu boleh tak peduli padaku, tapi tolong, ini ibu yang memohon padamu.”


Aku paling benci dengan jawaban seperti ini. Bisakah ia berbohong dengan cara lain selain membawa-bawa nama ibu? Oh Gusti, tidak cukupkah tangisku ketika melihat foto pertunangannya? Video pernikahannya? Semua dikirim oleh teman-temannya kepadaku. Dan sekarang? Sekarang aku harus peduli pula dengan kelahiran anaknya? 


“Simpang Lima...Simpang Lima...yang turun...yang turun...”


Teriakan kernet bus membuyarkan lamunanku. Aku turun dan diserbu oleh penarik becak. Aku menggeleng dan memilih naik angkot untuk kemudian pindah bus menuju rumahku. Di perempatan Bejo Purwodadi angkot menurunkanku. Di sana sudah ada bus yang siap membawaku pulang ke rumah.


“Sulursari..Sulursari...,” kernet bus memanggil-manggil penumpang. Berkali-kali ia berteriak begitu.


“Sulur, Mbak? Ayo mangkat!” kernet itu melambaikan tangan padaku sebelum bus berjalan.


Tepat ketika bus menuju Sulursari hampir berjalan terdengar teriakan dari bus di belakangnya.


“Kudus...Kudus...Kudus, Mbak?”


Aku mengangguk dan masuk ke dalam bus tersebut. Entah apa yang merasukiku saat itu. Sepertinya aku memang sudah keracunan makanan basi.


***


Yang kupikirkan pertama kali ketika bus berjalan meninggalkan kota Purwodadi adalah menelepon Rendra, sahabatku. Aku tahu dia akan mengerti dengan kegilaanku, meskipun aku akan dimaki-maki dahulu.


“Aku tidak peduli kau sedang apa. Dua jam lagi kau harus sudah ada di Proliman Tanjung untuk menjemputku,” kataku begitu telepon diangkat.


“He...cah gemblung. Mudheng tah ora? Aku isih kerja. Ngapa dadakan?” sudah kuduga ia pasti akan misuh-misuh.


“Sudahlah, dua jam lagi kau sudah pulang kerja kan? Awas kalau kau tak muncul. Sayonara untuk pertemanan kita,” cepat-cepat aku mematikan telepon sebelum ia ngomel-ngomel lagi.


Aku menelepon ibu, mengabarkan kalau aku mengundur waktu pulang. Ada urusan dadakan di Kudus. Tepatnya urusan yang kuada-adakan sendiri. Mungkin benar kata orang, aku memang orang yang susah ditebak, bahkan oleh diriku sendiri.


Sebenarnya ini bukan urusan seseorang yang memesan buah parijoto saja. Semua ini tidak menjadi masalah, kalau saja yang memesan bukan seseorang yang ingin kuenyahkan dari ingatanku. Sudah sering aku diminta tolong orang untuk mengirimkan buah khas Muria itu. Buah yang dipercaya bisa meningkatkan kesuburan bagi perempuan. Aku sendiri pernah memakan buah itu. Kupikir ini bukan buah yang enak untuk dimakan, rasanya sepet dan asam. Persis seperti kisah hidupku.


Aku tersadar dari lamunanku ketika kernet meneriakkan Proliman Tanjung. Lebih dari setengah penumpang turun di sini. Aku menyeberang jalan menuju SPBU Tanjung untuk sekadar istirahat dan menunggu Rendra. Anak itu tidak mungkin tepat waktu.


            Setengah jam kemudian sosok laki-laki mungil dan gempal datang dengan motor matiknya. Dengan wajah yang menyebalkan ia menyodorkan helm padaku.


“Kau sungguh merepotkan,”


Aku hanya tertawa mendengar omelannya.


“Wis lah. Kau tak mungkin bisa marah padaku. Kau senang kan kukunjungi?”


“Gak usah cerewet. Mau makan di mana?”


Sak-sakmu. Manut.”


Rendra membawaku ke tempat makan yang tidak jauh dari tempat kami bertemu. Sebuah pusat tempat makan dengan banyak warung berjejer yang menyajikan menu yang sama, Lentog Tanjung. Aku tak pernah lupa mampir ke tempat ini ketika berkunjung ke Kudus. Kami tidak perlu kebingungan memilih untuk makan di mana karena sudah punya langganan di sini. Sebuah kios di tengah ruko dengan tulisan Warung Lentog Bu Karti menjadi tujuan kami.


Bu Karti, perempuan bertubuh gempal yang kukenal ramah itu menyambut kami. Dengan logat Kudusnya ia menanyakan kabarku, kenapa lama tak mampir. Dengan hafal ia menyajikan lentog tanpa aku repot-repot memesannya. Seporsi lentog yang terdiri dari lontong dan sayur gori (nangka muda) dengan ekstra cabai rawit, kuah yang banyak, ditambah bakwan dan sate telur puyuh. Berbeda dengan Rendra, ia lebih suka menambahkan sate usus dan tidak suka banyak cabe rawit. Mungkin karena itu ia sabar menghadapiku, karena kata orang Jawa, orang yang sabar itu adalah yang panjang ususnya, ia suka makan usus.


“Jadi apa tujuan kedatanganmu kali ini?” tanya Rendra setelah puas memasukkan potongan lontong ke mulutnya.


Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah sibuk menggigit bakwan. Aku baru menjawab pertanyaan itu ketika kulihat wajah kesalnya. Kujelaskan soal pesan itu dan kenapa aku memutar tujuanku, dari yang seharusnya pulang malah jadi makan lentog bersamanya.


“Tahun sudah berganti, dan kau masih sama saja bodoh,” gerutunya sambil meletakkan sendok di piring dengan kesal. Bu Karti sampai menengok ke arah kami karena mendengar dentingan sendok dari Rendra.


“Aku mungkin bisa mengabaikan dirinya, tapi aku tidak bisa mengabaikan permintaan seorang ibu, Ren,” aku mencoba membela diri.


“Tahu dari mana kalau lelaki itu tidak berbohong? Ayolah aku sudah bosan memperingatkanmu. Kapan kau peduli dengan dirimu sendiri?”


Kuhabiskan teh manis di hadapanku. Aku ingin membayar pesanan kami tapi Rendra mencegahnya. Ia tidak memperpanjang masalah ini. Aku menurut saja mau diajak ke mana. Tapi ia seperti biasa, selalu tahu tempat mana yang ingin aku kunjungi.


Aku selalu suka berkeliling kota ini. Bau kretek yang mengingatkanku pada Dasiyah, sang Gadis Kretek dalam novel karangan Ratih Kumala, Pak Nitisemito Sang Raja Kretek yang melegenda itu atau Djamhari, seseorang yang misterius sampai sekarang yang diyakini sebagai penemu kretek. Aku lebih baik mengingat tokoh-tokoh itu daripada mengingat lelaki yang melinting rokoknya di sebuah warung sate di Yogya. Lelaki yang kadang memintaku melintingkan rokoknya, yang berkata selalu suka dengan lintinganku, dengan manis ludahku. Lelaki yang sama yang memintaku memetik buah parijoto untuk selamatan kelahiran anaknya.


***


Hari ini Rendra mengantarku ziarah ke makam Sunan Muria. Kemarin ia sudah mengantarku ziarah ke makam Sunan Kudus. Aku memang suka mengunjungi makam-makam wali untuk mencari ketenangan. Apalagi setelah ziarah aku bisa makan makanan kesukaanku, martabak telur puyuh yang mangkal di utara Masjid Menara.


“Yakin mau naik sendiri? Nggak mau ngojek?” tawar Rendra yang kujawab dengan gelengan kepala.


“Nggak, Ren, aku ingin menikmati perjalanan sowan Njeng Sunan dengan menaiki ratusan anak tangga itu.”


“Nggak capek?”


“Tidak ada rasa lelah untuk bertemu dengan yang dicintai,”


Rendra mengerti pilihanku, dan bilang ia akan menunggu di bawah. Aku mulai mendaki anak tangga satu demi satu. Di kanan kiri banyak kios yang menjajakan barang dan jajanan. Dari garut, ganyong, buah parijoto, makanan khas kudus seperti jenang dan berbagai macam baju. Para penjual itu menawarkan dagangan yang mereka jual, yang akhirnya kubalas dengan senyuman saja. Aku belum ingin membeli dagangan mereka sebelum turun dari ziarah. Aku hanya sesekali saja berhenti untuk istirahat.


      Di dalam area makam aku tak bisa menahan air mataku. Segala keluh kesah kutumpahkan. Segala doa kupanjatkan. Aku tak peduli dengan banyak peziarah di sekitarku, yang penting aku puas menumpahkan rinduku pada Kanjeng Sunan. 


        Keluar dari makam aku menyempatkan diri mengambil air dari mata air di area makam. Air yang dipercaya memberi berkah. Aku membawa dua botol air minum untuk diisikan oleh petugas. Kuselonjorkan kakiku sebelum menuruni anak tangga. Kulihat masih banyak peziarah mengantri mengisi botolnya dengan air. 


         Seorang wanita kutaksir berumur 60 tahunan. Ia duduk di sebelahku, seperti menahan penat. Raut wajahnya menunjukkan rasa kecewa. Sepertinya ia kehausan. Aku memberanikan diri menawarkan air minum.


      Mangga, Bu. Menawi badhe ngunjuk.” Kataku sambil memberikan satu botol air minumku. Aku ragu ia akan menerimanya karena bagaimanapun aku adalah orang asing.


        Walah, maturnuwun, Mbak.” Tak kusangka ia menerimanya dan meminumnya sampai habis setengah botol. Setelah minum, ia lalu bercerita bahwa lupa membawa botol sehingga tidak bisa ikut mengantri mengisi air keramat. Botol di dekat mata air juga habis, mungkin karena banyak pengunjung. Ia bercerita kalau air itu akan diberikan kepada anaknya yang sedang mengandung agar mendapat berkah. Aku merasa iba padanya, kuberikan sebotol airku padanya.


        “Ini untuk jenengan saja, Bu. Saya masih punya kok. Semoga berkah untuk anak dan calon cucunya,” kataku sambil mohon diri untuk meninggalkan tempat itu. Aku harus segera turun, membeli buah parijoto di bawah dan segera menemui Rendra.


       “Mbak, Mbak, tunggu. Ini tolong diterima,” perempuan itu menyerahkan sesuatu padaku. Sesuatu yang membuatku tercengang. 


      “Buat apa ini, Bu? Bukannya anak ibu lebih membutuhkan? Saya tidak sedang mengandung loh,” kataku sambil tertawa.


         “Loh, parijoto ini bukan hanya untuk orang hamil loh, Mbak. Buat kesehatan kan bisa. Saya sudah maturnuwun sudah dikasih air, mohon diterima nggih,”


Kuterima setangkai parijoto itu. Aku percaya setangkai parijoto ini bukan setangkai parijoto biasa. Dalam tiap tangkai dan buahnya ada doa seorang ibu. Aku tidak bisa menolak permintaan seorang ibu. Aku di sini karena permintaan seorang ibu, aku juga akan pulang dengan membawa doa seorang ibu. Untuk kamu yang memintaku mengirimkan buah ini untukmu, ketahuilah, setangkai parijoto ini kukirimkan untukmu, tapi bukan benar-benar untukmu.


***


 
Menulis fiksi berbahasa Indonesia dan Jawa. Bersenang-senang di Komunitas Pawon Sastra Solo. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerita berbahasa Jawa berjudul Kembang Pasren (Garudhawaca, 2017). Bisa dihubungi di twitter dan instagram @dreamy091_

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel