Sejarah Kolonial yang Menyegarkan


Sejarah Kolonial yang Menyegarkan

Penulis: Suana Wiyadi

Identitas Buku

Judul: Semua untuk Hindia

Penulis: Iksaka Banu

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan: Maret 2018

Tebal: xvii+154

Jika boleh jujur, sejarah adalah mata pelajaran yang tidak saya sukai semasa sekolah. Selain karena gurunya yang menurut saya tidak kompeten, sejarah disampaikan dengan cara yang amat membosankan. Contoh kecilnya, jika ditarik ke belakang tidak terlalu jauh, yang masih saya ingat sampai hari ini, ialah muka merinding guru saya ketika menyampaikan sejarah G30S/PKI. Dari situlah akhirnya hari ini saya tahu, guru sejarah sekolah saya dulu tidak pernah benar-benar serius ketika kuliah.

Bukan, tulisan ini tidak bermaksud menjelekkan guru saya tersebut. Yang ingin saya sampaikan ialah, sejarah tidak bisa kita lihat hanya sekedar hitam-putih. Karena beda pandangan, akan berbeda pula artinya. Belum lagi kalau berbicara makna tersirat yang terkandung di dalamnya. Tentu banyak rupa-rupa warna yang bakal kita temui. Malah bisa jadi, sejarah datang kepada kita dengan transparan sama sekali. Hingga akhirnya, membuat kita menafsirkan sendiri dengan warna yang kita dapati.

Sejarah, bukan pula sebatas siapa menang dan siapa kalah. Jikalau hanya dimaknai sebatas itu, maka kita tidak akan memetik hikmah atas frasa “belajar dari sejarah”, bukan? Menurut hemat saya, bukan waktunya lagi sejarah kita anggap sebagai sebuah momok hari ini. Kalau sejarah terus dijadikan sebagai alat dari sang pemenang, pertanyaannya, sampai kapan kita hendak melahirkan kekalahan-kekalahan baru?

Bukankah sejarah sama sekali berbeda dari yang namanya persaingan? Dan untuk apa pada akhirnya kita bersaing mengatakan sejarah versiku yang paling benar? Apakah ada sebuah kerugian di kemudian hari, kalau sejarah hari ini yang kita amini, pada nyatanya tidak sesuai dengan apa yang terjadi? Entahlah, butuh waktu banyak saya kira untuk membincang hal itu. Oleh karenanya, mari kita bahas saja salah satu novel sejarah yang sangat cocok menjadi konsumsi umum.

Ya, Iksaka Banu sudah bisa dikatakan sebagai ahli sejarah hari ini. Dengan keterampilan meracik narasi sejarah, ia seakan menghadirkan wajah sejarah yang sama sekali baru. Dalam artian, dirinya benar-benar bebas bergerak tanpa takut dengan jeratan-jeratan sejarah itu sendiri. Secara tidak langsung, ia juga seperti menolak pakem yang sudah digariskan oleh ahli sejarah nasional. Tidak berhenti sampai di situ, nyatanya ia mampu berdiri sendiri sekaligus menyatakan, bahwa inilah yang dinamakan sejarah! Bahwa ia juga bisa menyegarkan para pembaca sejarah, sama sekali tanpa niat untuk membodohi.

Nama Iksakan Banu, awalnya juga nama yang asing di telinga saya. Hal ini tidak terlepas karena minimnya referensi sastra saya hari ini. Ditambah lagi, saya juga yang kurang baca sejarah. Barangkali, ini salah satu kelemahan saya dan kebanyakan dari kita, yang belum bisa mendamaikan sastra dan sejarah itu sendiri.

Karena sulit untuk dipungkiri, kita masih mengkonsumsi cema bahwa sastra tidak bisa dipakai sebagai bahan sejarah. Padahal, bukankah  sejarah kita selalu diabadikan dalam cerita-cerita yang sastrawi? Lantas, kenapa kita masih bersilaju anggapan bahwa sastra akan selalu berada di belakang sejarah? Apa yang membuat sastra tidak bisa berjalan beriringan dengan sejarah? Apakah karena kecongkakan kita dalam menafsirkan sesuatu? Yang jelas, hal ini bakal terus menjadi tantangan sastra-sejarah kita di kemudian hari. Apabila kita masih menganggapnya sebagi hal yang wajar.

Untuk mengakhiri perdebetan itu semua, saya kira buku kumcer Iksaka Banu yang berjudul Semua Untuk Hindia adalah jawabannya. Buku ini diawali oleh cerpen yang berjudul Selamat Tinggal Hindia. Secara tidak langsung, cerpen ini yang saya sebut sebagai pelopor untuk mengakhiri beberapa perdebatan di atas. Kenapa bisa begitu? Dari judulnya saja, kita sudah bisa menebak kalau Iksaka Banu bermaksud mengucapkan selamat tinggal pada perdebatan antara sastra dan sejarah yang usang, dan sebenarnya sudah tidak patut kita perpanjang.

Selanjutnya cerpen yang berjudul Stambul Dua Pedang. Pengkhianatan, pemberontakan, dan independensi dalam mengambil keputusan, adalah tema pokok yang ada dalam cerpen ini. Iksaka, dengan mahir mengemukakan, bahwa pada zaman kolonial, pengkhianatan menjadi hal yang teramat biasa pada akhirnya. Selama ini mungkin kita akan mengutuki dan dibuat membenci seorang tokoh yang—entah benar-tidaknya—melakukan sebuah pengkhiantan. Terlebih jika orang itu berasal dari kita, kaum pribumi, dan lebih memilih berpihak kepada penjajah.

Namun, bagaimana jika kita mendapati bahwa sosok pengkhianat ini, adalah kaum pribumi yang berkhianat kepada  penjajah? Patutkah kita senang dan berbangga? Sekalipun pengkhinat ini adalah istri dari kompeni tadi. Tidak perlu dijawab langsung saya kira, cukup pikirkan dulu matang-matang. Bukankah hal yang tergesa-gesa akan tidak selalu baik hasilnya? Nah, maka dari itu, saya berikan waktu sampai benar-benar siap untuk menjawab pertanyaan tadi.

Cerpen yang berjudul Keringat dan Susu, akan mengantar kita kepada sebuah kisah yang penuh dilema. Ya, kisah seorang tentara non pribumi yang pernah disusui oleh perempuan pribumi. Dalam perjalanan karirnya, yang tampak di mata orang-orang, hal tersebut adalah murni jerih payah keringtanya.

Walakin siapa sangka, ternyata ada peran dari perempuan pribumi tadi, sehingga ia bisa menjadi seorang tentara yang hebat. Hal ini tentu saja adalah sebuah rahasia pribadi, yang sampai akhir cerpen tidak dibuka oleh Iksaka. Namun, unsur keringat dan susu yang bercampur, begitu kental sehingga tidak akan bisa ditutupi walaupun cerpen sudah berakhir.

Cerpen yang juga menarik perhatian saya, adalah cerpen yang berjudul Gudang Nomor O12B. Cerpen ini, mengandung unsur mistis di dalamnya. Yang harus diakui, membuat cerpen ini sebagai cerpen yang paling mencekam di antara cerpen-cerpen sisanya. Usaha pencurian, ibarat bangkai yang ditutup-tutupi tapi tidak dikubur. Pada akhirnya, tercium pulalah bau dari aksi pencurian ini. Yang menariknya, cerita ini sekalipun memasukkan unsur mistis, Iksaka tetap tidak mau tercerabut dari akar. Terbukti, rasionalitaslah yang akhirnya menjadi pemenang dari cerpen ini.

Cerpen terakhir yang akan saya ulas, adalah cerpen yang menjadi judul dari buku ini. Semua untuk Hindia, menceritakan kisah surat menyurat antara seorang putri kerajaan dan seorang wartawan. Cerpen ini adalah cerpen yang paling menyedot perhatian. Pasalnya, di cerpen ini pulalah Iksaka akhirnya menghantam dengan keras kronik sejarah yang seringkali berakhir hitam putih itu. Bagi Iksaka, klaim yang dilakukan oleh pemenang, tidak bisa lantas kita setujui. Banyak pertimbangan yang patut kita lakukan. Hingga akhirnya, kita tahu persis apa yang nanti menjadi pelajaran di kemudian hari.

Untuk cerpen-cerpen sisanya, saya rasa para pembaca yang belum membaca buku ini, patut untuk menyelaminya sendiri. Karena, apa yang saya jelaskan di sini, bisa jadi sangat-sangat subjektif. Oleh karena itu, saya sarankan untuk para pembaca, merasakan sendiri pengalaman menyelami samudera imajinasi Iksaka ini. Tidak akan berakhir dengan kesia-siaan, dan saya tebak, setelah anda membaca buku ini, anda akan menjadi orang yang sama sekali baru. Atau minimal mengalami perubahan dalam melihat sejarah serta printilannya. Yang tentu saja tidak bisa kita hakimi dengan mudah benar-salahnya.

Selamat membaca dari orang yang belum berhasil belajar dari sejarah~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel