Sebuah Refleksi Hari Bumi;


Sebuah Refleksi Hari Bumi;

Penulis: Annatiqo

Kita Butuh Apa? Pembangunan Berkelanjutan atau Keberlanjutan Ekologi?

 All these shootings, pollution, we under attack on ourselves”

Sepenggal lirik lagu milik Lil Dicky ini seringkali membuat saya merenung. Lagunya yang berjudul “Earth”, dan dinyanyikan oleh berbagai penyanyi terkenal di luar sana selalu berhasil membuat saya termenung. Berfikir tentang peran manusia dan hewan dalam kondisi bumi yang kian hari kian memburuk ini.

Selama ini, kerusakan lingkungan yang disumbangkan oleh manusia benar-benar mengancam kehidupan. Bukan hanya kepada hewan dan makhluk hidup lainnya, juga kepada manusia itu sendiri. Penyebabnya pun tidak lain karena manusia keliru memandang alam, dan keliru menempatkan diri dalam konteks alam semesta seluruhnya.

Contohnya saja, kerusakan hutan, pembukaan lahan, dan pembalakan liar, yang menjadi sebab deforestasi terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan berdasarkan data yang dihimpun Tirto, Indonesia menempati posisi kelima terkait dengan negara-negara yang kehilangan tutupan pohon terbesar.

Sejak 2001 hingga 2014, Global Forest Watch mencatat Indonesia telah kehilangan 18,91 juta Ha hutan. Pada periode yang sama, Rusia, yang menempati posisi teratas, kehilangan 42,13 juta Ha hutan, disusul oleh Brasil yang kehilangan 28,77 juta Ha.

Selain itu, Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil perikanan (BKIPM) menyebutkan, bahwa kerusakan terumbu karang dari perairan Sabang sampai Merauke disebut sudah mencapai 46 persen.

Pun tak hanya itu, polusi udara serta mobilisasi manusia yang begitu pesat sangat memungkinkan adanya gangguan penyakit dan menurunnya kualitas kehidupan manusia.
Entah sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung. Hutan kehilangan pohon-pohonnya. Laut kehilangan terumbu karangnya. Udara kehilangan kebersihannya. Hewan kehilangan habitatnya karena ekosistem yang semakin rusak. Dan semua permukaan bumi, akhirnya akan dipenuhi oleh sampah.

Kehancuran lingkungan hidup seperti itu, menyebabkan Negara dan masyarakat harus membayar mahal. Bukan saja dalam hitungan nilai finansial, melainkan juga dalam bentuk kehancuran kekayaan sosio-budaya, serta kekayaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Hutang kita sudah begitu banyak kepada bumi. Kepada hutan dan pohon, misalkan.
Berdasarkan penelitian, setiap 1 Ha hutan tropis dapat mengubah 3,7 ton CO2 menjadi 2 ton Oksigen (O2). Bertambahnya pohon akan menambah jumlah oksigen yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia.

Satu pohon menghasilkan 1,2 kg oksigen sehari. Satu manusia membutuhkan 0,5 kg okigen sehari. Berarti dengan kata lain, satu pohon dapat menghidupi manusia 2 orang. Menebang 1 pohon, artinya sama dengan membunuh 2 orang manusia. Jika kita jaga alam, alam akan jaga kita.

Makin besarnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kerusakan hutan dan kebutuhan akannya, sebenarnya membuat banyak orang semakin marak juga menyerukan jargon dan aksi yang mengkampanyekan penanaman pohon.

Tapi memang tidak semudah itu membuat orang hendak bergerak sekalipun mereka sadar. Ada banyak aspek dan pertimbangan yang harus dipikirkan serta prioritas dari masing-masing individu. Terdapat berbagai kekeliruan cara berfikir yang kemudian menghambat.

Sebagaimana dilontarkan oleh Arne Naess dan ahli etika lingkungan lainnya, kekayaan alam selalu dibaca dan dilihat semata-mata sebagai sumber daya ekonomi yang siap dieksploitasi demi pertumbuhan ekonomi.

Kekeliruan lain adalah, perhatian utama pembangunan ekonomi hanya tertuju pada perbaikan standar kehidupan, khususnya standar material. Yang menjadi pusat perhatian dari seluruh proses pembangunan adalah tercapainya kesejahteraan material, seakan, hanya inilah yang utama bagi hidup manusia.

Dengan kata lain, yang dituju oleh pembangunan bukan kualitas kehidupan, melainkan perbaikan standar kehidupan material. Yang dikejar hanya uang, materi, kemewahan. Dan jalan untuk mewujudkan itu, dengan menguras habis kekayaan alam yang ada, yang direduksi semata-mata sebagai bernilai ekonomis saja.

Yang perlu kita pertanyakan kembali adalah sebenarnya kita sedang menuju ke mana? Pembangunan berkelanjutan atau keberlanjutan ekologi?

Ah, lupakan semua janji-janji manis soal perbaikan lingkungan dan konservasi. Harapanmu akan padam seketika oleh undang-undang yang mengatasnamakan perbaikan ekonomi rakyat, namun justru membuat para pemilik modal itu dengan longgarnya mengeksploitasi alam. Membabat habis hutan-hutan dan mencemari sumber-sumber air.

Kita semua tahu, tidak bisa hanya dengan dua tangan kita untuk merubah lingkungan tempat kita tinggal agar menjadi lebih baik. Akan tetapi, kesadaran semua orang yang benar-benar dari semua oranglah, perubahan itu dapat bekerja.

Karena jika boleh mengutip paragraf terakhir sebuah artikel yang ditulis oleh Raka Ibrahim di Asumsi.co. “Pada akhirnya permasalahan kolektif membutuhkan penyelesaian kolektif juga. Bukan kesaktian indovidu, apalagi lilin-lilin konotatif. Sekadar mengutuk kegelapan memang menjengkelkan, tetapi menyalakan lili tidak ada gunanya bila kita tidak pernah bertanya mengapa ruangan ini senantiasa gelap gulita.”



Orang yang terobsesi dengan kata 'Jauh'

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel