Reinkarnasi dan Cita-cita Perdamaian


Reinkarnasi dan Cita-cita Perdamaian
Sumber Foto: goodfon.com

Kamu tahu apa itu reinkarnasi? Kamu percaya kalo reinkarnasi itu ada? Sampai sejauh mana kamu tahu soal reinkarnasi? Kenapa reinkarnasi bisa ada? Sejak kapan konsep reinkarnasi diamini dan disepakati? Di mana konsep reinkarnasi pertama kali dicetuskan? Siapa yang menciptakan pemahaman soal reinkarnasi? Dan bagaimana nasib konsep reinkarnasi hari ini?


Beberapa pertanyaan di atas, saya dapatkan setelah berhasil mengkhatamkan satu season anime. Mungkin terdengar konyol, atau seperti gurauan dan khayalan dari seorang bocah. Tapi tak mengapa. Lagi pula, saya sudah tidak mempan dengan berbagai macam nyinyiran hari ini. Toh juga buat apa dipedulikan? Hidup yang sebentar, tidak akan cukup untuk melayani nyinyiran dari orang lain. Bener, tidak?


Selain menghabiskan waktu, tenaga serta pikiran, melayani sebuah nyinyiran adalah bentuk kesia-siaan menurut saya. Dalam rentang waktu hidup yang amat sebentar ini, perlu kiranya kita melakukan sesuatu yang membahagiakan bukan? Jadi initnya, melalui tulisan ini, saya juga akan mengajak untuk menghancurkan kekuatan dari nyinyiran-nyinyiran yang ada. Karena kalau bukan diri sendiri, siapa lagi yang bisa menciptakan kebahagiaan? Tuhan? Oh ya kalau itu sudah jelas saudara sekalian.


Yak, mari kita masuk ke lorong waktu yang panjang. Yang di dalamnya menuntut kesiapan, dan kesiagaan. Tidak hanya itu, saya sarankan menahan perasaan apapun yang akan muncul. Sampai ketika, sudah menemukan yang namanya sebuah kesimpulan. Oke? Bisa kan?


Begini selengkapnya yang akan saya utarakan.....


***


Konsep reinkarnasi, sebagaimana yang kita pahami secara umumnya, adalah kelahiran kembali orang yang telah meninggal di waktu sebelumnya. Kelahiran kembali ini,biasanya ditandai dengan suatu kemiripan. Bisa mirip karena wajahnya, penampilannya, perilakunya, sampai yang paling ekstrimnya adalah ingatan masa lalunya.


Namun, biasanya, reinkarnasi lebih banyak dipahami sebagai kelahiran kembali manusia ke bentuk manusia. Walaupun tentu saja, reinkarnasi juga bisa berakhir dengan ketidaksamaan wujud dengan kehidupan yang ada sebelumnya. Itu semua, tergantung dari pemahaman yang beragam dari reinkarnasi itu sendiri. Karena, bisa jadi, reinkarnasi tidak melulu berbicara soal lahir kembali ke dalam bentuk semula. Tetapi juga, sebuah kelahiran kembali, yang akhirnya menciptakan sebuah perubahan.


Agar tidak terkesan saya sedang berkhotbah, saya akan memberitahu anime yang saya tonton tersebut. Anime ini, berjudul Tensei Shitara Slime Datta Ken. Anime ini tayang pada 2018, dan diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2020 ini. Secara garis besarnya, anime ini bercerita soal manusia yang berjenis kelamin laki-laki, mati ditusuk oleh penjahat. Tambahan informasi, laki-laki ini  jomblo—mirip teman saya—dan hidupnya terkesan membosankan (garing). Setidaknya begitulah garis besarnya. Pengen tahu lebih lengkapnya? Silahkan langsung tonton animenya.


Biar nyambung dengan judul tulisan saya, sebenarnya anime ini menceritakan sebuah kehidupan mahluk yang berwujud “Slime”. Ya, Slime yang kalau diartikan secara literlek, berarti lumpur, kotoran, atau lanyau itu. Saya pribadi lebih suka mengartikan Slime lebih mirip dengan jeli. Ketimbang kotoran atau lumpur dan hal lainnya. Hal ini juga tidak terlepas setelah nonton anime tersebut.


Karena pada dasarnya, dan anggapan saya pribadi, seburuk-buruknya dan sehina-hinanya kotoran, selagi ia bermanfaat, bukankah lebih baik ketimbang manusia yang kerjaannya hanya meremehkan dan menghina orang lain? Setidaknya begitu pikiran normatif saya. Jika ingin membantah, saya persilahakan.


Oke kita kembali pada animenya~


Siapa sangka, harapan untuk merasakan nikmatnya hidup, harus melalui mati terlebih dahulu. Konyol dan uniknya, saya langsung kepikiran sesuatu. Mungkinkah begitu rasanya yang dirasakan orang-orang yang lebih memilih bunuh diri? Apakah dengan begitu, bisa menemukan sebuah kedamaian dan kenikmatan? Entahlah. Saya terlalu pengecut untuk mencoba. Dan saya terlalu sungkan untuk mengakui kalau saya takut akan hal itu.


Slime yang terlahir kembali ini bernama Rimuru. Bentuknya imut. Suaranya cempreng. Dan tingkahnya kocak. Cocok seandainya ia benar-benar ada di dunia ini. Setidaknya begitulah yang saya bayangkan. Karena kalau memang benar-benar ada, kehidupan yang monoton dan garing, saya rasa tidak akan terjadi jika mampu berteman dengan Rimuru.


Pertanyaan yang bisa kita utarakan untuk anime ini, “Apa yang mampu dilakukan sebuah Slime? Sehingga ia menjadi tokoh utama dalam anime ini”. Ya, ya, ya, ini adalah bentuk kebiasaan buruk yang dihasilkan karena sering meremehkan. Meremehkan apapun itu. Jujur, saya akan berhenti melakukan kebiasaan semacam itu. Di samping tidak ada gunanya, toh juga apa yang patut kita sombongkan dari hidup yang sementara ini?


Rimuru, yang bertubuh kecil dan dianggap renta, tidak terlepas mendapat perlakuan yang menganggap ia secara remeh. Lebih kasarnya, Rimuru dianggap hanya sebagai sebuah sampah. Sebuah sampah dalam dunia sihir dan dunia monster. Termasuk di kehidupan dunia manusia yang ada dalam anime ini. Walapun dalam kehidupan sebelumnya, ia seringkali diremehkan, toh saya juga kagum akhirnya dengan Rimuru. Sikap dinginnya ketika dianggap remeh dan dianggap sampah, pada akhirnya mammpu menghangatkan orang-orang yang ada di sekelilingnya.


Tidak hanya itu, saya pun jadi berpikir, apakah layak kita meniru sesuatu dari anime? Misalnya soal ketenangan Rimuru tadi? Apakah pada akhirnya tidak menjadi ambigu? Jika seorang manusia belajar dari sosok kartun yang jelas-jelas tidak nyata. Kalau ada yang bisa diambil, dan masuk dalam ukuran baik secara pribadi, serta tidak merugikan orang lain, kenapa juga harus dipertanyakan yak? Rururu~


Apa yang dialami oleh Rimuru, adalah sebuah ketimpangan yang nyata, dan sudah menubuh dalam jalan cerita anime ini. Kelahiran Rimuru, bisa dibilang sebagai sebuah cahaya harapan. Cahaya yang mampu menerangi kegelapan, yang sekian lama sudah lama berada di sana. Apakah akhirnya Rimuru berhasil? Sampai season pertama selesai, saya belum menemukan jawabanya. Tapi yang jelas, berakhirnya season pertama, turut memberikan harapan bagi para penonton. Harapan apa? Ya bisa jadi harapan apa saja. Hihi~


Nah, Rimuru ini, sebenarnya hampir mirip dengan Big Mom di One Piece. Bukan bentuk dan besar badannya ya. Tapi cita-citanya. Big Mom, punya cita-cita menciptakan dunia yang damai di pulaunya bukan? Yang secara tidak langsung, Big Mom ingin menciptakan surga di World Cake Island. Akan tetapi, keinginannya Big Mom, ditempuh dengan cara penaklukan dan penguasaan terhadap makhluk lain. Yang kalau dibandingkan dengan Rimuru, berbanding 360°.


Pasalnya, Rimuru tidak punya hasrat untuk menguasai makhluk lain. Malahan, kalau bisa, ia sama sekali tidak ingin menjadi apa-apa. Namun, karena keadaan memaksanya, pada akhirnya ia menjadi tokoh yang dikenal secara luas. Kebijaksanaan Rimuru, yang sebelumnya adalah jomblo akut ini, terlihat dari caranya mengakomodir dan melindungi makhluk lain. Sebagai makhluk yang kuta, ia hanya memberi satu syarat. Yaitu persahabatan.


Andai saja, jika sifat, sikap, dan watak Rimuru ada di dunia nyata, makhluk yang menjalani laku semacam tersebut, pasti akan tersingkir. Dengan kata lain, tidak akan sanggup bertahan lama. Oleh karena itu, anime ini secara tidak langsung mengajarkan dan sekaligus menyindir kita, bahwa cita-cita perdamaian itu masih jauh di ujung mata. Yang kalau mau hal itu terwujud, maka manusia yang hidup sekarang, setidaknya harus mengalami reinkaranasi terlebih dahulu.


Mungkinkah hal itu terjadi? Kalau misalkan bisa, setelah nanti ditemukannya alat yang canggih atau teknologi yang entah apa namanya itu, setidaknya kita perlu bersiap-siap bukan? Karena perdamaian, tidak cukup hanya dengan ditunggu. Akan tetapi, kedamaian juga perlu dipersiapkan. Agar tidak sama dengan yang ada di anime Boruto. Setidaknya kita juga bisa belajar dari anime Boruto, yang menceritakan pergolakan di dalam kondisi yang—katanya sedang—damai.


Terakhir, untuk menutup tulisan ini, saya sebenarnya masih ingin bertanya satu-dua hal. Yaitu, “Apakah kita bisa belajar sesuatu dari Anime? Dan apakah menjadi sebuah kesalahan fatal, jika mampu mengambil kebijaksanaan dari sana? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab segera. Harapan saya, kita yang membaca tulisan ini, syukur-syukur masih bisa menjawabnya. Kalau memang tidak sempat, mari berharap dilahirkan kembali untuk menciptakan sebuah perdamaian. Perdamaian yang tidak hanya di tampilan, tetapi juga perdamian yang murni lahir dari keihlkasan.


Ikhlas atas apa? Ya ikhlas karena keadaan yang sudah damai itu lur~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel