Puisi: Hal Indah yang Sulit Dimaknai


Puisi: Hal Indah yang Sulit Dimaknai

Alkisah suatu waktu, ada salah seorang teman saya, yang mahir sekali membuat puisi. Saking mahirnya, saya pun takzim kepadanya sol per-puisi-an. Entah kenapa, semakin ke sini, rasa takzim saya kepadanya semakin bertambah. Saya merasa, puisinya sangat cocok dengan saya pribadi. Walaupun sebenarnya, saya juga kurang tahu kenapa bisa begitu. Mungkin katanya, ini hanya soal sebuah selera. Tapi saya rasa, sampai hari ini dan ketika tulisan ini dibuat, selera puisi saya belum jelas lebih condong ke arah mana dan puisi yang seperti apa.

Pada dasarnya, puisi itu bagi saya selalu mengandung paradoks dan kontradiktif. Bukan lantas puisi selalu salah di mata saya, bukan. Maksud saya, puisi adalah tulisan yang meminta perhatian lebih ketika ingin dipahami dan dimengerti. Oleh sebab itu, saya selalu menganggap seorang penyair, adalah orang-orang yang diberi bakat alami dan diberi kelebihan tersendiri. Kelebihan yang berbeda dari orang kebanyakan. Dan kelebihan ini, sayangnya belum bisa saya cerna tuntas sampai ke akarnya.

Seperti seorang teman yang sudah saya sebutkan di atas. Ini hanya sekedar info ya, jangan diberi tahu ke orangnya. Takutnya nanti dia marah, kalau saya sebut terus-terusan dalam tulisan ini. Ia adalah seorang yang sangat idealis soal hubungan. Hubungan dengan lawan jenis. Kisah cintanya tak seindah drama sinetron, pun tak sesendu yang bisa kita bayangkan. Dalam artian, kisah cinta dan hidupnya, sangatlah rumit. Sama halnya dengan puisi yang sering ia buat. Namun, anehnya hal itu pula yang membuat kemahirannya semakin bertambah setiap hari.

Dalam puisi-puisinya, ia selalu membayangkan soal idealnya hubungan antara laki-laki dan perempuan. Mulai dari cara mengungkapkan perasaan, menyampaikan keinginan, mengutarakan keresehan, hingga meyakini hari indah yang akan datang. Tidak hanya itu, saya perkirakan setiap pembaca yang belum mengenal dirinya, niscaya akan beranggapan kalau ia sudah melalang-buana soal percintaan. Uniknya lagi, dari kebanyakan puisinya, sosok perempuan begitu nyata disodorkan kepada pembaca. Yang tak ayal membuat pembaca ikut terbawa oleh puisinya.

Namun, seperti yang sudah saya bilang, puisinya pun tak luput dari yang namanya salah dipahami. Pernah pada waktu itu, ia membuat sebuah stori di WhatsApp. Storinya tentang puisi karyanya sendiri. Puisi tersebut, setidaknya berhasil membuat salah seorang teman saya jadi kelabakan. Lantaran, isinya dianggap seksis dan tidak berpihak kepada perempuan. Dan tak urung, teman saya yang satunya tadi, kalang kabut menjelaskan puisi tersebut kepada penanya.

Belajar dari kejadian tersebut, saya pun langsung mengambil sebuah kesimpualan. Bahwasannya, mengartikan sebuah puisi itu tidak cukup dengan cara satu pandang. Belum lagi jika ingin masuk ke taraf untuk mengkritisinya, untuk memahaminya saja, kebanyakan orang butuh kemampuan yang tidak biasa bagi saya. Dengan kata lain, menjadi aneh jika ingin mengartikan dan memahami puisi, tapi tidak berangkat dari kerangka pemikiran yang sama.

Hal ini bukan lantas menjadikan puisi tidak bersinggungan dengan hal lain di luar sastra. Akan tetapi, puisi jelas tidak bisa dikritisi tanpa pengetahuan soal puisi itu sendiri sebelumnya. Yang kalau terus dipaksakan, malah menghancurkan bangunan keindahan dan pesan dari puisi itu sendiri menurut saya. Sama halnya dengan cabang ilmu lain, tanpa bangunan dasar pengetahuannya, menjadi pincang jika ingin mengkritik sebuah puisi.

Saya jelas bukan fanatik terhadap puisi. Karena puisi juga tidak perlu didukung dan dibela secara mati-matian menurut saya. Dari banyaknya jenis puisi dan keragaman bahasa yang dipakai untuk membuatnya, menjadikan puisi tidak sekadar barisan kalimat indah yang enak dibaca dan didengar. Lebih jauh dari itu, puisi mengandung kerunyaman ibarat labirin tanpa ujung. Bagaikan lingkaran yang tak pernah tahu awalnya. Dan laksana bangunan yang asimetris, tapi terkadang bisa menjelma menjadi bangunan yang sangat proporsional.

Setidaknya, kita patut bersyukur jika pernah bersinggungan langsung dengan seluk-beluk puisi. Lantaran, tidak semua orang akan tertarik dengan hal itu. Dan juga, tidak semua orang bisa mudah dan cepat dalam memahaminya. Maka, menjadi sebuah keberuntungan pula saya kira, apabila catatan hidup kita tergambar dan direkam serta diabadikan dalam bentuk puisi. Pasalnya, butuh keberanian untuk sampai ke taraf itu. Yang bilamana kita masih ragu terhadapnya, maka puisi bisa lebih jauh bisa meragukan kita.

Sampai di titik ini, dari beragamnya penilaian dan anggapan yang “negatif” terhadap puisi, saya kira menjadi sah-sah saja. Karena tidak bisa dipungkiri, puisi juga akaan selalu melahirkan sebuah celah. Celah yang mengakibatkan puisi itu akhirnya dikritik, dihujat, dimaki, dicemooh hingga dianggap sebagai sebuah sampah. Namun tak mengapa, toh pada akhirnya puisi akan menjadi lebih hidup dengan cara yang begitu. Dan jika tidak begitu, maka bukan pusi lah namanya. Melainkan sekadar omong-kosong yang dipoles menjadi lebih indah.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel