PMII: Refleksi Menjemput Kematian


PMII: Refleksi Menjemput Kematian
Sumber Foto: dekannews.com
Penulis: Kakak Reformasi

Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan, apa yang menyebabkan PMII disebut layak dan pantas untuk menyelesaikan sekian persoalan atau permasalahan yang dialami bangsa kita? Apakah karena sekadar PMII adalah organisasi yang lahir dari rahimnya para ulama? Ataukah karena PMII adalah organisasi mahasiswa terbaik ketimbang organisasi mahasiswa lainnya? Saya rasa, jawabannya tidak sesederhana dua pilihan di atas. Tapi yang pasti, PMII adalah organisasi yang hidup dan matinya, tergantung dari hati dan niat kader-kader di dalamnya.

Apakah PMII akan terus bertahan nantinya? Walaupun diterjang badai yang merobohkan sekian bangunan pengetahuan dan fondasi pemikiran yang ada, saya rasa hal itu perlu kita maknai ulang. Pasalnya, kondisi PMII hari ini, tidaklah sama dengan apa yang ada sebelumnya. Dengan sekian permasalahan yang datang dari luar ataupun dari internal PMII sendiri, membuat PMII secara tidak langsung harus mampu bertahan dan beradaptasi. Yang jika hal itu gagal dilakukan, kematian PMII menjadi hal yang niscaya.

Berbicara soal kewajiban yang harus dijalani oleh sekian banyak kader PMII, saya rasa juga perlu dirumuskan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dialami. Hal ini, yang selanjutnya menjadikan PMII tidak akan pernah berhenti untuk ditafsirkan ulang. Apalagi melihat rentang waktu yang lumayan lama sejak kelahirannya PMII. Tak dapat disangkal, PMII mulai memasuki usia senjanya. Usia di mana seharusnya PMII sudah bisa mapan hari ini. Tapi pada nyatanya, PMII malah mengalami ketatihan. Dan seakan tidak mengalami sebuah kemajuan dalam tanda kutip yang signifikan.

Bukan saja secara perkembangan wacana yang ada di dalam PMII, secara gerakan, dan trek-trekot politik, PMII pun belum mampu untuk menghegemoni apa yang berada di luar lingkarannya. Tidak hanya berhenti sampai di situ, PMII—jika tidak bisa dsebut mandeg—sedang berada di fase kebuntuan. Fase di mana PMII seakan gamang dengan realita yang terjadi hari ini. Dan seolah-olah, membuat PMII kehilangan kaki untuk berpijak, dan kehilangan tangan untuk berpegang.

Dahulunya, ada sebuah harapan besar yang ditaruh di pundak PMII. Tidak hanya berbicara soal keadilan, kesejahteraan, dan upaya pengentasan kemisikinan, bahkan PMII, sejak awal kelahirannya, sudah diarahkan untuk mengemban amanah kemanusiaan. Tapi memang tidak ada yang bisa menjamin, kalau dalam perjalanannya, PMII justru tidak mampu untuk memanusiakan apapun dan siapapun. PMII pada akhirnya ikut melanggengkan apa yang selama ini dilawan oleh PMII. Yang tak urung juga, menjadikan PMII sebagai penguasa baru, menggantikan penguasa lama yang dahulunya dikritik PMII secara habis-habisan.

Lantas, kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah ada sesuatu yang melatarbelakangi kondisi PMII yang demikian? Kapan hal itu bermula? Sampai kapan PMII ingin terus menjadi penguasa baru yang culas? Siapa yang menyebabkan PMII bisa begitu? Dan bagaiman kira-kira, kita, yang mengaku masih peduli dan ingin merawat PMII ini, bisa mengubah semua itu? Apakah hanya cukup berdoa, dan menunggu wahyu atau wangsit datang dari langit? Sampai kiamat pun, hal itu tidak akan terjadi. Ya, tidak akan pernah terjadi.

Untuk saat ini, dengan purpa-ragam dan purpa-rupa pada tubuh PMII, tentu menjadikan PMII menjadi lebih elok dipandang. Tapi apakah cukup sampai di situ? Akankah keelokan rupa dan bentuk, menjadi ukuran yang diprioritaskan PMII hari ini? Jikalau saja iya, mari kita bersyahadat kembali. Sama seperti pada saat kita dibaiat menjadi kader PMII. Mari kita juga mengulang kembali sholawat, yang sama persis kita lantunkan, pada saat proses pembaiatan kita menjadi kader PMII. Mari, mari, mari. Belum terlambat jika ingin melakukan hal tersebut.

Mari kita berakan-akan, seperti PMII bakal meninggalkan kita. Mari kita berandai-andai, seperti PMII hendak mencampakkan kita. Mari kita bagi-bagikan kecemasan, sama seperti rasa cemas kita ketika Corona melanda. Sama seperti kemudahan kita, yang sekonyong-konyong meninggalkan PMII untuk menyelamatkan diri sendiri. Sama seperti ketika kita, mendadak lupa diri dan identias, bahwa kita adalah kader PMII. Yang disumpah, untuk meyakini dan mengecamkan dalam hati, bahwa meninggalkan PMII adalah bentuk penghianatan pada organisasi.

Namun, apakah kita punya perasaan dan pikiran yang sama tentang PMII? Apakah masih ada kepedulian antara kita? Apakah masih berlaku, “ketika satu merasakan sakit, maka yang lain akan menjadi sakit?” Apakah masih berlaku, “ketika yang lain luka, maka yang lain akan ikut terluka?” Saya rasa, tidak ada lagi yang menaruh minat pada hal itu. Yang ada hanya ialah, bagaimana saya, bisa sampai ke tujuan dengan selamat? Yang ada hanyalah, berapa lama lagi waktunya saya untuk menempati jabatan itu?

Tidak, tidak menjadi soal. Asalkan hal itu tidak merugikan anda. Tidak menjadi soal kalau hidup anda tidak terganggu. Tidak menjadi soal, jikalau tidur anda masih nyenyek. Sementara, sementara ada orang lain yang bisa ditumbalkan. Sementara masih ada orang lain yang bisa dikorbankan. Selama masih ada, orang lain yang rela menanggung dosa. Dosa dari kita yang berbicara lantang, namun nihil tindakan. Dosa dari kita, yang seakan paham, tapi tak merasa ada persoalan.

Teruskan, teruskanlah sampai titik jenuh. Tidak perlu ada kata penyeselan. Karena kata ‘penyesalan’ hanyalah sebuah siksaan. Maka tidak akan berlaku, idiom yang mengatakan bahwa “kemalasan adalah cara terindah menyiksa diri”. Yang ada hanyalah, berani berkorban artinya rugi. Berani mengambil konsekuensi artinya mati. Dan berani berpendapat, artinya tidak akan selamat. Ya, semakin hari, kita menjadi mirip dengan ‘diktator’. Bedanya, kita adalah diktator dengan bahasa yang lebih diperhalus.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel