Pendidikan 4.0 dalam Kepungan Pandemi

Pendidikan 4.0 dalam Kepungan Pandemi

Penulis: Dimas Ahmad Rizal

Beberapa waktu terakhir, sebelum Pandemic Corona menyerang, wacana mengenai Revolusi Industri 4.0, massive diperbincangkan. Baik itu di ruang-ruang diskusi akademisi, ataupun di warung kopi yang dilakukan oleh para aktivis.

Wacana mengenai Revolusi Industri 4.0, memang menjadi satu fenomena yang sangat menarik untuk dibicarakan. Pasalnya, gelombang Revolusi Industri 4.0 akan mendisrupsi berbagai aspek dalam kehidupan manusia, termasuk salah satunya adalah dunia pendidikan. Para pemikir, pengamat, pemerhati pendidikan maupun akademisi, dan pemangku kebijakan, semuanya memikirkan langkah-langkah strategis tentang pendidikan dalam menghadapi gelombang besar Revolusi Industri 4.0.

          S
ejarah revolusi industri dimulai ketika ditemukannya mesin uap pada abad ke-18, yang kemudian merubah cara produksi barang. Terjadi sebuah percepatan produksi karena pergesaran cara produksi, yang awalnya dari tradisional menjadi mekanik. Inilah yang disebut sebagai Revolusi Industri 1.0, yaitu perubahan cara produksi dari penggunaan tenaga hewan dan manusia, lalu digantikan dengan mesin.

Seabad setelah itu, Revolusi Industri 2.0 dimulai. Ditandai dengan ditemukanya listrik. Sehingga sangat memungkinkan untuk melakukan produksi masal. Pada masa ini jugalah pembagaian kerja mulai diperkenalkan. Kemudian, pada abad ke-20, Revolusi Industri 3.0 dimulai, dengan ditemukannya internet dan jaringan yang kemudian tercipta automasi dalam dunia kerja. Dan saat ini, di awal abad ke-21, terjadi gelombang revolusi Industri 4.0. Yaitu revolusi berbasis Cyber Physical System.

Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan ditemukannya fungsi-fungsi kecerdasan buatan (artificial intelligence), mobile supercomputing, intelligent robot, self-driving cars, neurotechnological brain enhancements, era big data yang membutuhkan kemampuan cybersecurity, era pengembangan biotechnology dan genetic editing (manipulasi gen).

Dari beberapa ciri tersebut, menandakan sebuah perubahan struktur dan konsep pekerjaan serta kompetensi pekerja. Gelombang revolusi Industri 4.0, lalu membawa dampak tantangan tentang relevansi. Manusia sangat mungkin menjadi irrelevan, atau manusia yang tidak memiliki daya guna. Karena perannya sudah digantikan dengan robot pintar dengan kecerdasan buatan.
 
          Lalu
pertanyaannya, bagaimana eksistensi manusia di tengah arus Revolusi Industri 4.0? Bagaimana jika kecerdasan robot akhirnya melebihi manusia?

Untuk tetap menjaga Eksistensi dan Relevansinya, tentu manusia harus memahami potensi lebih di dalam dirinya, yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kita tahu bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan, yang diberikan tugas sebagai Khalifah Fil ard. Hal ini menunjukan bahwa manusia memiliki kemampuan lebih yang tentunya tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Menurut hemat saya, ada beberapa hal penting yang harus dimiliki atau dikembangkan oleh manusia agar tetap berguna di era Revolusi Industri 4.0. Yaitu kreativitas, critical thinking, kemampuan kerja sama, keterampilan berkomunikasi, kemampuan bermasyarakat atau bersosial, dan karakter yang kuat. Selain beberapa keterampilan tersebut, manusia juga harus memiliki sikap kebijaksanaan dalam dirinya. Ini menjadi hal penting yang harus dimiliki oleh manusia, agar menjadi manusia yang tetap relevan dan memiliki nilai guna.

Mau diakui atau tidak, kini Revolusi Industri 4.0 telah mendisrupsi pendidikan sedemikian rupa. Mulai dari paradigma, konsep, dan metode dalam pendidikan, dituntut harus bisa menyesuaikan hal tersebut. Pendidikan gaya lama, rasanya sudah tidak bisa sepenuhnya diterapkan. Pendidikan perlu dikaji dengan serius, agar bisa menyeseuaikan dengan kondisi sekarang.

Mulai dari bagaimana melatih chritical thinking di era informasi teknologi yang melimpah informasi, bagaimana menginternalisasikan karakter, bagaimana melatih kemampuan komunikasi, dll.

Pemerintah Indonesia melalui Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sudah merespons gelombang Revolusi Industri 4.0. Pak menteri Nadiem dalam pidatonya, pernah menyampaikan bahwa “saat ini kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu”. Mendikbud juga telah mengaluarkan kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka.

Namun sayangnya, sebelum kebijakan tersebut sempat benar-benar berjalan, Indonesia sudah dilanda pandemik virus Corona. Pandemik Covid-19 ini, muncul dan memberikan dampak besar dalam lini kehidupan kita. Mulai dari ekonomi, sosial, politik, bahkan pendidikan.

Dalam rangka mengatasi pandemik ini, dan untuk mencegah penularan, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk social distance. Yang kemudian, dalam dunia pendidikan aktivitas pembelajaran di kelas dihentikan, dan digantikan dengan distance learning atau pendidikan jarak jauh. Metode yang digunakan dalam distance learning ini variatif. Di sekolah dasar dan menengah, menggunakan televisi sebagai media belajar. Dan di perguruan tinggi rata-rata melakukan diskusi online, dengan mengunakan smart phone.

          Saya rasa, masa pandemik ini bisa dijadikan sebagai momentum untuk menilai kondisi dan kesiapan kita, dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Karena, distance learning atau kuliah online, mengharuskan setiap subjek pembelajaran memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Bayangkan saja jika pembelajaran online tidak didasari dengan kemampuan komunikasi yang baik. Maka yang akan terjadi adalah ketidakjelasan pembelajaran. Bisa karena pembahasannya tidak terarah, ataupun diskusi menjadi mandek dan tidak berjalan.

Jika kita lihat lebih jauh, ternyata penerapan pembelajaran online ini masih banyak kendala. Bukan hanya kendala di masalah keterampilan, tetapi juga di masalah teknis. Seperti kendala jaringan, kuota, bahkan didaerah-daerah tertentu, ada yang terkendala karena masalah listrik. Mulai dari listrik yang tidak stabil, kadang mati-jarang hidup, sampai yang memang belum ada listrik di daerahnya.

Selain itu, masa pandemik ini juga memberikan pelajaran berharga kepada kita. Yaitu tentang kemampuan kita dalam chritical dan analytical thinking. Karena di masa yang seperti ini, ketika kita tidak pintar memproses informasi, maka akan menjadi stres sendiri. Hal ini terbukti dari banyak terjadinya kepanikan di masyarakat. Mulai dari stress akibat berita yang simpang-siur mengenai Covid-19, ditambah lagi karena ketidaksiapan dari kita sendiri.


Kader PMII DIY, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel