Hari Kartini dan Puisi Lainnya


Hari Kartini dan Puisi Lainnya
Sumber Foto: dokterblogging.blogspot.com

Penulis: Yuli Arniri

Hari Kartini

Telah datang hari yang dinanti.
Sepi, sunyi dan diiringi sebuah keheningan.
Banjirnya ucapan selamat,
Tak dapat menyerap segala hutang yang belum terbayar.
Riuhnya ekspresi semangat,
Masih kalah jauh ketimbang sebuah luka.

Hari kelahiran ditandai dengan ucapan.
Hari kematian hanya menjadi sebuah kenangan.
Di pojok ruangan ini,
Di atas kasur yang meninabobokan ini,
Aku merenungi.
Tentang cinta dan pengorbanan.
Tentang kasih sayang dan pengharapan.
Tentang luka yang sengaja dipendam.
Juga tentang mulut yang sengaja dibungkam.

Oh Kartiniku.
Masih jauhkah jarak kita untuk bertemu?
Masih jauhkah angan kita untuk bersatu?
Dan masih jauhkah cahaya biru yang berada di balik air matamu?

Oh Kartiniku
Aku merana merenungi aliran air mata.
Aku terhenyak dan tersentak ditikam oleh buah durian.
Aku menjadi manis tatkala kita saling menjamu.
Aku menjadi hambar ketika, asap rokokku bukan Dji Sam Soe~

Yogyakarta 21 April 2020


Perempuan Pahlawan

Pahlawan.
Kata indah yang transparan.
Yang beterbangan bersama para awan.
Yang selanjutnya mengguyurkan air hujan.

Dikenang laksana dewa.
Dipuja bagaikan Raja.
Dicinta tapi bukan kekasih.
Dirindu tapi bukan saudara.

Perempuan,
Pahlawan.
Kata elok yang sulit diterka.
Kata megah yang punya banyak rupa.

Beratus-ratus minggu yang lalu,
Engkau lahir bersama cahaya.
Engkau hadir membawa problema.
Tumbuh besarmu akhirnya banyak menggoda.
Yang tak urung jua, menepiskan arus tawa dan luka.

Tubuhmu tergores bermacam-macam beling.
Dicacah kecil-kecil seperti daging giling.
Kepalamu yang menyimpan banyak tanya.
Dibuatkan rumah selayaknya sebuah penjara.
Anganmu yang setinggi surga.
Dilebur ke dalam janji yang berjubah niscaya.

Perempuan,
Pahlawan.
Semilir angin biru laut.
Bagai ombak yang menanti sebuah karang.
Karang yang bukan hanya karang.
Tapi karang di pulau nan jauh di seberang.

Yogyakarta 21 April 2020


Pena Pahlawan

Benda yang mengucurkan cairan hitam.
Membawa bersama noda-noda kelam.
Melekatkan guratan kabut.
Meniup semilir gulita.
Menghembuskan rona-rona air zam-zam.
Yang meresap dalam kertas muram.

Pena pahlawan.
Menyimpan embun waktu yang diperas layaknya keringat.
Menadah tinta juga cerita.
Dan mengandung gelembung cedera.

Alat runcing bermata dua.
Dengan simbol warna angan-angan.
Berbaju dan bertelinga.
Punya mata yang merekam gerak sejarah.

Hadir karena adanya seekor gurita.
Mengisi ruang kosong di tengah samudera.
Bermain-main dengan waktu.
Setajam pedang yang mengincar kepala para Raja.
Sekokoh batu yang membentur kupu-kupu.
Seringan air yang menghujam kelopak mata.
Dan setipis cahaya yang bersaing dengan para Bidadari.

Yogyakarta 21 April 2020


Surat Pahlawan

Berbetuk persegi panjang.
Terdiri dari banyak baris gelombang.
Setebal batu ulekan.
Seindah terumbu karang.

Dibaca oleh para Biksu.
Ditinjau oleh para Pendeta.
Diramu para Brahmana.
Dihantarkan oleh para Ksatria.

Dipanaskan oleh api.
Ditempa oleh benci.
Dipendam seperti harta.
Dipecahkan layaknya kaca.

Yogyakarta 21 April 2020

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel