Merevolusi Disekuilibrium yang Terjadi pada Alam


Merevolusi Disekuilibrium yang Terjadi pada Alam
Sumber Foto: greenpeace.org

Penulis: Umi  Amaliyah*

Ketika pertama kali mengetahui ada sekolah ekologi (ekoliterasi), yang diselenggarakan oleh Komunitas Rumah Baca, hasrat saya untuk ikut acara tersebut, begitu menggebu-gebu. Maklum, soalnya saya habis membaca buku Ekofenomenologi-nya mbak Saras Dewi. Dan rasanya, saya perlu mendapat tempat untuk mendiskusikan hasil bacaan saya itu. Mungkin, sebagai pemuda yang masih kagetan, mohon sifat saya ini dimaklumi.

Awalnya saya mengira, sekolah ekoliterasi semacam ini, tidak mungkin ada di Jogja. Ya, pikir saya paling mentok cuma diskusi ringan atau bedah buku yang membahas ekologi. Ternyata saya salah besar. Komunitas Rumah Baca, nyatanya mampu menyelenggarakan sebuah sekolah, yang rentang waktunya cukup lama, bahkan sampai 3 bulan.

Harapan saya untuk ikut sekolah ekoliterasi ini sempat pupus, karena melihat waktu pendaftaran yang tertera di poster sudah lewat. Aahh, sial dalam hati saya. Lalu saya pun berharap, mungkin Komunitas Rumah Baca akan berbaik hati. Menyelenggarakan sekolah koliterasi yang kedua. Entah kapan waktu dan tempatnya, yang pasti saya akan ikut. Itu bayangan saya awalnya.

Tapi dilalah, panitia masih berbaik hati. Kebaikan hati dari panitia, saya akui dan saya wajib berterima kasih atas hal itu. Tidak  lupa pula, saya berterima kasih kepada teman saya yang tetap semangat mengajak saya untuk gabung.

Tujuh materi yang akan dibahas dalam sekolah ekoliterasi ini, seperti angin segar bagi saya—pembaca buku ekologi. Materi yang dibahas, seakan menambal rasa penasaran saya terhadap kondisi lingkungan hari ini. Ditmabh lagi, saya berkesempatan untuk memfolow-up pengetahuan saya pribadi. Sebab, buku Ekofenomenologi yang saya baca, lebih banyak membahas persoalan teori. Hal tersebut, karena penulis (Saras Dewi), sedang mengembangkan filsafat lingkungan (Ekofenomenologi) yang termasuk baru di Indonesia.

Relevansi Sekolah Ekoliterasi

Sering kali, kita menyaksikan berbagai ketidakadialan yang dilakukan oleh manusia. Baik itu terhadap alam dan makhluk lainnya. Atas nama pembangunan, atas nama kemewahan, juga atas nama kemajuan, alam liar berangsur-angsur dihilangkan. Digantikan beton-beton dan rimba-rimba gedung. Sejatinya ruh filsafat adalah hati nurani, dan argumen intelektual dibangun setelahnya.

Saras Dewi dalam bukunya, dengan menggunakan pendekatan fenomenologi persepsi dari Merleau-Ponty, menganggap peristiwa bukanlah kejadian biasa. Dan perjumpaan seorang manusia dengan alam adalah suatu peristiwa, sesuatu yang bermakna. Ada berbagai jalan untuk mencintai alam. Sayangnya, cinta dan sentimentalitas tidak mengikat manusia terhadap tujuan pelestarian lingkungan hidup, menurut Saras Dewi.

Selanjutnya, Saras Dewi juga menambahkan, dengan meminjam pemikiran Husserl, kita bisa memahami bahwa benda-benda alam memiliki dunianya tersendiri. Di mana, kehadiran subjek dalam lingkungan itu, tidak menyebabkan manusia sebagai pemilik dari benda-benda tersebut.

Disekuilibrium pada Alam

Saras Dewi juga menambahkan soal konsep ekuilibrium—keseimbangan alam—dalam bukunya tersebut. Menurutnya, berbagai jalan ditempuh guna memahami kondisi alam yang memburuk dan kerusakan berkepanjangan.. Dengan demikian, pemahaman tentang alam yang lebih mendalam, perlu dilakukan. Rekontruksi terhadap alam yang rusak tidak dapat diselesaikan melalui pandangan etis praktis saja, melainkan melalui pemahaman ontologis tentang alam.

Tambahnya lagi, kebalikan dari ekuilibrium ialah disekuilibrium. Disekuilibrium yang terjadi pada alam, sering kali berawal dari pikiran manusia. Yang menganggap, manusia dan alam adalah dua entitas yang berbeda. Bumi dianggap mampu menyeimbangkan diri jika terjadi suatu ketimpangan. Selain itu, alam hanya dianggap sebagai sesuatu yang dimanfaatkan dalam porsi sebanyak-banyaknya.

Rekonstruksi Relasi Hubungan dengan Alam

Dari uraian singkat diatas, jika mengacu relasi makhluk hidup—manusia dan alam—yang dijelaskan dalam Al-Quran, hari ini manusia sudah kehilangan pemahaman nilai dasar soal relasinya dengan alam! Relasi manusia, sebagaimana yang dipahami umunya, terdiri dari Hablun Min Allah, Hablun Min Annas dan Hablum Min Alam. Ketiga relaso tersebut, sekarang sudah timpang. Lantaran, manusia sudah meremehkan bahkan tidak lagi mengamini yang namanya Hablun Min Alam.

Padahal, alam semesta adalah ciptaan Allah. Dia menentukan ukuran dan hukum-hukumnya. Alam juga menunjukkan tanda-tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah. Allah mendudukkan manusia sebagai khalifah, sudah sepantasnya manusia menjadikan bumi maupun alam sebagai wahan bertauhid dan menegakkan keberadaan dirinya, bukan menjadikannya sebagai obyek eksploitasi.

Salah satu hasil penting dari cipta, rasa, dan karsa manusia, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia menciptakan itu untuk memudahkan. Yaitu dalam rangka untuk memudahkan hubungan antar manusia dan alam, dan memakmurkan bumi. Dalam berhubungan dengan alam diperlukan iptek, karena alam memiliki ukuran, aturan dan hukum tersendiri. Alam digunakan dengan tidak mengesampingkan aspek pelestariannya.

Jika mengutip kata-kata dari seorang filsuf yaitu Mahatma Gandhi; “Jika kamu ingin dunia berubah, Jadilah perubahan itu sendiri.” Jadi, jika ingin melestarikan dan peduli terhadap alam, cara satu-satunya adalah bergabung dalam barisan yang memperjuangkan hal tersebut Harapan saya, sekolah ekoliterasi ini mampu melahirkan para pemikir serta pejuang yang benar-benar peduli terhadap lingkungan dan alam. Salam kelestarian!

*Peserta Sekolah Ekoliterasi 2017 yang diselenggarakan Komunitas Rumah  Baca.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel