Mengusik Kemapanan, Menanggalkan Kegagahan


Mengusik Kemapanan, Menanggalkan Kegagahan

Identitas buku

Judul: The God of Small Things

Penulis: Arundhati Roy

Penerjemah: Reni Indardini

Penerbit: Mizan Publika

Tahun: Juni, 2018

~Entahlah, bisa saja hal ini menjadi sebuah kebetulan yang sudah ditakdirkan~

Setelah berselang dua hari saya membeli buku Arundhati Roy, yang berjudul The God of Small Things, lalu membacanya, ada email masuk dari Asumsi. Email tersebut membuat saya heran dan tidak habis pikir. Pasalnya, sejak Corona menyerang, Asumsi pun turut memberitakan soal Corona ini. Hal ini yang lantas membuat saya terkadang memilih tidak membaca email dari Asumsi. Ya, surat rutin 5.45 lah yang saya maksud.

Pada pagi itu, entah kenapa saya berhasil menyelesaikan membaca surat Asumsi yang dalam waktu belakangan, tidak menarik minat saya sama sekali. Dari sekian banyaknya pemberitaan tentang Corona, tak ayal membuat saya bosan. Oleh karena itu, surat 5.45 Asumsi pun saya perlakukan demikian. Selain agar pikiran saya bisa beralih kepada hal lain, mengurangi membaca pemberitaan dan tulisan soal Corona, setidaknya membuat saya merasa lebih tenang.

Namun, hari itu jelas berbeda. Surat yang ditulis oleh Raka Ibrahim, dan dikirim pagi itu, berhasil menyihir saya seketika. Padahal, isinya juga soal Corona. Hal tersebut yang selanjutnya saya sebut sebagai sebuah kebetulan. Kebetulan yang menurut saya sudah ditakdirkan. Sebab, buku Roy yang sedang saya baca, mempunyai kesamaan latar belakang dengan surat rutinnya Asumsi pagi itu. Ya, pada tanggal 20 April 2020, Asumsi mengirim surat yang berjudul Pelajaran dari Kerala. Dan Kerala, adalah latar tempat novel yang sedang saya baca itu.

Sebagaimana yang ditulis dalam surat Asumsi tersebut, Kerala, menjadi teladan dalam mengatasi virus Corona. Bersama dengan Kuba dan Vietnam, Kerala dipuji-puji karena keberhasilannya menangani virus Corona. Berbanding terbalik dengan India, yang sangat lamban dalam merespon virus Corona, Kerala dengan tepat dan cepat mengambil inisiatif untuk menangani virus ini. Sehingga, Kerala menjadi wilayah yang menonjol ketimbang wilayah India yang lain. Hal ini yang akhirnya membuat Kerala punya reputasi dan prestasi baik di mata dunia.

Setidaknya begitulah yang ingin disampaikan Asumsi dalam surat 5.45-nya pagi itu. Lantas, apa yang menmbuat Kerala menarik dan patut dijadikan teladan bagi kita? Rupanya, Kerala punya sekian banyak infrastruktur terbaik di seantero India. Tidak hanya itu, tampaknya keberhasilan Kerala juga didukung oleh kesadaran tinggi di masyarakatnya.

Selain karena tingkat literasi yang tinggi, keberhasilan Kerala saya rasa selaras dengan kedewasaan masyarakat di sana. Solidaritas sosial, kematangan organisasi-organisasi, sikap gotong royong, hingga distribusi yang tepat sasaran, menghasilkan capaian sebagaimana yang diharapakan masyarakatnya. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah mempunyai itu semua? Andaikan belum, mungkin menjadi hal yang amat sulit untuk mencontoh keberhasilan Kerala bukan?

Oke, saya akan menarik keberhasilan Kerala ini, dan membandingkan hasil bacaan saya dengan buku Roy tadi. Sesuai dengan apa yang tertulis di catatan penutup novel ini dalam terjemahan bahasa Indonesianya, keberhasilan buku ini, beriringan dengan pencapaian Ayu Utami. Lewat Saman yang memenangakan sayembara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan banyak diperbincagkan pada tahun 1998.

Serupa dengan yang disampaikan oleh Dr. Janet Steele, George Washington University kepada Melani Budianta, buku ini merupakan karya pertama seorang perempuan muda, yang langsung mengorbit dan menimbulkan kontroversi. Lebih luas dari karya Ayu itu, buku ini mengguncang dan menimbulkan pembelahan yang sangat jelas di sekian banyak tempat. Bahkan, buku ini menjadi sebuah karya yang memastikan dualitas dan dualisme dalam banyak masyarakat di berbagai belahan dunia.

Pertanyaannya, mengapa bisa begitu? Jawabannya, buku ini ibarat shock therapy untuk dua kubu yang saling bertolak belakang, dan semakin meruncingkan perbedaan yang setelah sekian lama terpendam. Bagi kubu yang sepakat dengan buku ini, tentu saja beranggapan kalau buku ini adalah master piece penggugah kesadaran manusia menjelang abad ke-21. Bagi kubu yang menolak, tentu akan beranggapan kalau buku Roy ini, adalah karya sampah yang tidak pantas dibaca. Apakah benar demikian?

Di sini, saya akan mencoba memberikan pendapat yang tampaknya berbeda sama sekali, dari dua pilihan yang di atas. Pertama, sebagai pembaca karya Ayu Utami, saya tidak menemukan sebuah adegan erotis yang sangat vulgar dari buku ini. Yang jika kita bandingkan dengan novel Saman, buku ini tidak membangkitkan gairah seksual saya sama sekali. Dan kalau hendak kita bandingkan dari sisi ini, tentu buku ini akan kalah jauh dalam mengguncang ketabuan di masyarakat dibanding novel Saman.

Namun, tentu tidak akan elok kalau kita hanya mengukur dari satu sisi saja, bukan? Walaupun sebenarnya, bagi kubu yang menolak buku Roy ini, adegan seksual begitu banal ditampilkan. Hal demikian, menjadi alasan yang sangat dibuat-buat bagi saya. Hal tersebut, bagi saya pribadi menandakan sebuah kekolotan dalam menilai sebuah buku sastra. Karena, sastra tidak lahir dari aturan baku dan pakem yang dikehendaki masyarakat. Lantas, kenapa sastra harus mengikuti aturan tersebut? Sungguh tidak masuk akal, bukan?

Kedua, tentang Kepinggiran yang MahaKecil. Serasi dengan Indonesia, Kerala adalah negara bagian yang punya identitas keragaman budaya, yang selanjutnya semakin dikusutkan oleh kolonialisme. Sama halnya dengan Indonesia, hal ini menjadikan Kerala tidak bisa hanya ditafsirkan oleh satu tafsiran semata. Kiranya begitulah yang ingin Roy sampaikan lewat bukunya ini. Di saat yang sama pula, buku ini menghadirkan hardikan yang langsung mengena pada monopoli tafsir tadi.

Tidak berhenti sampai di situ saja, purwa-rupa atau keragaman identitas, menjadi hal yang sangat indah dimainkan oleh Roy dalam buku ini. Dengan kata lain, sebuah perbedaan adalah hal yang niscaya bagi Roy. Dan tentu saja, sampai kapanpun, yang namanya perbedaan akan sulit untuk dihilangkan. Kesimpulannya, Roy lebih menekankan kepada “Berbeda-beda lah yang akhirnya membuat bersatu. Bukan malah satu yang menghilangkan semua perbedaan yang ada”.

Ketiga, struktur dan tingkat kesulitan memahaminya. Setelah menemukan kesulitan membaca dan memahami Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez, pada akhirnya saya harus bertemu kembali dengan pengalaman serupa ketika membaca buku Roy ini. Namun, perbedaan dan tingkat kesulitannya, saya rasa masih lebih tinggi buku Roy ini ketimbang Seratus Tahun Kesunyian. Lantaran, buku Roy ini ibarat sebuah spiral. Yang tak urung membuat para pembacanya, harus sabar dan rela berputar-putar dulu untuk benar-benar memahaminya.

Bahkan, dalam kesulitan dan kerumitan tersebut, Roy sangat lihai menyisipkan sebuah kritikan. Baik itu bagi dirinya pribadi, masyarakat di sekitarnya, India sebagai sebuah negara, dan negara dunia pertama yang sering berlaku sok superior. Maka, menjadi sebuah kepantasan jika buku ini sangat berkesan dan menohok ke ulu hati sebuah kecongkakan. Ya, kecongkakan dari kita yang masih merasa lebih baik dan pantas merendahkan yang lain. Melalui buku ini, Roy juga menyajikan secara gamblang soal struktur karya yang mampu mengguncangkan sebuah dunia.

Keempat, intelektualitas dan kearifan budaya lokal. Dari sekian banyak bab yang ada, Roy terampil memainkan dan mencipatakan sebuah drama kehidupan yang penuh kontradiktif. Hal ini akan kita temui dari beberapa tokohnya yang sangat gandrung akan peradaban Barat, tetapi malah melupakan budaya aslinya. Seakan-akan, Barat adalah sebuah penentu. Dengan kata lainnya, kritik Roy kepada Barat ini bukan lahir dari ke-iri-an karena merasa tertinggal dari Barat. Lebih jauh dari itu, Roy mencanangakan sebuah ajakan untuk kembali kepada asal-usul.

Alusi yang digunakan Roy pun tidak bisa diremehkan. Dengan meminjam kebiasaan anak-anak yang suka bercanda, Roy ibarat menertawakan kebodohan-kebodohan karena terlalu menghamba pada Barat tadi. Sampai-sampai, untuk membalik kekeliruan tersebut, Roy menggambarkan perilaku Rahel dan Estha tokoh utama dalam buku ini, membaca dan menyebutkan kosakata dalam bahasa Inggris dengan carra terbalik. Ya, dari belakang lalu ke depan. Malahan, dalam penulisan bahasa Inggris pun, Roy menolak tunduk pada aturan baku.

Kelima, sebuah syair yang amat panjang dan permainan bahasa lokal. Bukan hal yang berlebihan, kalau saya menyebut buku ini sebagai sebuah novel berbaju “syair” yang amat panjang. Tentu saja saya tidak hapal kata apa saja, dan di bagian mana saja yang saya sebut sebagai “syair” tadi. Tapi untuk membuktikan hal tersebut, akan saya masukkan salah satunya di bawah ini;

The had never been shy of each other’s bodies, but
they had never been old enough (together) to know
what shynyess was.
Now they were. Old enough.
Old.
A viable die-able age.

Nah silahkan artikan sendiri syair ini. Untuk yang bahasa Inggrisnya belum lancar, dan kepada yang sudah lancar sekalipun, butuh tenaga  ekstra mengartikan syair ini saya kira. Bukan hanya menuntut kecakapan yang tinggi terhadap penguasaan syair, buku ini menghendaki kita merelakan perasaan yang jauh lebih banyak ketimbang membaca syair pada umumnya. Oleh sebab itu, hal ini pula yang menjadikan seorang Roy sebagai arsitekutr kelas wahid dalam dunia sastra.

Penggunaan bahasa lokal yang khas Kerala, menjadi pembukti bahwa Roy, tidak tercerabut dari akar. Kata benda yang absurd, dan imaji yang konkret, menjadi cara Roy untuk menjelaskan setiap tokoh yang ada dalam bukunya ini. Hal ini yang kemudian, menjadi pembeda Roy dengan pengarang lain. Yang kebanyakan, mendeskripsikan seorang tokoh secara gamblang, Pramoedya Ananta Toer, misalnya. Berkebalikan dengan itu, Roy selalu menjelaskan seorang tokoh dengan cara yang tersirat.

Membaca buku ini, memberikan pengalaman unik dan berharga bagi saya. Di samping membuat saya lebih mengenal India tidak hanya melalui film saja, buku ini menjadi penunjuk atas usaha keras seorang pengarang. Kemudian, lewat buku ini pula kita bisa merasakan pergolakan seorang penulis dengan dunianya. Yang tak jarang, membuat penulis akan merelakan idealismenya. Arundhati Roy, adalah gambaran murni tentang bagaimana kemerdekaan sejati seorang penulis, yang seharusnya dan terus bisa “Mengusik Kemapanan, dan Menanggalkan Kegagahan”.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel