Menghormati Kepergian


Menghormati Kepergian
Sumber Foto: gambaranimasi.pro

Penulis: Farhan Ariza Guswan*

Di kota yang sekarang bernama Jogja, tepat pada empat minggu yang lalu, sebuah kejadian yang memberiku pengalaman berharga terjadi. Tepatnya pada tanggal 2 Maret 2020. Kejadian itu adalah tragedi persekawanan yang aku alami. Atau lebih tepatnya disebut dengan rusaknya hubungan pertemanan. Ada pepatah yang bunyinya begini:

“Carilah teman sebanyak mungkin, atau hindarilah musuh sebisa mungkin. Barang siapa menyulut permusuhan, maka ia akan menanggung akibatnya. Dan barang siapa yang selalu menjaga tali pertemanan, maka akan tenteramlah hidupnya”.

Pepatah itu, bagiku merupakan patokan sebijak-bijaknya hubungan pertemanan. Tapi siapa yang bisa menjamin, hubungan pertemanan akan selalu baik-baik saja? Tidak ada yang bisa menutup kemungkinan, hubungan pertemanan yang sudah lama sekalipun, bisa rusak karena hal yang sepele.

Hampir selama setahun lebih sebelumnya, aku selalu berusaha menjaga hubungan baik tersebut. Bahkan bisa dibilang, seakan tidak ada yang bisa membuat hubungan pertemananku menjadi di luar prakiraan seperti sekarang ini. Boleh jadi, aku merasa semuanya akan selalu baik-baik saja. Dan aku merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan.

Sampai pada satu titik, aku harus merelakan kepergian mereka. Ya, mereka yang sudah aku percaya sebelumnya. Mereka yang sebenarnya juga pernah mengkhianatiku. Mereka yang sudah aku maafkan sebelumnya. Pada akhirnya, mereka kembali mengulang kejadian yang sama. Dan seakan tidak pernah belajar, dari kesalahan sebelumnya.

Dengan adanya kejadian ini, aku pribadi tidak ingin ambil pusing ke depannya. Toh lagian, aku juga tidak berniat untuk mencari musuh. Karena aku orang yang paling takut jika punya musuh. Ditambah lagi, aku bukanlah orang yang suka mencari-cari kesalahan.

Hingga hari ini aku  menyimpulkan, ini juga merupakan salahku. Karena menaruh kepercayaan lebih tidak pada tempatnya. Karena menaruh kepercayaan sebelum memastikan terlebih dahulu. Dan karena aku menaruh kepercayaan di lubang yang sama, yang jelas-jelas pernah menikamku.

Tanpa punya niatan membela diri, aku akan selalu berbaik sangka kepada mereka yang telah pergi. Aku akan selalu berdoa supaya mereka bisa lebih baik lagi. Aku berdoa agar mereka tidak lagi mengecewakan orang lain. Dan aku berdoa, agar mereka memaafkan kesalahanku.

Sekalipun terdengar mustahil, setidaknya tidak menjadi suatu masalah jika sudah aku pasrahkan kepada yang “Maha Pemaaf”. Karena tidak lain dan tidak bukan, sumber pengharapan hanya aku gantungkan padanya. Dan aku tidak ingin lagi menaruh harapan kepada apapun itu yang intinya bersangkut-paut dengan persekawanan.

Kehormatan, hanya bisa didapat dengan tanpa niatan ingin merendahkan. Layaknya semacam hadiah, kehormatan tidak akan bisa dicari ke mana pun. Ia adalah sebuah teka-teki dari potongan puzzle kehidupan yang sedang kita jalani.

Seperti halnya rasa nyaman dan bahagia, ia tidak akan bisa dipesan ke siapa pun yang merasa punya kemampuan menghadirkannya. Ini juga berlaku bagi kesedihan dan kegelisahan. Bagaimana mungkin kita memesan agar kita bisa sedih dan gelisah, sesuai dengan yang kita inginkan.

Jika seandainya hal itu bisa terjadi, setidaknya kita harus punya teknologi yang bisa mengatur perasaan manusia di kemudian hari. Dan andaikan teknologi yang semacam itu sudah ada, siapakah kira-kira yang akan menjadi pemesan dan pengguna pertama?

Apakah ia dan mereka-mereka yang meninggalkan? Atau malah ia dan mereka-mereka yang (merasa) telah ditinggalkan? Entahlah, saya rasa tidak akan semudah dan sesederhana dua pilihan tersebut. Karena sejatinya, tak ada yang layak menentukan bagaimanapun tolak ukurnya.

Pada akhirnya, saya hanya ingin belajar untuk menghormati yang namanya “kepergian”. Biarpun kepergian selalu identik dengan kesedihan yang diringi sebuah tangisan, setidaknya saya ingin mencoba memilih hal yang lain. Saya pun tidak ingin tidak bisa memilih dalam hidup. Dan betapa tidak beruntungnya, jika kita hanya bisa memilih pergi ketimbang bertahan.

Saya rasa sudah sangat banyak kepergian ditangisi. Bukankah yang ditinggalkan harus tetap menjalani hidup yang selanjutnya? Lantas kenapa harus berlarut-larut dalam pusaran kesedihan, yang membuat kita semakin hari semakin lemah.

Ketika kau dilahirkan ke dunia ini dengan sendirian, maka kenapa mesti menghamba pada yang namanya pertemanan? Bukankah masih banyak hal lain yang bisa dilakukan, meskipun merasa tidak ada seorang teman?

Lebih jauhnya, kita juga harus bisa menghormati, terhadap alasan kepergian itu sendiri. Dengan begitu, dampak di kemudian hari tidak ada yang perlu disesali. Bahkan, pada akhirnya kita bisa lebih bijak lagi, dalam menaruh hormat. Apalagi maenaruh hormat kepada yang namanya kepergian.

*Pemerhati manusia

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel