Menghadang Radikalisme di Perguruan Tinggi


Menghadang Radikalisme di Perguruan Tinggi
Sumber Foto: portalsatu.com

Penulis: Fajar Setya

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menyatakan penyusupan paham radikalisme sudah masuk ke kampus-kampus, dan melibatkan mahasiswa. Terlepas benar tidaknya, radikalisme memang membutuhkan basis massa yang jelas. Realita di lapangan, yang mengatakan paham radikalisme sangat mudah menyebar di lembaga pendidikan, tampaknya berkaitan erat dengan semakin mudahnya akses teknologi komunikasi digital.

Perkembangan teknologi yang sudah sangat maju seperti sekarang, menyebabkan penyebaran informasi berkembang dengan sangat cepat, dan sulit memonitornya. Oleh karena itu pula, menjadi hal yang memungkinkan bahwa penyebaran radikalisme di kampus, sulit untuk dilacak hari ini.

Selain perihal tekonologi, mudahnya paham radikalisme masuk ke kalangan mahasiswa dan generasi muda, dikarenakan saat ini kolektivitas  (interaksi) sosial mereka mulai berkurang. Dan parahnya lagi, lebih banyak menghabiskan waktu dengan gagdet. Hal itu juga yang membuat hubungan antar-mahasiswa dan generasi muda, menjadi renggang. Sehingga, mereka tidak mempunyai filter untuk menghadapi propaganda radikalisme.

Faktor lainnya, dan yang akrab di kalangan mahasiswa, adalah frustasi. Frustasi dari hal yang terkecil, sampai kepada frustasi yang paling parah. Mulai dari frustasi karena keluarga atau masalah studi, sampai frustasi dikarenakan oleh keadaan. Baik karena kondisi sosial politik di Indonesia masih tidak menentu, dan kondisi lainnya.

Melihat hal yang demikian, menjadi momen yang tepat bagi para agen penyebar paham radikalisme. "Saat semua jadi susah dan tidak pasti, mereka menawarkan angan-angan yaitu kalau ikut khilafah, maka selesailah persoalan". Selain itu, tawaran jika ikut khilafah masalah lapangan pekerjaan yang minim, dan penghasilan yang tak menentu akan terselesaikan. Ditambah lagi dan tidak akan lupa, kalau ikut khilafah, matinya pasti masuk surga.

Harapan yang semacam itu, akan mudah sekali ditangkap. Saat situasi orang yang sedang frustasi. Padahal, semua itu omong kosong saja. Tidak lebih ibarat ingin pergi ke bulan, tanpa menggunakan roket. Atau semacam promosi iklan sahaja.

Akibat yang Dimunculkan

Banyak hal negatif yang bermunculan ketika semakin tumbuh suburnya paham radikalisme. Salah satuya ialah, menghancurkan nasionalisme bangsa. Hal ini ditandai dengan mulai dilupakannya sejarah pengorbanan pahlawan dahulu. Tidak bisa dipungkiri, generasi selanjutnya akan buta sejarah. Jika paham radikalisme ini semakin meluas. Sejarah panjang perjuangan para pahlawan, dalam menyatukan bangsa dan negara ini, lambat laun juga akan dilupakan.

Salah duanya, mencoreng nama baik agama. Radikalisme sering kali mengatasnamakan agama untuk melegitimasi tindakannya, dan tidak jarang memakai kekerasan. Padahal, agama selalu menganjurkan kasih sayang, tidak kaku serta peduli terhadap sesame. Bukan malah tidak mau menerima yang namanya perbedaan.

Lebih lanjut, radikalisme meracuni pikiran anak bangsa. Adanya gerakan radikalisme tentu akan menjadi racun untuk pikiran anak bangsa. Generasi penerus, seharusnya diberikan contoh yang baik. Yaitu saling rukun dan gotong-royong. Bukan malah menolak keberagaman yang ada. Radikalisme, secara tidak langsung menyebabkan anak bangsa berpikir keras, kaku, dan sempit.

Radikalisme, seharusnya juga dibedakan menjadi dua hal. Yaitu radikal dalam berpikir, dan radikal dalam bertindak. Radikal dalam berpikir, adalah kebutuhan dan keharusan bagi mahasiswa. Sedangkan radikal dalam bertindak, adalah hal yang perlu ditolak. Karena tidak sesuai dengan konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengingat mahasiswa adalah tonggak estafet penerus harapan bangsa, kiranya perlu menempa mahasiswa untuk selalu mengahargai dan memperjuangkan keutuhan NKRI.

Upaya Pencegahan

Dari hal-hal negatif yang disebabkan radikalisme, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah radikalisme di kampus. Di antaranya, pertama, menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi. Upaya ini bisa dilakukan dengan menggelar seminar anti radikalisme dan toleransi, serta pemahaman beragama yang utuh secara masif. Selain itu, bisa pula mengadakan kajian rutinan. Agar terus dapat mengawal pemahaman yang berkembang di kalangan mahasiswa.

Kedua, melakukan rekrutmen secara ketat terhadap pengajar maupun dosen, sebagai upaya antisipasi penyusupan paham-paham radikalisme di dunia pendidikan. Untuk mendeteksi radikalisme, kiranya diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Baik di kalangan birokrasi kampus, maupun mahasiswa. Hal ini bisa diawali dengan menginformasikan aktivitas yang dianggap mencurigakan.

Ketiga, membatasi organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan ormas radikal, dan mempunyai kecenderungan radikalisme. Seringkali, radikalisme tumbuh subur di kampus karena ada yang mewadahi. Ketika paham radikalisme meluas, eksistensi dan propagandanya akan semakin masif, dan daya tariknya akan semakin kuat. Oleh karena itu, perlunya ketegasan dari pihak kampus dalam mengatasi radikalisme tersebut.

Upaya mencegah radikalisme di kampus bukan semata-mata usaha politis. akan tetapi, juga bentuk dari bela negara yang seharusnya diterapkan di wilayah pendidikan. Selain itu, mencegah radikalisme adalah upaya penerapan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan ikut mempertahankan demokrasi dalam kehidupan bernegara. Terakhir, pertanyaanya, kapan kita akan memulai hal tersebut?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel