Membaca Semasa dan Mendalami Makna Tentang Rumah


Membaca Semasa dan Mendalami Makna Tentang Rumah

Penulis: Gerbera*

Setelah sebulan berpuasa ke toko buku, akhirnya pada awal November kemarin, saya menyempatkan diri mengunjunginya. Bersamaan dengan ulang tahunnya, toko buku tersebut mengadakan diskon 30% untuk semua bukunya. Waw! Benar-benar kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Hehe~

Saya menemukan buku Semasa di antara jejeran novel dan buku milik penerbit Oak. Setelahnya, saya baru tahu bahwa ternyata buku itu terbitan lama. Ah, tapi saya justru senang dengan buku-buku terbitan lama. Menarik juga membaca sinopsisnya. Seketika, saya sambar buku itu dan langsung pergi ke kasir dengan tiga buku lainnya di tangan.

Sengaja saya membacanya secara perlahan, karena topik dalam novel tersebut juga membutuhkan waktu lebih untuk mendalaminya. Hingga akhirnya, saya menyesal buku ini tandas pada waktu kurang dari 3 hari. Ah, harusnya bisa lebih lama.

Semasa, karya Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang mengangkat tema yang sederhana, yakni tentang keluarga dan rumah. Semasa sendiri bercerita  tentang sepasang sepupu, Coro dan Sachi yang kembali ke rumah masa kecil mereka di Pandanwangi.

Sepasang sepupu tersebut dibersamai oleh orangtua mereka. Bibi Sari dan Paman Giofridis merupakan orang tua Sachi. Sedangkan, Bapak merupakan Ayah Coro. Bibi Sari dan Ayah Coro merupakan kakak-adik dengan hubungan yang sangat dekat. Mereka kemudian membangun rumah tersebut sebagai rumah peristirahatan, dengan harapan bisa menjadi tempat untuk pulang dua keluarga tersebut.

Paman Giofridis yang berasal dari Yunani, akan pindah bersama Bibi Sari untuk menghabiskan hari tua di tanah kelahiran Paman Giofridis. Sedangkan Sachi sendiri yang telah menempuh pendidikan hingga bekerja di Belanda, memutuskan untuk tinggal di sana. Permasalahannya adalah, ketika mereka kembali ke rumah tersebut setelah sekian lama. Dan mereka berniat menjualnya, rumah yang penuh dengan kenangan tersebut harus berat hati, terutama Bapak, dipindah tangan ke orang lain.
Yah, rumah selalu identik dengan sebuah keluarga. Ada juga yang mengartikan 'rumah’ sebagai suatu kepulangan atau hal lainnya. Rumah, tempat nyaman untuk berbagi peluk-peluk hangat dan canda tawa lepas. Walaupun tidak sedikit juga yang menganggap rumah sebagai tempat paling tidak menyenangkan. Karena kita juga tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa kita dilahirkan. Semua itu memang tidak jauh dari kenangan, dan hal-hal yang terjadi didalamnya.
Bagi saya, rumah adalah di mana pun kehangatan keluarga dapat terasa. Lebih dari apapun, rumah adalah tempat ternyaman. Tempat meraih sunyi saat dunia luar sudah terlalu riuh. Walaupun tidak menutup kemungkinan masalah akan selalu ada, entah masalah dari luar atau dari dalam rumah itu sendiri.
Membaca Semasa, saya seperti diajak mendalami lagi makna rumah dan kepulangan. Ada sensasi memutar kenangan-kenangan masa kecil dahulu. Sebagai orang yang merantau sejak umur 12 tahun (pasca sekolah dasar), rumah adalah tempat semua lelah itu meluruh.

Dulu, saat saya harus pindah dari rumah di Sukorejo ke Paciran, berat rasanya meninggalkan rumah yang sudah dihabiskan selama masa kecil di sana dengan keluarga yang masih utuh, Abah, Ibu, dan tiga kakak saya. Hingga kemudian semua merantau (termasuk saya), dan hanya menyisakan orangtua di sana. Sehingga, Abah dan Ibu memutuskan untuk pindah dari rumah itu.

Layaknya rumah Pandanwangi dalam Semasa, rumah Sukorejo juga menyimpan banyak kenangan. Tapi bagaimanapun, ia tetap ‘rumah’, hanya benda mati. Yang hidup adalah kenangan-kenangan di dalamnya.

Seperti kata Bibi Sari dalam Semasa, “Hidup memang seperti itu, kamu melepaskan sesuatu, lalu memulai sesuatu. Rumah ini, bagaimanapun, ya, benda mati. Yang hidup itu kenangan di dalamnya, juga alasan-alasannya berdiri. Semua kedekatan emosional yang muncul darinya, juga terhadapnya, itu tidak akan lepas, tidak akan hilang. Aku akan memegangnya terus-menerus, memeluknya erat-erat di hatiku, sampai kapan pun” (hal. 101).

Entah mengapa, karya apapun tentang keluarga, baik film, buku, seni, atau sekedar tulisan esai, selalu berhasil mengeluarkan sisi melankolis saya. Seperti Film Keluarga Cemara, Gifted atau Miracle in Cell No. 7, semuanya benar-benar berhasil membuat saya sedih dan menangis. Tapi tak apa, saya bisa menerima sisi melankolis saya yang seperti ini.

Hingga pada akhirnya, saya berani memutuskan untuk menambahkan Semasa karya Teddy dan Measy sebagai daftar novel favorit saya, setelah Norwegian Wood milik Haruki Murakami dan Of Mice And Men karya John Steinbeck. Cerita yang sederhana namun disampaikan dengan penuh makna, dibangun dengan diksi yang menarik.

*"Mau hidup dengan seribu pohon"

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel