Membaca Demokrasi Perspektif Kebangsaan dan Ideologi


Membaca Demokrasi Perspektif Kebangsaan dan Ideologi
Sumber Foto: IG Marjin Kiri

Identitas Buku

Judul: Rosa Luxemburg: Sosialisme dan Demokrasi

Penulis: Dede Mulyanto

Penerbit: Marjin Kiri

Cetakan: November, 2019

Tebal: i-xx+253

Oleh Lenin, Rosa Luxemburg dijuluki sebagai “Sang Elang.” Julukan ini bukanlah tanpa sebab. Riwayat hidup Rosa yang melalang buana dari satu negara ke negara lain, merupakan salah satu faktor dirinya mendapat julukan tersebut. Selain itu, secara kepribadian Rosa memang bukanlah sekedar perempuan biasa. Konon, Tan Malaka pernah memberi saran kepada salah seorang murid perempuannya “agar bertauladan kepada Rosa Luxemburg” (hlm 2).

Sosok yang satu ini memang tidak bisa didefinisikan secara sederhana. Lahir dari seorang keluarga Yahudi dan orang Polandia, tidak lantas menghalanginya untuk keluar dari kebiasaan agama yang dianut keluarganya, serta kebiasaan orang-orang di negaranya. Rosa Luxemburg lahir 15 Maret 1871 di Zamosc, sebagai anak bungsu dari lima bersaudara (hlm 13). Sedari kecil, Rosa sudah dibiasakan membincangkan karya-karya pujangga Pencerahan dari Prancis dan Jerman, serta karya sastra Polandia.

Rosa Luxemburg, bukanlah nama yang asing bagi para pejuang kemerdekaan Indonesia masa silam. Mulai dari Alimin, Kasman Singodimedjo, sampai Perdana Menteri pertama kita, Sutan Sjahrir, mengenal dan menekuni pemikiran perempuan berkebangsaan Polandia ini. Akan tetapi, karya-karyanya belum pernah secara utuh diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Yang artinya, Rosa Luxemburg memang dikenal, tetapi ia bukanlah orang yang pemikirannya dianggap penting.

Lewat buku yang ditulis oleh Dede Mulyanto ini, kita bisa mengenal lebih dalam siapa sosok Rosa Luxemburg yang sebenarnya. Buku ini, bisa disebut buku yang paling otoritatif menjelaskan siapa sebenarnya Rosa, dan kontribusinya bagi percaturan pemikiran dunia. Meski buku ini adalah buku biografi, kita tidak akan terjebak dalam sebuah kejenuhan ketika membaca buku ini. Karena penulisnya sendiri menggunakan model riwayat untuk menyajikan pemikiran Rosa Luxemburg.

Ada banyak hal yang bisa kita petik dari kehidupan Rosa. Salah satunya yaitu perihal kebangsaan. Pelajaran yang bisa kita ambil justru melalui kesalahan yang pernah diperbuatnya. Akan tetapi, kesalahan Rosa ini bukanlah kesalahan seorang Chauvinis dengan nasionalisme yang sempit. Namun kesalahan yang jujur dari seorang “Revoluisoner sejati.”

Dalam konteks Indonesia dewasa ini, menjadi penting kiranya bagi kita untuk mengenal lebih dekat siapa sebenarnya sosok Rosa. Penyempurnaan alat komunikasi dalam bentuk komputer, internet, satelit, dsb bagi kita kebanyakan, tentu sebagai sebuah kemajuan yang niscaya. Dan secara tidak langsung menjadi perangkat pendukung dari demokrasi itu sendiri.

Namun menurut Rosa, hal-hal yang demikian alih-alih memajukan, justru malah menyiapkan “krisis bagi demokrasi dalam bentuk yang paling parah.” Selain itu, kekhawatiran Rosa dan kritiknya terhadap demokrasi, nyatanya benar-benar terjadi di Indonesia. Di mana demokrasi kita sekarang dikuasai oleh segelintir elit oligarki, baik oligarki politik dan oligarki ekonomi. Hal inilah selanjutnya yang menjadi ihwal penting dari pembahasan di dalam buku ini.

Demokrasi bisa diibaratkan sepotong kue. Semua golongan dan kelas mana pun pasti memperebutkannya. Hal itu bukan tanpa dasar saya kira. Karena melalui demokrasi lah, kepentingan kelas dan golongan bisa terwujud. Apalagi melihat kondisi Indonesia pasca Reformasi, di mana kepentingan kelas dan golongan begitu ditonjolkan. Kondisi demikian, yang membuat demokrasi akhirnya dimanfaatkan untuk kepentingan sedemikian rupa.

Di Indonesia, kita mengenal demokrasi tidak seperti yang dipahami oleh Rosa. Pasalnya, demokrasi kita sudah terlanjur menjadi demokrasi-liberal. Sejak tumbangnya orde baru, muncul semacam euforia di kalangan pejuang demokrasi. Dengan semboyan “reformasi”, kita menganggap kalau penindasan sudah berakhir. Padahal, kondisi yang terjadi selanjutnya tidaklah demikian. Dengan adanya otomoni daerah, perjuangan untuk mewujudkan demokrasi malah tidak lagi terpusat dalam satu gerakan perjuangan yang utuh. Melainkan terpisah-pisah dan terpecah-belah.

Hal ini yang kemudian menjadi tepat kalau kita belajar dari kisahnya Rosa. Di Polandia, nasionalisme tidak sesederhana seperti di Indonesia. Karena Polandia waktu itu, terbagi menjadi tiga wilayah bagian. Selain itu, kondisi demokrasi Polandia tidak menunjang demokrasi terwujud sepenuhnya. Akan tetapi berbentuk demokrasi semu, demokrasi yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir kalangan, terkhusus kalangan elit dan para orang kaya.

Rosa Luxemburg jelaslah seorang Marxis. Bahkan bisa dibilang kalau ia adalah seorang Marxis yang ortodoks. Dengan ideologi yang dianutnya, menurut Rosa, “demokrasi” bukanlah kue yang mewah bagi sebuah kehidupan di suatu negara, dan bukan menjadi tujuan final. Melainkan sebagai hal yang niscaya. Kondisi tersebut yang selanjutnya membuat Rosa berbeda pandangan, dan berseberangan dengan sejawat perjuangannya kala itu. Sekaligus posisi yang mengukuhkan bahwa ia tidak mengamini nasionalisme menjadi prioritas untuk mewujudkan demokrasi.

Menurut Rosa, sebagai ideologi politik, “nasionalisme” hanya akan merecoki kesadaran pejuang demokrasi. Karena mengalihkan dengan urusan-urusan yang sifatnya terjebak pada persoalan tanah air dan kebangsaan. Contohnya seperti keutuhan wilayah dan kerukunan antar sesama. Hal tersebut sepenuhnya ditampik oleh Rosa. Menurutnya, demokrasi dan nasionalisme tidak bisa dipadukan, karena memang tidak kompatibel.

Sering kali memang terjadi saling tindih dari yang namanya nasionalisme dan demokrasi. Akan tetapi, untuk konteks di Indonesia justru hal tersebut sebenarnya sangat mungkin diatasi. Melihat sejarah perjalanan Reformasi sampai hari ini, saya kira memang tidak bisa menyederhanakan persoalan yang ada. Perlulah memang kiranya kalau kita mengambil semangat kesetaraan, yang menjadi salah satu seruan perjuangan dari seorang Rosa.

Tentunya sebagian dari kita masih beranggapan bahwa nasionalisme masih punya tenaga progresifnya. Terutama untuk menyelesaikan masalah kepentingan ekonomi dan politik kita hari ini. Di bawah bayang-bayang yang bernama bangsa Indoensia, patut jikalau kita mengilhami hal tersebut sebagai takdir yang menjadikan kita senasib dan setanah-air.

Hal ini yang kemudian harus kita susun menjadi bekal untuk mendewasakan demokrasi kita. Agar tidak ada lagi tuduhan kepada sebagian golongan yang dianggap separatis. Karena memang pada dasarnya kita adalah sama, sama-sama menjadi bagian dari Indonesia.

Ada kalanya biografi seorang tokoh tidak melulu menjenuhkan. Sampai hari ini, sebelum saya membaca buku ini, secara pribadi saya memang terkesan dengan biografinya Sjahrir. Tak disangka, seorang Sjahrir yang demokrat ternyata juga menganjurkan untuk membaca karya-karya Rosa yang dianggapnya sebagai seorang demokrat sejati.

Melalui hal tersebut, saya kira buku biografi ini memang cocok dibaca oleh semua kalangan, apalagi dengan kondisi kita sekarang. Bukan hanya karena ia seseorang yang tidak pernah berhenti menyuarakan kesetaraan. Akan tetapi, supaya kita juga bisa belajar dari kesalahan masa lalu seorang demokrat sejati.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel