Mainan Uang


Mainan Uang

Penulis: Kusmi Novitasari 

“Tidak salah lagi.”

Maklumat kedua itu adalah lanjutan dari maklumat pertama tempo lalu. Lamat-lamat aku mulai mengerti, kalau maklumat kedua dan pertama tempo lalu hanyalah akal-akalan dari pemerintah wilayah Lamunan Antah Berantah. Sambil kuletakkan jari di daguku dan memperpanjang lamunanku, aku tersadar bagaimana ini semua menjadi tidak masuk akal. Ya, benar-benar tidak masuk akal sama sekali. Dan sudah jelas, ini yang dinamakan mencari untung dalam kesusahan, atau mengambil kesempatan dalam kesempitan.

“Sungguh, aku tidak habis pikir”, ucapku dalam hati. Bagaimana pemerintah tega mengelabui rakyat yang sedang susah ini. Yang memang selalu susah hidupnya sejak wabah ini pun belum datang. Tapi kenapa? Kenapa mereka setega itu kepada kami. Kami yang dianggap tidak tahu-menahu duduk persoalannya, tetap saja jadi korban keserakahan. Pun kami sebenarnya tidak ingin dibegitukan. Kami tidak ingin hanya menjadi korban dari perut-perut yang sedang kelaparan, dan korban dari kantong-kantong para perampok itu.

Benar, ini sudah jelas. Tidak salah lagi. Kalau ini bukanlah sebuah permainan, bagaimana akan secepat itu. Bagaimana bisa uang yang begitu banyaknya habis dalam sekejap. Kalau tidak mereka bagi-bagi untuk diri mereka sendiri. Sedangkan, sedangkan kami belum merasakan uang yang harusnya diperuntukkan kepada kami. Ya, kami yang rakyat kerajaan Lamunan Antah Berantah ini.

“Jadi maksudmu kita ini dikelabui ndre?” tanya Resno yang seketika membuyarkan lamunanku siang itu.

“Ini tak bisa ditunggu lagi, No. Kita akan sampaikan pada masyarakat, kalau inilah yang disebut sebuah pembodohan. Pembodohan yang sudah direncanakan sejak awal. Masalah ini kita harus usut tuntas sampai ke akar. Kalau terus dibiarkan, bukan tidak mungkin, kita dan rakyat Lamunan Antah Berantah ini pasti mati kelaparan.”

Belum ada tanggapan dari Resno, ia masih seakan memikirkan sesuatu untuk menjawab perkataan Andre barusan. “Bukankah niat awal kita tidak begini, Ndre? Harusnya kita tidak perlu memancing kemarahan yang lain. Kalau seperti ini bukannya nanti kita akan dianggap pembuat onar?”

“Persetan dengan itu, No. Yang paling penting bukanlah bakal jadi seperti apa kita nanti, dan dianggap apa oleh para perampok itu. Ini soal kemaslahatan bersama, No. Setidaknya kamu harus mendukungku, karena ini bukan hanya kepentingan kita lagi. Ini kepentingan semua orang, dan untuk semua orang.”

Andre dan Resno yang awalnya masih menaruh kepercayaan kepada wakil rakyat itu, akhirnya tidak bisa tinggal diam. Tepat setelah maklumat kedua itu keluar. Yang dianggap oleh Andre dan Resno sebagai sebuah pengumuman penipuan. Maklumat yang berisi pemangkasan anggaran daerah, yang rencananya akan disalurkan untuk mengatasi wabah yang sedang melanda Lamunan Antah Berantah saat ini. Namun nyatanya, alih-alih disalurkan, rakyat tidak ada yang tahu ke mana semua uang itu. Uang sejumlah 18 milyar lebih hilang dalam waktu belum sampai satu minggu. Bagaikan sirna ditelan bumi.

Yang gilanya lagi, adalah isi maklumat kedua itu. Setelah uang yang tidak sedikit sebelumnya belum dirasakan dampak dan manfaatnya oleh rakyat Lamunan Antah Berantah, pemerintah sudah bersiap menganggarkan dana yang jumlahnya jauh berkali-kali lipat dari sebelumnya. Prakiraan, dana yang akan diambil untuk menangani wabah impor ini senilai 100 milyar lebih. Bayangkan, silahkan kira-kira sendiri jumlah uang yang segitu. Meski disebut sebagai keharusan, karena ini sudah instruksi dari pemerintah pusat Karta Jaya sana, tetap saja tidak masuk di akal. Pasalnya, sejak wabah ini dianggap sebagai sebuah ancaman, pemerintah Lamunan Antah Berantah masih terlihat santai-santai saja.

Dengan kata lain, ini bakal menjadi malapetaka di kemudian hari. Yang jika terus dibiarkan, akan memakan korban yang tidak sedikit. Karena yang seharusnya difasilitasi oleh uang itu adalah rakyat, bukan mereka para perampok tak tahu malu itu. Bukannya mereka yang banyak duduknya dan ngocehnya itu. Bukan, sekali lagi bukan. Uang itu adalah hak kami, hak rakyat Lamunan Antah Berantah. Karena kamilah yang seharusnya dilindungi. Bukannya malah dibodohi seperti ini.

“Tapi Ndre, bukannya kita bakal cari mati kalau begini?

“Kata siapa No? Sejak kapan kau jadi banci macam begini? Sejak kapan kau takut kepada orang yang juga sama-sama makan nasi? Lebih baik mati hari ini No, daripada mati besok kalau aku harus ikut-ikutan menjaga kebohongan ini. Kebohongan yang aku juga menjadi korban di dalamnya!”

“Lalu apa yang kau mau perbuat, Ndre? Bagaimana juga kita menyadarkan rakyat kalau ini adalah penipuan? Bukannya kita tidak punya kenalan di parlemen sana?”

“Ah, sejak ada wabah ini otak kau semakin tumpul saja No. Ayolah, jangan pura-pura bego, sekarang bukan waktunya bercanda. Keadaan sudah genting, kau masih saja mau melawak. Pantek memang kau ini.”

“Ini aku serius Ndre. Aku sedang tidak melawak. Aku benar-benar kehabisan ide soal ini.”

“Ya sudah kalau begitu, kau ikuti rencanaku saja. Dan jangan bocorkan ke siapa-siapa rencana ini. Sampai kita sudah yakin merasa menang. Paham?

Resno masih mencoba mencerna pertanyaan sekaligus permintaan Andre barusan. Dengan wajah bingungnya, ia masih belum paham sepenuhnya dengan rencana yang sedang Andre buat.

“Lalu, mau kau apakan rencana itu. Apa yang bisa kita lakukan dalam jangka waktu dekat ini? Bukannya kita tidak bisa mengumpulkan orang gara-gara adanya khitah ‘dilarang berkumpul’ ini?”

“Ai ai ai, kalau ada otak dipake dong, No!” Andre merasa geram tapi masih bisa menahan amarahnya. Dia sadar, cuma Resno yang bisa diandalkan untuk urusan ini. Komunikasi Resno ke publik jauh lebih baik ketimbang dirinya. Oleh karena itu, Andre sadar betul apa yang harus ia perbuat agar rencana penyadaran ini berhasil. Ya, dia membutuhkan Resno. Orang yang bisa menyampaikan gagasannya kepada orang banyak dan lebih luas.

“Jadi begini, No. Walaupun kita dilarang berkumpul, toh kita masih punya alat komunikasi. Itu alat yang selalu kau bawa ke mana-mana. Yang sering kau pake nonton bokep itu.” Andre mencoba menyindir Resno dengan halus. Berharap Resno langsung paham dengan apa yang ia maksud.

“Hehehe kau ngejek aku yo, Ndre?

“Syukurlah kalo Resno Sadar”, ucap Andre dalam hati.

“Tapi, Ndre. Aku masih belum paham bisa apa kita dengan alat komunikasi ini.”

“Alamak, awak kira kau sudah paham, No. Rupanya otak kau tumpul nian sekarang, sejak libur mencari berita. Tidak awak sangka kalau teman awak jadi dungu sekarang.

“Hahahaha”, tawa pecah dari mereka berdua sampai terdengar ke rumah samping kiri dan kanan.

“Kau ini Ndre, gak puas-puas ngejek aku dari tadi. Sudah sampaikan saja apa yang harus aku lakukan. Aku ini orang lapangan, bukan konseptor kayak kau. Harusnya kau bersyukur punya teman sehebat aku di lapangan, hehehe”, ucap Resno.

“Inilah kalau keseringan nonton bokep No. Harusnya kau sudah paham sejak tadi kalau mengurangi sedikit aktivitas nonton bokepmu.”

“Aiihhh, sudahlah jelaskan saja”, ucap Resno yang sudah tidak sabar lantaran disindir dari tadi.

“Nah, kau kan sudah tahu sendiri, ada larangan berkumpul, dan rakyat yang lain sudah paham betul dengan larangan itu. Tapi coba aku tanya, kira-kira masih memungkinkan tidak, adanya demonstrasi kalau rakyat tahu yang sebenarnya. Kalau uang 18 milyar kemaren, ditambah lagi rencana anggaran 100 milyar dalam jangka waktu dekat ini, adalah sebuah penipuan?

“Tergantung kondisi. Kalau memang keadaannya sudah memaksa, pasti rakyar tidak akan tinggal diam. Dan bukan tidak mungkin rakyat turun ke jalan menuntut apa yang sudah jadi hak mereka. Apalagi kalau keadaannya semakin parah, Ndre. Terlebih kalau harga barang sudah banyak yang naik, dan banyak barang yang sudah langka di pasaran.”

“Oi cerdas juga ternyata kawanku satu ini.”

“Ai panteklah kau ini. Cepat dikit sampaikan saja rencanamu itu.”

“Yo, yo, sabar dulu. Dari apa yang kau bilang tadi, aku akan menyadarkan rakyat kalau rencana pemerintah untuk anggaran 100 milyar itu adalah penipuan. Dan lagi, aku akan menyadarkan rakyat kalau uang 18 milyar yang seharusnya kita nikmati, tidak pernah ada transparansi dari pemerintah.”

“Terus?.”

“Nah, makanya aku akan menulis sebuah selebaran yang berbentuk semacam pengumuman, kalau masalah ini sebenarnya tidak bisa terus kita diamkan. Sudah waktunya rakyat bergerak. Dan melawan pemerintah yang kurang ajar itu.”

“Lalu apa ukurannya rakyat akan sadar dengan hal itu, Ndre?”

“Haduh, berlagak bego kau ini. Emang sialan betul. Kau pengen mengujiku?”

“Oh ya jelas, aku harus tahu dulu, Ndre. Sebelum rencana ini aku sebarkan. Dan aku juga bisa menghitung-hitung apakah rencana ini akan berhasil atau tidak.”

“Oke, baiklah. Kau kan tahu sendiri, kita berdua ini wartawan. Wartawan mana mungkin tidak punya data, bukan? Itu koran yang menumpuk di pojok kamarmu, bukannya itu bisa kita jadikan data. Kan kau juga tahu, selama ini tidak ada pemberitaan soal transparansi dana sebesar 18 milyar itu.”

“Hmmm, betul juga. Terus ndre, ini terakhir. Seperti yang kau bilang di awal tadi, dan sebelum rencana ini aku sebarkan, apa ukuran kalau kita bakal menang?”

“Pertanyaan yang bagus, No. Semakin banyak yang menerima pesan selebaran itu, dan semakin banyak yang menjadikan itu stori, maka di situ semakin besar kemungkinan kita menang.

“Oke, kalau gitu. Segera buat selebaran pengumuman itu Ndre. Biar sore ini aku bisa sebar. Syukur-syukur besok kita bisa langsung kumpul untuk demonstrasi di depan kantor Wedana Lamunan Antah Berantah.”

“Siap, No. Aku suka kalau ada kawan semangat kayak kau.”

Dan begitulah sekelumit kisah ini. Andre langsung membuat selebaran pengumuman penipuan itu. Yang isinya tentu saja mempertanyakan transparansi dana yang tak kunjung datang kepada rakyat Lamunan Antah Berantah. Sore itu juga Resno langsung menyebarkan selebaran pengumuman itu. Keadaan menjadi heboh dan riuh seketika. Rakyat banyak yang tak habis menduga dengan kelakuan para wakil rakyatnya. Dan ada kemungkinan besar, besok harinya mereka akan melabarak kantor Wedana Lamunan Antah Berantah. Untuk mengambil hak mereka yang selama ini dicuri oleh Wedana dan orang-orangnya.

Malam itu, Andre bisa tidur dengan nyenyak dan berharap mimpi indah. Baginya, tak menjadi soal berapa banyak orang besok yang hadir. Setidaknya ia merasa sudah menjalankan kewajibannya. Kewajiban untuk menyadarkan rakyat yang dirampok uangnya. Rakyat yang ditindas perlahan, dan ditikam diam-diam~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel