Lapar: Error 404 Esensi Menulis tidak Ditemukan


Lapar: Error 404 Esensi Menulis tidak Ditemukan

Penulis: Kusharditya Albi Hafiezal

Identitas Buku

Judul: Lapar


Penulis: Knut Hamsun


Penerjemah: Marianne Kattopo


Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia


Cetakan: 2013


Tebal: xxi+284


Saya sudah cukup sering mendengar soal perdebatan, antara "menulis untuk makan" atau "makan untuk menulis". Makan, dalam artian di sini tentu saja soal "hidup". Dan saya rasa, perdebatan semacam itu tidak perlu diperpanjang lagi. Saya pikir, ini cuma persoalan bagi orang-orang yang memang memutuskan untuk menulis. Tentu masing-masing punya jawaban yang lebih dari sekedar dua opsi di atas.

Saya ingat dengan salah satu esai yang ditulis Mario Vargas Llosa, mengenai perumpamaan cacing pita. Baginya, hasrat menulis hampir sama dengan cacing pita. Jika seseorang mempunyai cacing pita di tubuhnya, segala makan dan minum tidak lebih hanya untuk asupan sang cacing.

Selanjutnya, Llosa juga menganggap, bahwa hasrat menulis serupa cacing yang hidup di tubuh. Jika hasrat menulis itu telah tumbuh pada diri seseorang, maka segala sesuatu yang ia lakukan, entah itu makan, minum, maupun tidur, tak lebih hanya untuk menulis. Maka, saya simpulkan bahwa secara singkat Llosa menganggap hidup adalah untuk menulis.

Ada kutipan menarik dari film Dead Poets Society, yang berbunyi:

"We don't read and write poetry because it's cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for"

Menulis dalam kutipan tersebut, adalah karena kita mempunyai ekspresi jiwa, serta kehausan akan cinta dan keindahan. Kita tidak bisa hidup tanpa perasaan-perasaan itu. Kira-kira begitu maksudnya. Tapi apakah benar, jika kita menulis hanya untuk itu?

J.D. Salinger, bahkan lebih ekstrem lagi. Menurut saya, ia adalah sebenar-benarnya seorang penulis. Dalam riwayat hidupnya, ia pernah benar-benar menginginkan publisitas tulisan-tulisannya. Di awal karir menulisnya, ia mengikuti kursus menulis milik Whit Burnett, seorang editor dan pemilik majalah Story. Ketika cerpen awalnya mulai terbit, hasrat akan publisitas semakin menggebu-gebu, hingga akhirnya tokoh Holden Caulfield lahir melalui The Catcher in The Rye sebagai sebuah kontroversi di era 50an.

Pasca The Catcher in The Rye meraih sukses, justru ia menjadi anti terhadap publisitas, ia menghindari orang-orang, media, bahkan keramaian. Namun, ia tetap menulis sepanjang hayatnya. Tanpa publisitas lagi. Ia bahkan berwasiat, jika karyanya hanya boleh terbit setelah 50 tahun kematiannya.

Saya tidak tahu lagi, kalimat macam apa yang pantas digunakan untuk mendeskripsikan tabiat Salinger dalam menulis. Banyak dari kita, mungkin menulis agar dibaca oleh banyak orang, beberapa untuk hidup, yang lainnya sekedar iseng. Saya pikir, tidak ada yang bisa menjelaskan apa sebenarnya esensi dari menulis itu sendiri.

Tokoh "Aku" dalam novel Lapar karya Hamsun, memiliki persoalan yang lebih. Tokoh ini adalah seorang penulis yang miskin. Ia hanya mengandalkan kemampuan menulis, agar dapat mengenyangkan perutnya. Ia bangun pagi tanpa sarapan, memikirkan bagaimana agar otaknya dapat berjalan, lalu menghasilkan suatu tulisan. Begitu mengerikannya kehidupan si tokoh, sampai-sampai ia harus menahan laparnya hingga 1 sampai 2 hari, hingga muncul suatu ilham yang menghantam kepalanya agar bisa menulis.

Banyak pergolakan batin yang terjadi pada tiap-tiap konflik. Kadang si tokoh utama juga memiliki pemikiran jahat, demi makanan yang tidak kunjung ia dapatkan. Tetapi si tokoh juga memiliki nilai-nilai yang ia pegang. Ia, bahkan rela mengorbankan uangnya demi seseorang yang sama-sama belum makan. Entahlah, novel ini sebenarnya terlalu mirip dengan khotbah bagi saya. Maka kita kesampingan saja moral value di dalam novel Norwegia ini.

Dalam pengantar buku ini, Marrianne Katoppo, yang juga sebagai penerjemah, bahkan menyebut tokoh dalam novel ini sangat mirip dengan Chairil Anwar dan puisinya yang berjudul "Aku". Menurut saya itu terlalu berlebihan. Tokoh dalam novel ini, justru terpaksa menulis karena hanya itu yang dapat menghasilkan uang baginya. Maka akan saya ambil salah satu kutipan:

"Aku menjadi mabuk karena itu, puas, kegembiraan membersit keluar, dan aku merasa betul-betul menang; kukipas-kipaskan tulisanku dengan tanganku, dan yakin bahwa nilainya paling sedikit lima krone, malahan kalau dibayar sepuluh krone pun masih akan sangat murah, bila dipikir betapa hebatnya isinya"

Jika kita kembali pada esai Llosa, maka bukan hasrat menulislah yang menjadi cacing pita dalam tubuh si tokoh. Namun lapar itu sendiri yang kemudian membuatnya menulis.

Si tokoh sendiri bahkan tidak benar-benar menginginkan menjadi penulis. Hamsun juga tidak memperlihatkan latar belakang tokoh secara jelas. Bagaimana ia kemudian menjadi penulis dan kenapa harus menulis. Si tokoh berkali-kali juga diceritakan mendaftar pekerjaan-pekerjaan lain, seperti pemadam kebakaran dan akuntan, tapi sayangnya tak pernah lolos juga. Dan di situlah, pada akhirnya ia terus menulis. Saya jadi berpikir apakah kita memang perlu menulis, jika tak ada pekerjaan lain yang bisa kita kerjakan?

Saya sendiri berasumsi bahwa tokoh "Aku' dalam novel ini, adalah Knut Hamsun sendiri. Karena tidak jelas latar belakang tokohnya. Mario Vargas Llosa juga pernah berkata bahwa menulis seperti tarian striptease, namun dilakukan dengan terbalik.

Pada awalnya penulis dengan telanjang menceritakan diri sendiri, setelah itu menjadi mulai berpakaian dengan imajinasi-imajinasi yang fiksi. Seperti yang ditulis Marianne Katoppo pada pengantar buku ini. Knut Hamsun juga hidup miskin dan tidak akur dengan pamannya, sangat mirip dengan tokoh "Aku" dalam novelnya sendiri.

Terlepas dari itu semua, sebagai penutup, saya pikir tidak ada yang bisa menghakimi soal mengapa seseorang memiliki keputusan menjadi penulis. Seperti yang saya katakan di awal tadi, semua punya jawaban masing-masing. Dan tidak cukup hanya dijelaskan pada dua opsi antara "menulis untuk hidup" atau "hidup untuk menulis". Ada banyak pilihan, termasuk keterpaksaan seperti tokoh "Aku" dalam novel Lapar.


Seorang penggemar musik dan film, kadang-kadang terpaksa jadi jurnalis di LPM Rhetor. Bisa ditemui di instagram @kush_albi

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel