Kisah Pertarungan yang Menenangkan


Kisah Pertarungan yang  Menenangkan

Identitas Buku

Judul: Yang Bertahan dan Binasa Perlahan

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: November, 2018

Tebal: 196

Gelisah sebelum akhirnya menjadi tenang~

Apakah ketenangan merupakan sebuah keniscayaan? Apa yang melatari dan membuat diri seseorang menjadi tenang? Apakah karena itu sudah bawaan dari lahirnya sebagai seseorang yang tenang? Ataukah karena ia sudah sarat dengan pengalaman? Dan sudah sangat erat dan lekat dengan pahit-asamnya kehidupan. Sehingga tidak ada lagi yang mampu membuat ia gelisah. Kecuali kegelisahan itu sendiri?

Kenapa pula akhirnya bisa menjadi tenang? Apakah tidak terdapat lagi rumus di pikiran, hati dan jiwanya tentang sebuah kegelisahan? Bagaimana caranya agar ia bisa setenang itu? Bukankah manusia tidak akan bisa tenang dalam waktu yang cukup lama? Sejak kapan dan ketika apa kita bisa disebut tenang? Siapa orang yang paling tenang di dunia ini? Bukankah Nabi Muhammad SAW, juga tidak pernah tenang dalam waktu yang cukup lama seumur hidupnya? Lantas, kenapa kita harus tenang-tenang saja?

Walaupun berisi cerita yang penuh dengan pertarungan, buku kumpulan cerpen Okky Madasari yang berjudul Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, menyimpan semacam kesejukan di dalamnya. Itulah yang saya rasakan setelah menyelesaikan membaca buku ini. Meski isinya tentang kumpulan kegelisahan, yang tergambar dari setiap pertarungan, baik itu pertarungan dengan batin sendiri dan pertarungan dengan sesuatu yang ada di luar tokoh-tokohnya, tetap saja ia menghadirkan ketenangan di dalamnya.

Sembilan belas cerita pendek yang ada di dalam buku ini, berisi keresahan yang akhirnya membuat kita berpikir. Bahwa, kehidupan ini tidak akan terlepas dari yang namanya pertarungan. Dari sini, kita seharusnya sudah bisa membedakan, mana yang bisa disebut pertarungan, dan mana yang bisa disebut sebagai sebuah persaingan. Karena dua hal ini berbeda sama sekali. Yang kalau kita pribadi tidak jeli, maka akan terjebak dalam sebuah kekeliruan yang mendalam.

Berangkat dari hal itu, buku ini pantas saya sebut sebagai penunjuk jalan. Ia bisa berbentuk kompas secara konvensional, atau Google Maps yang lebih modern, bahkan bisa juga berbentuk plang yang banyak dipasang di jalanan. Saya pribadi lebih sepakat dan memilih buku ini mirip plang yang banyak berada di jalanan. Karena, kehadiran buku ini hanya menghantarkan pembaca untuk menemukan jalan yang ingin dituju. Tanpa benar-benar mengarahkan ke tujuan yang ingin dicapai.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, buku ini bisa ditafsirkan sebagai apa saja. Bisa kompas, bisa Google Maps, dan bisa juga plang. Namun yang perlu kita ketahui, tiga hal ini sangat-sangat berbeda antara satu sama lain. Misalnya saja kompas. Ia hanyalah alat penunjuk arah mata angin, yang perlu ketelitian dan kemampuan tersendiri membacanya. Dan apabila kita tidak teliti dan tidak punya kemampuan membacanya, maka kompas tidak akan bisa disalahkan. Karena sesungguhnya kesalahan itu berawal dan datang dari kita.

Beda lagi halnya dengan Google Maps yang lebih modern. Ia bisa menunjukkan jalan mana yang harus dilewati agar kita bisa sampai ke tujuan dengan tepat. Bahkan, sampai ke detail jalan dan kondisi jalan yang akan kita lalui. Tapi masalahnya, meskipun Google Maps tidak membutuhkan kemampuan tersendiri untuk membacanya, ada prasyarat agar alat ini bisa berguna. Ya, kita harus punya  paket data atau kuota. Dan apabila kita tidak punya, maka alat yang satu ini tidak akan berguna sama sekali. Kecuali kita bisa mendapat Wi-Fi gratis.

Selain itu, Google Maps dan kompas juga bisa sama-sama menyesatkan sebagai sebuah alat. Kompas akan eror jika medan magnet di sekitarnya sangat kuat. Yang membuat jarum penunjuknya tidak lagi normal. Sehingga arah yang ditunjuk menjadi tidak karuan. Begitu pun halnya dengan Google Maps. Ia sering mengalami eror, yang tidak jarang menyesatkan, dan membuat penggunanya putar-putar terlebih dulu sebelum sampai ke tujuan. Penyebabnya bisa apa saja, bisa kondisi jaringan yang lemah, bisa kuota yang sudah habis, dan penyebab lainnya.

Jika diibaratkan sebagai manusia, dua alat tersebut punya sifat yang sama sekali berbeda. Kompas tidak ingin membuat penggunanya menjadi seorang yang manja. Oleh karenanya, kompas hanya akan bisa terbaca dan digunakan oleh orang yang punya kemampuan membacanya.

Google Maps adalah kebalikannya. Ia adalah alat yang sangat memanjakan penggunanya. Terbukti, para penggunanya bahkan sampai diarahkan sampai sedemikian rupa. Bisa memilih jalan yang paling cepat, bisa mencari restoran terdekat, atau tempat lain yang sekiranya ingin disinggahi oleh para penggunanya. Semacam diberi pilihan, padahal nyatanya tidak benar-benar bisa memilih. Lantaran sudah diatur oleh Google Maps sendiri.

Menimbang apa-apa yang sudah saya jelaskan di atas, oleh karena itu saya lebih suka memilih mengibaratkan buku Okky ini sebagai plang penunjuk jalan. Yang tidak perlu kemampuan tersendiri untuk membacanya seperti kompas, dan tidak membutuhkan prasyarat lainnya yang sedikit meribetkan seperti Google maps. Plang di jalan hanya sekedar menujukkan. Ia memberikan pilihan sepenuhnya kepada para pembaca, dan memberikan pula keputusan sepenuhnya kepada pembaca untuk menafsirkan.

Plang di jalan, kehadirannya semacam tidak dibutuhkan, tapi ketiadaannya juga akan merepotkan. Ya, begitulah pula saya mengibaratkan buku ini. Ia tidak menuntut lebih. Tidak pula ingin dipercayai sepenuhnya. Karena ia hanya bertugas sebagai penunjuk jalan. Selebihnya, para pembaca sendiri yang akan menentukan, akan dibuat apa hasil bacaannya.

Pun juga akan dibagaimanakan hasil pembacaannya. Apakah akan mengikuti hasil tunjukkan yang sudah diberikan, atau malah memilih jalan yang lain, tidak akan menjadi soal saya kira bagi penunjuk jalan.

Saya lantas teringat dengan bukunya Kawabata, yang berjudul Daun-daun Bambu setelah membaca buku ini. Okky, sama halnya dengan Kawabata saya rasa. Ia tidak ingin mengibaratkan pembaca sebagai pembeli, yang biasanya ingin disamakan dengan raja. Saya sepakat dengan hal itu. Pembaca bukanlah raja sama sekali. Pembaca tidak berhak menuntut kejelasan dari apa yang dibacanya. Pembaca justru harusnya bisa mencari letak kejelasan itu saya kira. Bukannya melulu hanya diam menunggu, ibarat anak burung yang disuapi induknya.

Begitulah kira-kira saya menilai buku ini. Buku ini sama sekali tidak memanjakan para pembacanya. Pun juga tidak bisa disebut membuat nyaman para pembacanya. Akan tetapi, buku ini sangat menggugah siapa pun yang membacanya. Setidaknya begitulah anggapan saya.

Okky juga sangat mahir menugasi pembaca untuk kembali mengingat pengalaman hidupnya. Ya, pantas pula kalau buku ini saya anggap sebagai sebuah alarm. Alarm yang mengingatkan kita. Tentang apa saja yang harusnya kita ingat. Dan lagi, buku ini menenangkan. Menenangkan tapi tidak menghanyutkan~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel