Kawabata, Kumpulan Satwa, dan Daun Bambu


Kawabata, Kumpulan Satwa, dan Daun Bambu
Sumber Foto: kineruku.com
Identitas Buku

Judul: Daun-daun Bambu

Penulis: Yasunari Kawabata

Penerjemah: Nurul Hanafi

Penerbit: EA Books

Cetakan: Desember, 2015

Tebal: v-xvii+154

Jujur, walaupun saya punya keinginan kuat bisa berkunjung ke Jepang, pengetahuan saya tentangnya minim sekali. Yang saya tahu, hanyalah sebatas anime dan beberapa masakan Jepang yang terlihat sangat menggiurkan. Selain itu, saya cuma sedikit paham dengan keindahan bunga Sakura dan gunung  Fuji di sana.

Entah, masih perlu menunggu waktu berapa lama lagi agar saya bisa ke sana. Tetapi yang pasti, dari lubuk kecil hati saya yang paling dalam, setidaknya sekali dalam seumur hidup, saya sangat ingin menginjak tanahnya para Samurai dan kiblatnya anime itu. Yang nanti dengan siapa dan kapannya, tak jadi soal bagi saya.

Selain memang sejak kecil sudah membayangkan bisa ke sana, saya sekarang terikat janji dengan seseorang. Janji yang berkaitan dengan tanah Jepang juga. Janji yang sangat ingin saya tepati. Janji di mana saya dan dia, nantinya bisa ke Jepang bersama. Dan mengabadikan momen itu dalam lanskap sebuah foto, yang latar belakangnya adalah gunung Fuji dan pohon bunga Sakura yang bermekaran. Andaikan saja bisa begitu~

Bicara soal sastra Jepang, literatur saya tentangnya juga sangat minim. Dari sedikit buku yang pernah saya baca, belum pernah ada sastra terjemahan Jepang. Sampai pada suatu waktu, ketika saya berkunjung ke asrama seorang teman, saya menemukan buku kumpualan cerpen Kawabata yang berjudul Daun-daun Bambu, tergeletak di rak buku kamarnya. Saya pun langsung mengambil buku tersebut, dan membolak-balikkan seadanya, sembari menunggu sang tuan kamar yang sedang mandi.

Buku yang diterbitkan EA Books ini langsung mencuri perhatian saya siang itu. Covernya yang bergambar daun bambu dan dibuat agar terlihat mirip seperti yang ada di anime, semakin menggoda saya untuk meminjamnya. Tidak perlu menunggu waktu yang lama, dan tanpa pikir panjang, saya beranikan diri untuk meminjam buku tersebut. Beruntungnya saya, sang pemilik bersedia meminjamkan.

Sebelum akhirnya kami berangkat ngopi, terlebih dulu kami ngalor-ngidul mengobrolkan buku tersebut. Tentang siapa penulisnya, tentang apa yang menjadi tujuan tulisannya, sampai kepada siapa yang paling menggetoli karya-karya Kawabata. Siapa sangka, pengetahuan saya soal sastra Jepang bertambah hari itu. Dan saya patut mengucapkan terima kasih kepada teman saya sekaligus sang pemilik buku.

Yasunari Kawabata, memanglah bukan nama yang asing bagi pembaca sastra di Indonesia. Tapi saya ingin menggaris bawahi pernyataan tersebut. Dengan kata lain, nama Kawabata tidak menjadi asing bagi mereka yang memang menggemari sastra Jepang. Selain memang sudah banyak diulas oleh sastrawan angkatan tua, tapi nyatanya nama Kawabata hari ini tidak sebersinar dulu, khususnya di Indonesia. Entahlah. Bisa jadi karena selera pembaca sastra di Indonesia yang sudah bergeser, atau memang karena ada faktor lain yang memengaruhi.

Dari sembilan judul karya Kawabata yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, dengan beragam pilihan dan tawaran yang disuguhkan, membuat Kawabata selalu mengalami perubahan ketika ditafsirkan. Tidak hanya berhenti sampai di situ, Kawabata menurut saya pribadi punya keunikan tersendiri. Keunikannya ini, saya rasa tidak akan diketahui ketika kita cuma selesai membaca satu judul karyanya.

Ditambah lagi, bahkan dalam buku ini saja, Kawabata mampu mengalami perubahan yang kadang sulit jika diukur memakai cara pandang aliran sastra pada umumnya. Ia bergerak ke arah yang tidak tertebak. Saking dinamisnya, ia bagaikan berubah menjadi air yang cair, dan mengisi ruang-ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh benda padat. Dengan kata lain, ia menjadi daun bambu itu sendiri. Yang susah ditangkap ketika ia gugur dengan sendirinya.

Dengan analogi-analogi serta simbol yang ia sisipkan pada cerpen-cerpennya, para pembaca diminta agar bekerja keras membaca, memahami, dan menafsirkan jalan pikiran serta imajinasi si Kawabata. Ibarat sebuah pom bensin, Kawabata adalah pemilik pom bensin tersebut, dan para pembaca adalah para pembeli yang datang kepadanya. Jika ingin mengisi bahan bakar (baca: pengetahuan) lewat karya-karya Kawabata (baca:bensin), para pembeli dan pelanggan harus rela mengisi sendiri bensin itu ke kendaraannya (baca:otak).

Jika tidak begitu, bukan Kawabata namanya. Selain itu, Kawabata adalah pencerita yang handal. Lewat unsur binatang dan terkhususnya burung-burung, Kawabata mengajak kita berjalan-jalan lewat bukunya ini. Kita diajak untuk lebih mengenal lagi berbagai macam jenis burung secara khusus, dan kumpulan satwa pada umumnya.

Kawabata, adalah orang yang juga menolak tunduk pada suatu pakem tertentu dalam sastra dan dalam pemikiran. Baginya, tidak penting keberpihakan kepada siapa, jikalau pribadi seseorang harus menjadi budak dari keberpihakannya. Sebagiamana yang ia sepakati, seseorang haruslah menjadi tuan bagi pemikiran dan dirinya sendiri. Bukan malah menjadi hamba mengikuti alur mainstream yang ada. Oleh karena itu, ia lebih menekankan intuisi, dan menolak segala intervensi yang datang dari luar diri.

Hal ini yang selanjutnya, ketika membaca cerpen-cerpen Kawabata, kita akan menemukan sebuah ketajaman deskriptif tentang alam dan sekumpulan makhluk hidup di dalamnya. Yang secara tidak langsung, merupakan ekspresi emosional yang ada di dalam diri Kawabata. Dengan kata lain, Kawabata juga tidak menghilangkan identitasnya sebagai orang Jepang. Bahkan sudah masuk ke fanatik bagi saya.

Namun hal itu tidak menjadi soal. Karena kalau kita cerdik, kita akan lebih memilih meneruskan imajinasi, ketimbang menunda menyelesaikan membaca karya Kawabata ini. Keberanian Kawabata lainnya ialah, ketika ia seakan berdiri di atas dua sisi dalam buku ini. Sisi pertama, ia akan begitu detail mengisahkan imajinasi yang ada di kepalanya. Tapi di sisi lain, ia seakan bermain teka-teki, yang akhirnya membuat para pembaca akan sibuk menakar maksud si Kawabata.

Membaca kumcer ini, saya kira tidak cukup berhenti pada sebuah rasa takjub. Keganjilan, keheranan, dan kepelikan yang ditimbulkan ketika kita membaca kumcer ini, sangat baik jika kita selesaikan. Kawabata, pada akhirnya juga bisa kita ibaratkan sebagai orang yang menujukkan jalan. Yang tidak ingin repot menjelaskan arah lengkapnya tentang sebuah tujuan yang hendak kita datangi. Karena baginya, kesesatan itu sekaan hal yang tidak perlu ditakuti~

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel