Kartini di Tanah Sriwijaya


Kartini di Tanah Sriwijaya
Sumber Foto: iluszi.blogspot.com

Oke, pemberitahuan sebelumnya, judul tulisan ini mengadopsi judul cikal-bakal novel saya yang sampai hari ini saya anggurin. Tulisan ini adalah cara saya menyambut dan mengucapkan hari Kartini, untuk perempuan-perempuan yang saya anggap sebagai seorang Kartini. Jadi, tulisan ini tidak akan banyak membahas dan fokus pada Ibu Kartini saja ya. Yup, tidak perlu berlama-lama, mari kita menyimak siulan saya yang satu ini.

Kartini, adalah salah satu nama dari sekian banyak orang yang dianggap sebagai pahlawan. Tidak hanya itu, namanya adalah nama yang paling mendominasi hingga hari ini, sekaligus dianggap perempuan pertama dan satu-satunya pada waktu itu yang berhasil mengangkat harkat-martabat perempuan. Dari yang awalnya belum bisa menikmati pendidikan, akhirnya bisa memperoleh pendidikan. Dari yang awalnya belum boleh menentukan pilihan, pada akhirnya boleh menentukan pilihan.

Nama Kartini, tentu saja tidak hanya masyhur di Indonesia. Namanya pun dikenal sampai ke luar negeri. Atas perjuangan dan pengorbanannya yang dianggap mewakili suara perempuan, jasanya akan terus kita kenang hingga hari ini, dan mungkin masih akn terus dikenang sampai ke depannya. Saya jadi teringat pas masih sekolah dasar dulu, bagaimana ribetnya ibu saya menyiapkan perlengkapan untuk memperingati hari Kartini di sekolah. Dan kalau tidak salah ingat, waktu itu saya diminta untuk memakai pakaian khas Jawa dan belangkon tentunya.

Padahal, mencari belangkon di tempat saya waktu itu bukanlah hal yang mudah. Terlebih, keluarga saya bukanlah keturunan keluarga Jawa, dan hanya punya hubungan kekerabatan dengan adiknya nenek yang sekarang tinggal di Jawa. Selebihnya, hal yang bersifat dan khas Jawa adalah hal yang asing di keluarga saya. Walaupun sebenarnya, ayah dan ibu saya sama-sama bisa berbahasa Jawa dan sedikit-banyak paham soal Jawa, hal tersebut tidak turun ke saya dan adik-adik saya.

Bagi saya waktu itu, Jawa adalah sebentuk imajinasi yang saya tidak pahami sama sekali. Jangankan tahu dan paham soal Jawa, mendengar teman saya yang orang Jawa ngomong dengan bahasa Jawa, saya langsung merasa asing. Saya pun terbilang tidak banyak ingin tahu waktu itu. Hal tersebut bisa jadi lantaran saya tipikal anak yang kurang antusias dengan hal baru, semacam bahasa, laku, kebiasaan, sifat dan etika Jawa. Saya tahunya saya bisa berteman dengan siapa saja, dan tidak perlu mempermasalahkan latar belakangnya.

Alhasil, saya hanya memakai perlengkapan seadanya waktu itu. Kain batik yang hanya batik-batikan, dan tanpa belangkon sebagai penutup kepala. Ya, bisa dibilang ibu saya tidak seantusias dengan para ibu lain, yang mendandani anaknya agar telihat sebagai seorang Jawa ketika memperingati hari Kartini. Saya memang merasa agak berbeda waktu itu, karena tidak terlihat sebagai seorang Jawa. Tetapi untungnya, ibu saya langsung mengatakan setidaknya kita sudah berniat dulu. Karena baju juga tidak bisa jadi ukuran.

Mulai dari situ, saya langsung paham tipikal ibu saya. Dan dari sana pulalah, saya merasa bahwa ibu saya adalah seorang Kartini. Kartini di tanah Sriwijaya. Tanah yang lumayan jauh dari pusat peradaban yaitu Jawa. Pun juga tanah yang masih kalah jauh kemajuan peradabannya. Tapi tidak jadi soal, bukan? Seperti yang ibu saya bilang tadi, bukankah yang terpenting adalah niat baik kita?

Sama halnya dengan Jawa pada waktu itu, sosok ibu Kartini bagi saya sekarang adalah sosok yang masih imajinatif. Selain karena tidak tahu wajahnya, saya hidup jauh setelah beliau meninggal. Oleh karena itu, Kartini bagi saya tidak lagi terkhusus kepada sosok ibu Kartini saja. Akan tetapi pada semua perempuan yang paling berjasa kepada saya. Salah satunya tentu yaitu ibu saya sendiri. Persis seperti ibu Kartini, ibu saya adalah orang yang banyak mengajarkan hal penting kepada saya. Mulai dari cara memperlakukan perempuan, sampai cara menekuni hidup.

Sedikit cerita, sebelum saya tamat dari SMA, saya sempat diragukan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Hal tersebut menjadi wajar-wajar saja karena kondisi ekonomi keluarga saya yas pas-pasan waktu itu. Tapi yang membuat saya tidak enakan, adalah soal omongan yang meragukan kemampuan pribadi saya. Yang jika diukur, secara kapasitas waktu itu saya lebih baik dari orang-orang yang meragukan tersebut.

Oleh siapa kira-kira hal tersebut dilakukan? Tidak lain tidak bukan, saya diragukan oleh teman perempuan satu sekolah pada waktu itu. Ketika hal ini saya ceritakan pada ibu, ibu hanya bilang untuk tidak menggubris omongan itu. Terus apa kaitannya dengan hari Kartini. Solanya, kejadian tersebut berlangsung tepat pada tanggal 21 April lima tahun yang lalu. Yang membuat saya tidak habis pikir, ternyata omongan tersebut adalah bukti kalau saya lebih baik ketimbang mereka. Dengan kata lain, omongan tersebut karena mereka sebenarnya merasa iri kepada saya.

Kenapa lantas merasa iri? Pasalnya, saya sudah jauh-jauh hari mengatakan ingin melanjutkan kuliah. Sedangkan, beberapa teman perempuan yang meragukan saya tadi, belum tahu kejelasannya. Apakah akan kuliah, atau malah langsung bekerja. Dengan kata lain, mereka merasa iri kepada saya yang punya kemungkinan melanjutkan kuliah. Tapi sebenarnya di tulisan ini saya tidak berniat sombong, apalagi menyalahkan teman-teman saya tadi. Toh saya juga sudah memaafkan mereka, walaupun saya masih mengingat apa yang dilakukannya.

Kembali kepada pokok pembahasan, Kartini yang saya maksud di sini bisa menjadi siapa saja. Tentunya yang para pembaca sendiri anggap layak disebut sebagai Kartini. Karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, dari ibu Kartini saya hanya mengambil pelajaran soal jasa dan pengorbanannya. Bukan soal siapa dia, latar belakanganya dan nasibnya, itu cukup dan bisa pembaca temui di banyak buku yang sudah membahas soal itu. Di tulisan ini, saya akan mengajak untuk lebih meluaskan makna dari Kartini itu sendiri.

Berangkat dari soal kesetaraan, bagi saya Kartini tidak melulu soal memperjuangkan yang namanya kesetaraan laki-laki dan perempuan. Lebih jauh dari itu, Kartini adalah soal kemanusian. Yang tidak bisa berangkat hanya dari satu cara pandang. Terlebih jika menitiktekankan pada Jawa, atau Jawanisasi tentunya. Tulisan ini bukan ingin mengkritik Jawa serta Jawanisasi, namun berupaya untuk melebih-luaskan makna perjuangan yang pernah digagas oleh ibu Kartini.

Bagi saya, perempuan mana saja, bisa menjadi seorang Kartini. Tidak peduli apa latar-belakanganya, agamanya, serta keturunan siapa. Yang paling penting ialah ia bicara soal apa, dan apa yang diperjuangkannya. Jika hanya soal identitas, saya rasa kita tidak perlu melanjutkan obrolan soal Kartini, bukan? Dengan kata lain, Kartini seharusnya hari ini sudah bisa dipahami dalam skala dan lingkup yang tidak terbatas oleh sekat apapun. Baik suku, kedudukan sosialnya sampai kepada pekerjaannya.

Maka dari itu, saya menganggap Kartini ibarat air yang berusaha mengisi ruang yang masih kosong. Ia selalu bisa menyesuaikan dengan keadaan zaman dan kondisi di sekitarnya. Dan bukanlah ia yang selalu berbicara hak tanpa pernah menjalankan kewajibannya. Hak yang katanya harus dihormati, tapi apakah sebelumnya ia sudah melakukan dan mendahulukan menghormati orang lain? Hak yang harusnya dijaga, tapi apakah sebelumnya ia sudah melakukan dan mendahulukan menjaga orang lain?

Kalau ingin disebut sebagai Kartini, harusnya juga berani meneladani pengorbanannya. Tanpa pernah berkorban, kita tidak akan pernah tahu artinya perjuangan. Pun sama juga halnya dengan harapan. Tanpa pernah menciptakan harapan, kita hanyalah pepesan kosong yang berkoar-koar tanpa artian. Yang hanya akan didengar namun cepat dilupakan. Yang hanya diingat jika kita beruntung. Dan hanya akan dikenang jika kita layak dikenang. Walaupun hanya dengan sebutir biji sawi kebaikan dan kebajikan.

Salam dari saya yang merindukan Kartini di Tanah Sriwijaya~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel