Hari Bumi dan Puisi Lainnya


Hari Bumi dan Puisi Lainnya

Penulis: Siti Nurbaila*
Hari Bumi

Tanah di tempat aku tinggal dan terbaring,
Menumbuhkan biji kopi juga tembakau.
Menimbun para mayat.
Menampung air hujan.

Tanah di tempat aku muncul,
Merawat Kijang dan Serigala.
Mencuat rumah tempat Babi berkubang.
Bersalin bentuk menjadi penjara.

Di sungai tempat Ikan mandi.
Menjadi arena tempat memeras keringat.
Dari memasang sebuah muslihat,
Menjabat penampung sebuah santau.
Yang hijau dan hitam.
Dan memuncak menjadi sejawat,
Ikan-ikan dan para Keong

Di laut tempatku berkemah,
Membuntang Paus tanpa mata.
Menjelma terumbu karang tanpa jiwa.
Bertunas mutiara tanpa keindahan.

Di udara tempat Burung belajar,
Banyak kabut dari jantung hutan.
Banyak suara yang meronta.
Meminta tolong,
Melolong minta ditangisi.

Udara yang minta kuhirup,
Tumbuh unsur penodaan agama.
Menjelma molekul kebencian.
Tercantum partikel kesengsaraan.

Yogyakarta 22 April 2020


Bumi Ibu

Ibu.
Susumu tak seputih senyuman.
Bibirmu tak semerah makan bawang.
Rambutmu tak sehitam dengkul.
Gigimu tak sekokoh tulang punggung.
Matamu tak seindah ketentuan.

Bumi Ibu.
Telingamu tak selancip pisau karat.
Dagumu setumpul kawakan golongan ningrat.
Lehermu tak sejenjang tangga istana.
Dadamu selebar gurauan gadis bersanggul.

Ibu Bumi.
Payudaramu tak semanis lollipop.
Perutmu sebuncit Gajah lahap.
Kelaminmu sebimbang tangkai Edelwis.
Pahamu serenyah kerupuk dingin.
Kakimu setimpang jalan lurus.

Yogyakarta 22 April 2020


Taman Firdaus

Sekawan Lebah terbang ke sarang.
Sarang hancur disiram hujan.
Lebah terbang ke kelopak bunga.
Bunga gugur dipetik wanita.

Diadakan jamuan makan.
Para tamu tak jadi dating.
Lantaran mampir di tempat hiburan.

Mendirikan gedung pesta.
Tamu mulanya datang,
Lalu segera pulang.
Tanpa menyiapkan salam perpisahan.

Yogyakarta 22 April 2020


Padang Mahsyar

Ruang pengadilan berupa warna.
Tak ada kursi yang disusun rapi.
Pun tak ada podium bagi sang hakim.
Apalagi kamera dari para wartawan.

Di ruang berupa bentuk.
Hingar bingar suara hewan.
Yang menuntut agar dirubah menjadi manusia.
Para tanaman hanya diam menyaksikan.
Gelagat hewan yang menolak takdir.
Serta gelagat malaikat yang menunggu untuk mendamprat.

Pada hari kecemasan.
Hanya tawa yang meninggalkan luka.
Hanya suka yang meninggalkan duka.
Hanya cinta yang meninggalkan kisah.
Dan hanya ada nyanyian menunggu kekasih.

Yogyakarta 22 April 2020


*Menggemari hal-hal sarat makna~

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel