DURASI

DURASI   Penulis: Ameera Matahari*
Aku telah mendengarnya berbicara selama kurang lebih sepuluh menit, tanpa jeda. Topik yang sedang kami—aku dan dia—bahas adalah perempuan, sama sekali tidak penting. Tapi toh aku tetap mendengarkan, dan terlebih, aku tidak bosan. Lawan bicaraku adalah teman satu jurusan, kami baru beberapa kali terlibat suatu pembicaraan, sering berpapasan dan saling menyapa, dan entah mengapa hari ini dia duduk tepat di sampingku saat kelas pagi dimulai. Lalu di sinilah kami, sedang berada di kantin kampus demi menghabiskan waktu jeda kuliah. Aku tidak pernah benar-benar mempunyai teman sejak awal menjadi salah satu mahasiswa di sini, lebih banyak waktu yang kuhabiskan sendiri ketimbang dengan orang lain. Maka, mempunyai satu orang untuk diajak bicara saat menunggu jeda kelas, adalah suatu yang spesial untukku.

Aku juga bukan type orang yang banyak berbicara, aku lebih suka mendengarkan, dan lebih sering berbicara kepada diriku sendiri, seperti aku menghadirkan diriku yang lain hanya untuk berdiskusi perihal apa yang sedang aku pikirkan saat itu. Jadi, saat aku dengannya, Rama, berbincang di kantin kampus, pada dasarnya kami tidak benar-benar berbincang. Rama berbicara, dan aku mendengarkan. Setelah sepuluh menit ia berbicara tanpa henti, Rama terdiam, melihat padaku untuk beberapa saat, seperti penasaran terhadap sesuatu. “Ada apa?” tanyaku sambil nyengir. “Sepertinya hanya aku yang berbicara, kamu tidak mengatakan sedikitpun atau komentar pada topik yang tadi.” jawabnya sambil mengangkat bahu. “Kamu aneh.” tambahnya. Aku hanya tertawa kecil, sambil menyadari bahwa orang seperti Rama sangatlah jarang, ia dapat menyadari bahwa lawan bicaranya bahkan tidak berbicara atau menyela sedikitpun dalam sepuluh menit. Aku akhirnya menemukan Rama.

Semenjak kejadian di kantin itu, aku dan Rama sering menghabiskan waktu bersama. Rama tidak akan terus berbicara lebih dari sepuluh menit tanpa ada tanggapan dariku, maka pada suatu sore aku mengatakan “tidak apa-apa, teruskan saja, aku akan menanggapi jika di sekeliling kita tidak terlalu banyak orang”. Rama hanya menggerutu, tapi toh dia tetap banyak berbicara—tentang apa saja. Kami dengan cepat merasa akrab dan nyaman satu sama lain, dan karena suatu alasan juga Rama tidak suka berbaur dengan orang lain kecuali denganku di lingkungan kampus.

Terkadang jika tidak sedang dengan Rama, aku merasa sangat sesak, baik di kamar kos ku maupun di lingkungan kampus. Untungnya, kos yang aku huni mempunyai rooftop berfungsi sebagai tempat jemuran, tapi seringkali aku naik ke atas hanya untuk melihat pemandangan yang tidak begitu indah. Rooftop jemuran—begitulah aku menyebutnya— tidak terlalu tinggi, bertempat di atas lantai kedua. Jika menengok ke bawah, aku masih bisa mengenali wajah seseorang. Kebetulan, di malam itu, saat aku sedang asik dengan gitarku, ada seorang gadis yang melintas di gang kos ku. Secara tidak sengaja pula, aku melongo ke bawah dan ia menengadah ke atas, pandangan kami pun bertemu. Sambil tersenyum lebar ia bertanya “bagaiman pemandangan dari atas situ?”, aku reflek menjawab “not too bad, wanna come?”. Gadis itu tertawa “sure, maybe. Tapi tidak sekarang. Aku Freya.” “baiklah Freya, cari saja kamar no 013 jika ingin berkunjung, ladies are welcome in this house. Asal jangan jam ngampus ya.” Jawabku asal. Freya tertawa lagi, “okay then, bye.” Lalu dia pun berlalu, aku mengikuti langkahnya dengan pandangan dan senyumku yang tidak luput sedikitpun.

Besoknya, aku menceritakan semuanya ke Rama, tentang malam itu, tentang Freya. Rama tertawa dan mengatakan bahwa ini adalah perubahan drastis, katanya aku mulai cerewet. Kesimpulan dari pembicaraan kami adalah, Rama ingin melihat dan mengunjungi rooftop jemuran itu. Dan aku pun dengan senang hati mengajaknya menginap. Sore itu, sesaat setelah sampai kamar kos, Rama dan aku langsung naik ke lantai tiga, ke rooftop jemuran. Kami banyak berbincang, terkadang diselingi oleh lagu-lagu yang kami nyanyikan dengan petikan gitar. 

Sampai malam menyambut, kami sama-sama menunggu kehadiran Freya, aku yang sangat ingin bertemu lagi, dan Rama yang penasaran. Setiap beberapa menit sekali, aku akan melongok ke bawah, atau ketika terdengar ada langkah kaki yang lewat, kepala kami otomatis akan menengok untuk mengetahui siapa gerangan.

Setelah beberapa jam terlewat, dan kami sama-sama kecewa di hati masing-masing, kami berniat untuk turun dan kembali ke kamar. Saat aku membuka pintu kamar, aku tercengang. Sudah ada seorang gadis berdiri di sudut, salah tingkah. “Hai, remember me? Im Freya.” , dia berkata gugup. “Ya tentu saja, aku Dimas. Dan ini Rama.” Kataku sambil tersenyum ramah, menunjuk ke belakang bahuku, dimana Rama berada. “Rama? Siapa?”, tanya Freya agak bingung. “Rama, temanku, malam ini dia menginap”, aku menjawab sambil menengok ke belakang, dan terkejut karena Rama tidak ada. “Ah kabur kemana dia?!”, aku berkata pada diriku sendiri sambil menggaruk kepala. “Ehm Dimas, Im sorry, sepertinya aku hanya mampir, tadi aku mendapati kamarmu tidak terkunci, jadi aku ingin give you surprise or something. Maaf kalau aku lancang.”, Freya berkata sambil tersenyum minta maaf. “That’s okay. Aku malah senang, datanglah kapanpun kau suka, aku lebih banyak menghabiskan waktu di atas, kau tahu kan? Tempat dimana kau menyapaku kemarin. Sebenarnya, aku sangat ingin mengenalkanmu pada Rama, temanku itu sangat penasaran. Tapi mungkin lain kali saja, you look in hurry.”

Freya akhirnya pamit pergi, dan Rama belum juga kembali. Aku tidak habis pikir, dimana dia ketika momen yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang. Dan ketika jam menunjukkan pukul 9 malam, dimana aku harus tidur karena capek, di antara suara yang kudengar di awal-awal tidurku, aku sadar Rama datang. Sebelum aku bangun, Rama sudah meninggalkan kamarku, anak rajin itu sudah pasti bangun pagi dan sedang persiapan untuk kuliah, pikirku. Jadwalku hari ini hanya kelas sore, berbeda dengan Rama, aku berniat untuk tidur kembali, sebelum ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku. Itu Freya. “Hai Dimas.”, manis ia tersenyum. “Hai, masuk sini. Aku baru bangun, mandi dulu ya.”, aku balas tersenyum, mempersilahkan Freya masuk. “Duduklah sesukamu, ada TV jika bosan, nyalakan AC jika kepanasan.” “Sure” Freya menjawab santai. Lalu akupun mandi, meninggalkan Freya sendiri.

Setelah mandiku yang lama—harus lama, supaya wangi— aku kembali ke kamar menemui Freya. Tak kusangka wajahnya tegang, entah apa yang ia tonton di TV. “Dimas, aku sudah bertemu Rama. Tadi dia datang kesini saat kamu mandi, hanya mampir sebentar katanya.”, kulihat senyumnya terpaksa. “Oh ya? Baguslah kalau sudah bertemu, dia penasaran sekali sama kamu.”, jawabku santai. “Ah, kamu berkunjung dua kali, memang ada yang ingin kamu bicarakan?”, tanyaku. Terlihat di wajah Freya ia semakin gelisah. “Ya, ya. Aku adalah mahasiswa psikologi di univ.....”, “Universitas X, aku tau, kamu juga sedang mengejar gelar doktor, aku juga tahu.”, entah kenapa aku memotong. “Aku tahu Freya, Rama yang memberi tahuku. Sebenarnya, aku juga tahu kamar kos yang kamu sewa dimana, jadi tolong beritahu, ada gerangan apa kamu kemari? Ini yang kedua kalinya.”, aku tersenyum, raut wajah Freya menunjukkan rasa takut. “Baiklah. Dimas, aku butuh seorang pasien yang harus aku teliti, dan kupikir kamu adalah orang yang paling cocok. Aku membutuhkanmu, dan kamu membutuhkanku.”, “Dari mana kau tahu bahwa aku akan membutuhkanmu?”, aku menantang Freya. “Well, kalau kamu ikut denganku, aku akan mengungkapkan segalanya, termasuk rahasia Rama, dan mengapa kau harus tidur sebelum jam 9 malam, aku janji.”

Lalu di sinilah aku berada, laboraturium psikologi tempat Freya membawaku—dan juga Rama, meskipun aku tidak bertatap muka sama sekali. Ruangan di mana aku duduk, bernuansa biru langit, dengan sofa lembut dan meja kecil. Ada toilet di ujung dan cermin berukuran besar di samping wastafel. Aku langsung suka dengan ruangan ini, terlebih ada seseorang yang membawakanku teh manis dan biskuit. Freya berkata, dia tidak akan berbincang denganku kali ini, tapi ia berjanji akan bertanggungjawab atas apapun yang terjadi padaku, termasuk memberitahuku mengapa aku yang dipilihnya. Freya juga berkata bahwa ia akan menemui Rama di ruangan yang sama denganku, tanpa perlu mempertemukan kami. Aku tidak tahu pasti apa alasannya, tapi aku mengerti, beberapa kali Rama mengatakan personality disorder. Mungkin itulah yang akan dibahas di ruangan ini, terlebih aku tidak sabar berapa durasi yang akan dihabiskan demi suatu percakapan. 

*Perokok dan peminum alkohol yang melankolis. Cita-citanya hanya menjadi raja Narnia atau mendapatkan duit 13 miliar dengan rebahan

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel