Dunia yang (sedang) Tunggang-langgang


Dunia yang (sedang) Tunggang-langgang
Sumber Foto: eramuslim.com
Dunia ini berubah begitu cepat. Lebih tepatnya lagi: dunia ini (sedang) tunggang-langgang. Lebih jauhnya lagi, dunia ini sedang ngos-ngosan melewati fase perubahan. Artinya, semacam ada ketidaksiapan dengan dunia yang sedang kita tinggali sekarang ini. Itulah kira-kira yang ingin saya katakan, tentang globalisasi yang—sudah dan akan—memakan banyak korban. Yang kecepatan perubahannya, tidak mampu dikontrol oleh sekian miliar nyawa yang hidup di muka bumi.

Contoh mencolok dari dunia yang ngos-ngosan ini, terlihat dari krisis akibat virus Covid-19. Diakui atau tidak, diam-diam semua negara yang terjangkit dan terdampak Covid-19, termasuk Indonesia, telah mempraktikkan upaya yang memperlemah demokrasi. Yang jika kita tinjau lebih dalam, akan menghambat laju perubahan menuju tatanan yang lebih baik, dan menghasilkan chaos di kemudian hari. Tambahannya, setelah badai Covid-19 ini berlalu, apa yang sudah kita persiapkan sebelumnya, masih akan jauh dari kata “mendekati” sempurna.

Dengan mengutip Anthony Giddens, ketika habis-habisan mengkritik konsep neoliberalisme, apa yang sedang kita alami sekarang, adalah konsekuensi yang harus kita tanggung. Pasalnya, disadari atau tidak, risiko yang dihasilkan oleh neoliberalisme—yang dalam hal ini dianut oleh Indonesia—juga merupakan konsekuensi niscaya. Dengan kata lain, neoliberalisme memang akan menghasilkan kubangan krisis yang berkepanjangan. Sampai ketika, kita menemukan alternatif yang sama sekali belum pernah ada.

Giddens terkenal dengan konsep “jalan ketiga”-nya. Walaupun menuai banyak kritik sana-sini, dan tetap ada yang mengamini, nyatanya bagi saya, ada yang dapat kita ambil sebagai sebuah pelajaran dari konsep penyelesaian Giddens tersebut. Memang, kita tentu akan tergoda untuk mencemooh gagasannya Giddens ini. Terlebih jika hal ini dikaitkan dengan konteks Covid-19, dan mengingat rentang waktu yang lumayan lama sejak gagasan Giddens tersebut muncul.

Tetapi sesungguhnya kita tak pernah benar-benar tahu, apakah konsep Giddens tersebut memang telah usang di waktu-waktu sekarang ini. Mengingat, konsep “jalan ketiga” Giddens sering disempitkan maknanya. Penggampangan ini terlihat dari penyederhanan “jalan ketiga” sebagai alternatif di antara kapitalisme dan sosialisme. Padahal, apa yang dimaksud Giddens dengan “jalan ketiga”-nya jauh lebih padat, mendalam serta kompleks.

Giddens, secara tidak langsung adalah orang yang mengakhiri perdebatan dualisme dalam ilmu sosial. Menurutnya, nilai hakiki demokrasi sosial terletak pada solidaritas, kesamaan, keamanan, dan peran aktif dari negara. Yang kalau kita rujuk kepada konteks Covid-19, bisa diartikan demokrasi sosial tidak terjadi di Indonesia sekarang ini. Terbukti, kita belum mampu mengukur sejauh mana solidaritas yang sudah terbangun dan terjalin dalam menghadapi wabah ini. Hal ini juga ditandai oleh keterbelahan kita yang masih meng-vis a viskan antara masyarakat dan pemerintah.

Selanjutnya, kita juga belum mempunyai kesamaan dalam menghadapi Covid-19 ini. Jelas, ini bisa dibuktikan dari cemooh yang masih berseliweran di platform media sosial. Terakhir, kita memang harus mengkritik negara yang masih belum mampu menyediakan rasa aman bagi warganya. Hal ini menandakan bahwa negara belum berperan secara aktif untuk mengatasi wabah ini. Karena yang kita butuhkan bukan hanya berdiam diri selama kurang-lebih 14 hari, tapi sebuah janji pasti yang bisa terealisasi.

Jelas dalam konteks wabah Covid-19 ini, kritik Giddens tersebut masih relevan. Dan yang menjadi ramalan Giddens soal neoliberalisme, nyatanya juga berlaku bagi Indonesia. Giddens juga berpendapat, bahwa di abad global ini, yang namanya politik bisnis tak boleh dilepaskan dari sosial-politik. Begitupun sebaliknya. Ketika kondisi pasar sudah sangat dinamis dan berubah secara revolusioner, pemerintah memang perlu menginvestasikan kemampuan manusia yang ada.

Maksudnya, dalam hal fenomena Covid-19, pemerintah harus terus memberikan kesempatan kepada warga negara untuk terus mendidik diri agar mampu menanggapi wabah ini. Karena secara tidak langsung, hanya dengan investasi dan pendidikan sumber daya manusia yang ada, mental kolektif untuk survive akan terbangun dengan sendirinya. Tanpa perlu ada paksaan dari negara yang tidak berarti dan lebih cenderung mengecewakan warga negaranya.

Ketika masih terbangun sebuah ketidaksamaan, baik dalam hal skala prioritas dan cara memandang wabah Covid-19 ini, perlu kiranya kita membangun sebuah jaringan relasional dan finansial untuk mengatasi ketidaksamaan tersebut. Masih mengambil pendapat Giddens, menurutnya lewat konsep “jalan ketiga”, yang perlu ditekankan adalah human capital ketimbang pembagian kekayaan dari yang kaya terhadap yang miskin.

Pendapat tersebut, menemukan momentumnya jika kita pakai menganalisis wabah Covid-19 ini. Di mana, himbauan serta anjuran yang berasal dari pemerintah, terkesan terlalu memakai cara pandang “bagi-bagi”, dan tidak menyentuh sama sekali pada aspek human capital. Baik itu yang berbentuk bagi-bagi uang, sembako dan keperluan lain dalam persiapan menghadapi Covid-19. Hal ini membuktikan, kalau kita belum beranjak dan bergeser dari kubangan dan krisis neoliberalisme tadi.

Selain apa yang sudah tersampaikan di atas, masih terdapat efek yang dihasilkan dari Covid-19 ini kepada kita. Yaitu soal pergeseran kebiasaan kita yang mau tidak mau juga ikut berubah dengan adanya wabah ini. Ketika awalnya kita masih harus melakukan aktivitas dengan langsung tatap muka, dalam waktu yang belum ditentukan, kita hanya bisa menjalin interaksi lewat dunia maya. Ini menjadi penanda, kalau di kemudian hari beginilah aktivtias yang akan kita jalani. Kita akan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya ketimbang di dunia nyata.

Bisa disimpulkan, kalau Covid-19 mengubah kebiasaan kita secara radikal. Dan memang begitulah yang dikehendaki olehnya. Pertanyaanya, sudah siapkah kita menghadapi hal tersebut? Secara tersirat, tentu kita perlu mengupayakan optimalisasi di banyak sektor, yang mengharuskan kita mengubah kebiasaan lama secara revolusioner. Karena dunia yang kita tinggali ini, tidak lagi bergerak secara evoluisner, tetapi sudah dengan kecepatan yang tidak bisa dikendalikan (revolusioner).

Dengan demikian, kita masih membutuhkan peran negara. Hanya saja, di abad globalisasi seperti sekarang, negara tidak akan mampu menyelesaikan semua persoalan. Oleh karena itu, negara sudah diharuskan untuk bisa lebih fleksibel dan responsif ketika ada fenomena perubahan semacam Covid-19. Ini artinya, negara tidak akan bisa lagi mengandalkan birokrasinya. Yang bisa diandalkan adalah peran dari warga yang ada. Agar nanti, warganya bisa mengejar ketertinggalan dari dunia yang memang (sedang) tunggang-langgang ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel