Demokrasi dan Kedaruratan yang Sengaja Dibuat


Demokrasi dan Kedaruratan yang Sengaja Dibuat
Sumber Foto: marjinkiri.com

Identitas buku

Judul: Demokrasi dan Kedaruratan: Memahami Filsafat Politik Giorgio Agamben

Penulis: Agus Sudibyo

Penerbit: MarjinKiri

Tahun: April, 2019

Halaman: xxx+326

Membincang soal ‘Demokrasi’ seakan tidak ada habisnya. Ia selalu mengalami yang namanya pembaruan, serta dianggap selalu relevan kapan saja dan di mana saja. Pada nyatanya, demokrasi memang tak melulu dan sebatas tentang suara mayoritas yang dominan, atau suara minoritas yang dikerdilkan. Lebih jauhnya lagi, demokrasi selalu menuntut kita untuk selalu merenungi esensi dari demokrasi itu sendiri. Sehingga, bermacam tafsir dan beragam pemaknaan, akan selalu lekat dan muncul dari tubuh demokrasi.

Pun juga sama halnya ketika demokrasi selalu menutut pemugaran, agar selalu bertahan di dalam sebuah krisis yang ada. Akan tetapi lucunya, demokrasi belakangan ini seakan menjadi hal yang paradoks dan ambigu. Lantaran fungsi, posisi dan tugasnya yang sudah tidak sama dengan ketika pertama kali digaungkan. Oleh karena itu, muncul banyak upaya untuk ‘memodernkan’ atau bahasa lebih halusnya ‘memulihkan’ demokrasi.

Upaya-upaya ini, sayangnya bukan merenovasi demokrasi secara radikal, tetapi malah melembekkan demokrasi hingga sedemikian rupa. Lebih parahnya lagi, demokrasi dibuat keok sampai menjadi sebuah alat yang bisa dimanfaatkan dan dimainkan oleh para elit yang berkepentingan. Tidak berhenti sampai di situ, demokrasi ibarat sudah menjadi mainan yang bisa dipertukarkan dan diperjualbelikan atas nama kepentingan pribadi dan sebagian kecil orang.

Menilik hal itu, saya kira tepat jika kita membahas buku Demokrasi dan Kedaruratan: Memahami Filsafat Politik Giorgio Agamben, karya Agus Sudibyo. Dalam bukunya ini, Agus meminjam pemahaman dari filsuf Italia kenamaan yaitu Giorgio Agamben, untuk memahami kondisi demokrasi kontemporer. Agamben, adalah filosof besar Italia yang saya rasa, namanya kurang akrab bagi pejuang demokrasi di Indonesia. Dengan kata lain, Agamben adalah tokoh yang relatif baru di Indonesia sendiri.

Pemikiran Agamben, menemukan momentum yang tepat lantaran ia menggariskan secara tegas dasar-dasar antropologis kehidupan politik yang ada. Selain itu, karena Agamben juga dianggap tokoh representatif termutakhir atas teori politik dewasa ini. Yang menarik dalam pemikiran Agamben, ia mengingatkan bahwa dalam politik, selalu ada kelompok yang menjadi korban dan yang disisihkan. Dalam teks Agamben, sekelompok orang ini disebut sebagai “homo sacer” (hlm vi) .

Sebagaimana yang disebutkan Agus dalam pengantar buku ini, sulit menolak dan membantah bahwa demokrasi lahir dari keadaan darurat. Oleh sebab itu, pantas jika kita menyebut demokrasi sebagai anak kandung dari revolusi, reformasi, dan people power (hlm vii). Menilik dari hal tersebut, maka bisa diartikan kalau kedaruratan adalah inisiator dan pemrakarsa demokrasi itu sendiri. Pertanyaannya, setelah demokrasi terbentuk dan dianggap tersusun rapi, bagaimana sebuah rezim yang ada memperlakukan dan memberlakukan keadaan darurat ini?

Berangkat dari hal tersebut, Agamben mengajak kita untuk selalu kritis dalam melihat keadaan darurat dalam sebuah rezim yang memakai demokrasi sebagai alatnya. Seperti yang kita ketahui bersama, atas nama demokrasi, terkadang muncul tindakan yang mengesampingkan kemanusiaan. Misalnya saja di Indonesia sendiri, kita mengenal tragedi peristiwa 1965. Atau dalam lingkup internsional, kita tentu akrab dengan diskriminasi yang dialami oleh pengungsi global, diskriminasi terhadapa imigran, dan pernyataan sepihak tentang perang melawan terorisme.

Sebelumya, tesis Agamben mengenai normalisasi keadaan darurat, homo sacer, dan kekuasaan berdaulat, dianggap sebagai gagasan yang berlebihan dan absurd. Namun, seperti yang sudah saya sampaikan di atas, kondisi geopolitik global yang menunjukkan ambiguitas Eropa dalam menangani krisis, tak urung menghantarkan dan membuat gagasan Agamben ini mendapat panggung besar. Yang secara tidak langsung, memicu perdebatan lintas disiplin dari sekian banyak cabang keilmuan.

Buku ini, tidak hanya membedah fondasi dan kerangka pemikiran Agamben semata. Akan tetapi, buku ini turut menyinggung latar belakang, guru Agamben, dan kaitan pemkirannya dengan kondisi di Indonesia sendiri. Apa yang dilakukan Agamben, layak disebut sebagai upaya membaca realitas politik secara radikal. Bahkan tidak tanggung-tanggung, ia secara berani mendekonstruksi pemikiran politik arus utama yang ada di Barat. Secara tidak langsung, gagasan Agamben bisa digolongkan sebagai sebuah perspektif pinggiran yang mampu keluar dari pakem mainstream.

Apa yang menjadi sebuah ketidakwajaran dalam perspektif politik arus utama, ditabrak oleh Agamben dan dijungkirbalikkan dengan kacamata yang amat rasional. Contohnya, ia mempertanyakan dengan kritis tentang dualitas kekuasaan yang membentuk penyelenggaran sistem demokrasi. Dengan kata lain, dalam sebuah rezim demokrasi, kongkalikong antara pihak petahana dan oposisi, akan selalu terjadi. Entah itu secara tersembunyi dan terang-terangan sekalipun. Yang jelas, kolaborasi dan kompromi, menjadi hal niscaya dalam tubuh demokrasi.

Tentu saja, hal tersebut jika ditinjau langsung dengan perspektif demokrasi konvensional, adalah sebuah ketidakmungkinan. Karena, secara normatifnya, demokrasi tidak menghendaki adanya kompromi dan kolaborasi semacam itu. Namun siapa yang bisa menolak, fakta yang terjadi dewasa ini begitulah adanya. Sulit untuk dipungkiri pula, bahwa demokrasi dengan bentuknya seperti sekarang, yang kebanyakan tunduk pada logika pasar, akan selalu melahirkan sebuah ambivalensi yang sering kali tidak disdari.

Maka, bukanlah menjadi sebuah keanehan jika demokrasi berpotensi mempermainkan realitas politik yang terjadi. Hubungan dialektis yang terjadi dalam tubuh demokrasi, pada akhrinya tak urung membentuk kegagalan-kegagalan baru. Kegagalan yang bisa jadi disengaja agar bisa diberlakukan yang namanya normalisasi kekuasaan. Normalisasi kekuasaan, adalah upaya yang di satu sisi mengebiri demokrasi, tapi di sisi lain tetap meminjam demokrasi sebagai alat untuk melegitimasi tindakan tersebut.

Tatanan demokrasi hari ini menurut Agamben, memang tidak akan selalu berhasil mengatasi masalah kekerasan. Namun di sisi lain, demokrasi juga turut menyumbang pendistribusian kekuasaan kepada agen-agen politik yang ada. Sehingga, demokrasi akhirnya bisa menutupi kekuasaan tunggal yang menjadi penentu suatu kebijakan, dan faktor-faktor lain yang berpengaruh di sekelilingnya. Dengan cara, menciptakan sebuah gambaran keseimbangan kekuatan antara negara dan masyarakat.

Dengan melihat tesis Agamben di atas, maka buku ini selanjutnya diarahkan oleh Agus melihat normalisasi keadaan darurat yang ada di Indonesia. Misalnya peristiwa 1965 dan 1998, yang di mana sebuah kekerasan dianggap bentuk melindungi kedaulatan negara serta atas nama negara. Selanjutnya, buku ini juga bertujuan membedah ambiguitas demokrasi dalam memandang minoritas yang ada di Indonesia. Pada akhirnya, lewat buku ini kita bisa menyimpulkan bahwa, sebuah kondisi kedaruratan dalam iklim demokrasi, tidak menuup kemungkinan memang sengaja dibuat oleh yang berkepentingan.

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel