Buku, Kamu, dan Kenangan


Buku, Kamu, dan Kenangan
Sumber Foto: pixabay.com

“Kamu boleh punya banyak buku, dan patut berbangga olehnya. Terlebih kalau buku-buku itu kamu beli dengan uangmu pribadi. Namun yang perlu diantisipasi, jangan sampai kamu jatuh pada “kesombongan” nantinya. Sebab, tidak ada yang pelu disombongkan dari banyaknya buku tadi. Dan percayalah, kesombongan itu sering kali hanya melahirkan kesia-siaan.”

Di Hari Buku sedunia ini, saya akan mencoba kembali mengingat perjalanan panjang saya bersama buku. Benda yang kurang-lebih lima tahun belakangan menemani saya. Benda yang saya anggap sebagai sebuah harta sekarang. Yang saya rasa ia adalah sahabat terbaik di kala apapun. Pun sama halnya ia adalah penasihat yang tak pernah menyalahkan. Dan buku, adalah benda yang selalu memberitahu saya soal sesuatu lewat diamnya.

Entah mengapa, dari penilaian saya pribadi, saya menganggap buku seakan mampu mengubah seseorang. Mulai dari hal-hal yang paling kecil dalam diri seseorang, sampai kepada hal yang besar sekalipun. Contohnya akivitas keseharian, cara berpikir, serta laku dan sifat. Tentu saja penilaian saya ini sangat subjektif, dan banyak celah untuk diperdebatkan. Namun, saya tidak ingin mengarah ke hal itu. Karena lebih baik saya rasa, hari ini kita hilangkan dulu perdebatan itu. Dan mari kita merayakan kegembiraan Hari Buku sedunia.

Sesuai dengan judul tulisan ini, “kamu” yang saya maksud di sini, ialah orang-orang yang pernah saya ajak dan mengajak membincang soal buku. Mulai dari anjuran agar tidak berhenti membaca, berbagi hasil bacaan, sampai rekomendasi buku apa yang seharusnya dibaca. Tulisan ini juga merupakan bentuk ekspresi ucapan terima kasih saya. Pasalnya, jika bukan karena para “kamu” yang telah saya sebutkan barusan, mungkin saya belum bisa mencintai buku sampai hari ini. Pun juga belum tentu bisa mengerti artinya merawat, menghargai dan meminjamkan buku.

Oke, selengkapnya begini bentuk ucapan rasa syukur saya;

Awal perkenalan saya yang benar-benar kenal dengan buku, dimulai pada lima tahun yang lalu. Waktu itu, saya masih bocah ingusan yang belum mengerti tentang dunia dan seisinya. Yang saya tahu, menjadi anak kuliahan adalah bentuk keistimewaan. Karena istimewa, saya hanya berleha-leha tanpa pernah menyadari, kalau “malas-malasan adalah cara terindah untuk  menyiksa diri”. Beruntungnya, saya pernah mendapat pertanyaan soal cita-cita saya nanti. Bermula dari pertanyaan itu pulalah, saya akhirnya mengerti kenapa saya harus mencintai buku.

Perkenalan saya waktu itu, diawali oleh perjumpaan saya dengan buku-buku sastra. Bisa dibilang, buku sastralah yang akhirnya membuat saya jatuh hati dan tidak ingin berpaling meninggalkan buku. Saya masih ingat, buku-buku Pramoedya Ananta Toer menjadi buku pertama yang saya baca. Setelah itu, saya lajut membaca karya-karya Seno Gumira Ajidarma dan Arswendo Atmowiloto. Dari beberapa buku tadi pulalah, saya sempat punya keinginan menjadi seorang sastrawan. Tapi sayangnya, keinginan itu sudah saya tunda setidaknya sampai detik ini.

Karena belum terlalu paham soal perbukuan, saya pun tergolong orang yang serampangan dalam membaca waktu itu. Dan bisa disebut, kalau buku bacaan saya tidak teratur, sama seperti pola hidup saya sekarang. Waktu itu memang sempat mengalami kebingungan akan hal ini. Akan tetapi, hari ini saya malah bersyukur karena pernah berada di fase tersebut. Yang hari ini saya sadari, dari acaknya buku yang saya baca, akhirnya membuat saya tidak pernah membatasi ingin membaca apa.

Tampaknya, hal ini pula yang menjadi pembeda dengan beberapa teman di lingkaran saya. Ada yang jarang baca sastra, dan kebanyakan buku teoritis. Ada yang selalu baca sastra, tapi dengan berat hati kalau harus menyentuh buku teoritis. Ada pula yang awalnya pembaca gila, karena selalu membaca buku-buku babon, namun pada akhirnya banting setir. Ya, Ia merasa menyesal karena kebanyakan buku filsafa, dan berubah menjadi orang yang amat menggandrungi sastra hari ini.

Dengan waktu yang terbilang tidak sebentar, beragam hal pun saya temui dengan yang namanya “buku”. Mulai dari membeli buku bajakan, maling buku, kehilangan buku, dapat hadiah buku, mengadiahi buku, sampai merekam suatu kenangan karena pernah jalan kaki dari kampus ke toko buku. Itu semua pernah saya lalui. Bahkan, buku yang sedang saya baca dimaki-maki oleh orang lain pun saya pernah. Menurut orang itu, bacaan saya kurang berbobot dan berkualitas. Belum lagi saya dikatakan melompat-lompat dalam hal membaca buku.

Berbagai hinaan, makian, ejekan, dan cemoohan yang bermula dari buku, bisa dibilang sudah pernah semua saya rasakan. Lucunya, mungkin hal ini pulalah yang membuat kecintaan saya pada buku semakin bertambah dari hari ke hari. Yang detik ini pula, jika saya diberikan uang satu juta, mungkin akan lebih banyak saya habiskan membeli buku.

Tidak hanya itu, dalam beberapa tahun belakangan ini, hasrat saya membeli barang-barang lain pun berkurang drastis. Sebab, saya merasa masih banyak sekali buku yang belum saya beli. Oleh karena itu, saya seperti tidak kepikiran sama sekali untuk membeli barang-barang belakangan ini. Baik itu berupa barang yang melekat di tubuh, atau barang elektronik.

Saya rasa, selagi saya masih punya cukup uang untuk membeli buku, saya tidak akan pernah berhenti membeli buku. Dan selama saya masih kuat membaca, mungkin selama itu pula saya akan terus membeli buku. Memang, ini bisa dibilang kebiasaan yang kurang baik. Karena menimbun buku terlalu banyak, tapi belum sebanding dengan intensitas membacanya. Namun saya kira, tidak menjadi kesalahan bukan, jika saya ingin mewariskan buku-buku ke anak saya nanti?

Jika boleh meminta satu permintaan kepada Tuhan, dan saya diberikan kesempatan olehnya, ada satu permintaan saya yang masih ada kaitannya dengan buku. Saya pribadi ingin, suatu hari nanti bisa menulis sebuah buku, tentang apa yang menjadi kenangan saya dan apa saja yang masih bisa saya ingat. Akan tetapi, keinginan tersebut tidak hanya sebatas itu. Karena, saya ingin menulis buku tersebut di suatu tempat yang tenang, semacam pedesaan. Dan yang pasti bukan di Indonesia. Agar, saya bisa mengerti artinya merindukan kampung halaman, selagi saya menulis buku tersebut~

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel