Balada Harian dan Pikiran-pikiran yang Meminta Berkelana


Balada Harian dan Pikiran-pikiran yang Meminta Berkelana

Penulis: Gerbera*

Rutinitas, sering kali menjadi hal yang begitu dikeluhkan oleh banyak orang. Tidak dapat dipungkiri, bekerja, kuliah, pengangguran bahkan, akan menemui fase jenuh dengan aktivitasnya. Bagaimana mungkin, seseorang yang menjalani waktu 24 jam dengan kegiatan yang sama dan ya itu-itu saja.

Sebenarnya, bukan keteraturan yang bermasalah, tapi setelan kondisi “full auto” yang membuat ngeri. Bangun pagi, mandi, sarapan, pergi ke tempat kerja atau sekolah, mengejar matahari pagi sebelum naik terlalu tinggi. Berkutat dengan pekerjaan dan aktivitas yang sama, hingga sore tiba. Belum lagi jika ada lembur, lalu pulang larut malam, tak sempat bertemu dengan matahari sore. Padahal kan, senja adalah lukisan langit paling indah kata orang-orang indie itu.

Walaupun, tidak sedikit juga orang-orang yang sudah merasa nyaman dengan rutinitas yang dijalaninya. Tapi rutinitas akan menemui titik jenuhnya sendiri. Seakan tidak ada beda antara hari ini dan esok, dengan lusa, bulan depan, bahkan tahun depan.

Pun sebenarnya bukan tentang apa pekerjaannya, tapi masalahnya jika manusia tersebut sudah menekan diri dengan aktivitas yang sedemikian rupa, sehingga menjadikannya seperti robot, tanpa pernah mengetahui esensi dari apa yang dikerjakannya. Dan jika perasaan suntuk itu melanda, semua jadi terasa biasa-biasa saja. Hari ini sama besok ya gitu-gitu aja. Flat

Pada dasarnya, rutinitas memang diperlukan sebagai tanda bahwa kita manusia yang bergerak setiap harinya. Sebagaimana pelajaran biologi sewaktu sekolah dulu, bahwa tanda-tanda makhluk hidup adalah dengan bergerak. Jadi sisi baiknya, kita berarti masih menjadi manusia seutuhnya. Namun, di sisi lain rutinitas juga dapat membunuh kebahagiaan dalam diri itu sendiri.

Beberapa bulan lalu, saya memasuki sebuah pintu baru yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Memasuki ritme dunia kerja yang katanya lebih keras dari kehidupan kuliah. Saat itu, membayangkan bekerja selama 8 jam dari jam sekian sampai jam sekian setiap hari di hadapan laptop adalah mimpi buruk bagi saya.

Hanya memiliki waktu luang di hari sabtu dan minggu. Yah, seperti pekerjaan orang-orang kota pada umumnya. Padahal rutinitas sebelumnya lebih santai dan fleksibel. Walaupun sama-sama padat. Tapi kata orang-orang bijak itu lagi, yah begitulah hidup. Akan terus bergerak, dan kita, mau tidak mau mengikuti alurnya.

Kemudian di jam-jam kerja seperti itu, biasanya pikiran seperti melayang kemana-mana. Saat raga hanya dapat duduk dengan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk, pikiran justru mengembara jauh. Meminta berkelana.

Berharap dapat pergi jauh dan menikmati udara dingin pegunungan sungguh sangat menggairahkan. Atau sekedar jalan-jalan di taman dan mendengar kicauan burung-burung yang sedang membuat sarang. Atau menghabiskan seharian di kamar menonton drama korea yang berepisode-episode itu.

Lebih parahnya lagi, jika sudah mulai berfantasi melintasi ruang dimensi. Halaah. Pikiran akan berkhayal tiba-tiba menemukan pintu Doraemon, atau lemari tua di gudang bekas yang lama tidak digunakan, layaknya di film Narnia. Yang kemudian, harapannya dapat membawa kita pergi dari kejenuhan akan rutinitas yang mematikan. Lalu pergi ke tempat antah-berantah yang belum pernah ditemui sebelumnya.

Memasuki Lantern Weste, tempat Lucy dan Tumnus si Faun bertemu di bagian barat Narnia. Lalu melewati hutan antara dunia-dunia, hutan yang lebat dengan banyak air mata dan merupakan terminal antar dunia yang menghubungkan Sorlois, Bramandine, atau Charn. Hingga kemudian menyusuri Rush River yang bermuara di Subarine. Atau menjelajahi Great Forest dan menemukan Table Stone, tempat Aslan si Singa itu dihakimi.

Sensasi petualangannya yang seru memang seakan memenuhi isi kepala. Membayangkan hutan yang masih asri terjaga karena tidak terbakar seperti di Sumatera dan Kalimantan. Dapat melihat hewan-hewan yang bisa berbicara, dan mungkin jika hewan di Indonesia bisa bicara, mereka akan membnetuk pasukan untuk melawan manusia-manusia yang telah membakar tempat tinggalnya.

Tangi o, lur.

Jangan lupa untuk kembali ke dunia nyata, yang mungkin tidak seindah Narnia namun lebih realistis. Tempat kita hidup dan menghidupi. Hiyahiya

Ingat juga, ada biaya kos yang nunggak meskipun harga sayur kangkung masih dua ribu per-ikat. Pun biaya hidup lainnya tidak bisa dibayar hanya dengan khayalan.

Dan tetaplah bergerak untuk memberi makan mimpi-mimpi yang selalu diaminkan~

*"Mau hidup dengan seribu pohon"

Pilihan Redaksi

Sebuah Buku Berjudul “Macam-macam Gaya Seks untuk Pemula”

Sumber Foto: cuandernoderetazos.wordpress.com Penulis: Ameera Matahari* Hotel mewah yang berisi lebih dari dua puluh lantai d...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel