Ayah Menghilang

Ayah Menghilang
Sumber Foto: margohadi.blogspot.com
Tak kami dapati Ayah di segala penjuru rumah. Pasca menghilang satu jam yang lalu, kami heboh mencarinya. Sebetulnya adik bungsuku, Keukeu, ia yang menyaksikan bagaimana seketika ayah melesat ke arah plafon rumah, tanpa menembusnya tapi lenyap begitu saja. “Macam lesatan kembang api,” kata adikku. Aku sempat bertanya: dek, apa kamu tidak salah lihat, betul itu Ayah? Adikku mengangguk. Tak diragukan itu memang ayah. Anak kecil makhuk yang mustahil berbohong.

Asih, adikku yang pertama, juga ikut kaget, tapi ia seolah berusaha mengatasi kekagetannya, bukan kali pertama. Sama halnya seperti adik bungsuku, ia pernah punya pengalaman tak kalah mengejutkan soal Ayah.  Sekali waktu, Asih pernah mendengar suara kecil meraung-raung meminta tolong di kamarnya. Saat Asih mencari sumber suara itu, dan menemukannya di antara buku-bukunya. Di sanalah Ayah ditemukan, terjepit diantara halaman buku milik Asih.

Tentu saja Asih kalap bukan main, namun rasa konyol ingin tertawa segera menghinggapi Asih. Ia tarik kepala ayah dengan dua jari mungilnya. Ayah lepas, Asih terkekeh mendapati Ayah di antara jepitan telunjuk dan jempolnya. Bukannya segera menaruh tubuh liliput Ayah, Asih malah sempat memain-mainkan Ayah sebagaimana ia memainkan barbie-barbie koleksinya.

Belum lagi, kata asih, Ayah saat itu betul-betul imut dan lucu, sebab saat ia menarik Ayah dari halaman buku; kolor Ayah terlepas dan hanya menyisakan sempak sebagai penutup burungnya. Perut buncit Ayah sempat Asih gesek-gesek ke pipinya, Ayah merajuk, lalu Ayah lepas dari jepitan jari-jari asih, dan tercelup ke dalam gelas berisi susu. Saat itulah Ayah membesar perlahan bak balon ditiup. Kembali ke ukuran semula, membuat gelas yang kalah ukuran pecah dalam sekejap. Melihat Ayah yang tak lucu lagi, dengan separo telanjang, Asih ketakutan, nyaris berteriak. Namun, satu tangan Ayah menjewer kuping Asih, satu lagi membungkam mutut Asih. Ayah mengancamnya untuk tidak mengatakan pada kami.

Berbeda lagi dengan pengalamanku. Suatu petang, Ayah pulang dari Jakarta, ia membawa satu dus penuh berisi buku. Satu persatu buku-buku itu ia keluarkan sembari menyebutkan judul dan nama pengaranya: “Ini Harun dan Lautan Dongeng: Kisah Seribu Satu Tambah Semalam dan ini buku lanjutannya Luka dan Api Kehidupan karangannya Salman Rushdie, buatmu, Manik.” Sebelum Ayah selesai mengeluarkan buku-buku itu. Ibu, Asih, dan si bungsu,  Keukeu. Mereka berhambur ke ruang tamu, menyorog dus yang dibawa ayah. Jelas, Ayah segera merampas dus itu dan meminta semuanya sabar mengantri. “Mana bagianku, Ayah” tagih Asih. “Jangan lupa pesanan mamah, lho, Yah” giliran Ibu. Dan si bungsu dengan tatapan memohon dengan bibir melekuk membentuk huruf n “Buku dongeng, Yah. Jangan kasih aku buku masak lagi”

“Semuanya kebagian, sabar. O, Keukeu bungsuku, ini, tentu saja Cerita Rakyat Dari Prancis 1 dan 2 hm.. penulisnya Nh. Dini. Dan lupakan soal buku masak, maaf, salah Ayah, sebetulnya itu buat ibumu.”

“Terimakasih, Ayah” Keukeu meraih buku itu, mendekapnya, lalu mulutnya memonyong mencium pipi Ayah.

 “Asih, buku yang kebelet pengin kamu miliki, nih, Layla dan Majnun karangan Nejami”
“Tentu, Asih sudah siap untuk menangis semalaman. Terimakasih Ayah” Asih meraih buku itu lalu mencium kening Ayah.

“Dan ini buatmu, sayang, seperti pintamu, paket lengkap Eka Kurniawan. Aorkhh! Lelaki Harimau dan kawan-kawannya”

Kedua adikku menutup mata dan menyumbat kuping dengan kedua telunjuk mereka. Sial aku tak melakukan hal yang sama.

“Paket lengkap akan dibalas nanti malam” Jawab Ibu disusul ciuman di kanan-kiri pipi Ayah.

Masing-masing dari kami begitu senang mendapat buku-buku baru dari Ayah. Tentu saja, bukan hal yang sulit buat Ayah membelikan kami buku. Dari jabatannya sebagai direktur, di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Penghasilannya perbulan cukup untuk menutupi segala kebutuhan kami sekeluarga, meski sebetulnya aku tidak tahu berapa besaran rupiah gaji Ayah.

“Dan ini jatah Ayah” Ayah mengambil empat buah buku dari dasar dus. Tiga buku usang tanpa sampul dan satu buah buku dengan sampul karton berwarna coklat polos. Kami tahu, kalau Ayah penyuka buku-buku langka, bukan novel, atau pun buku resep masak seperti kesukaannya Ibu. Setidaknya sebelum beberapa bulan belakangan ini mengenal nama Eka Kurniawan melalui internet, penasaran, dan mendadak pengin membaca semua karya-karyanya.

Asih kegirangan mendapat buku baru, yang memang sudah seminggu ia idam-idamkan. Asih berlalu membawa buku di genggamannya, berjalan ke lantai dua memasuki kamarnya. Sementara Ibu sudah lebih dulu ke Perpustakaan pribadinya di sebelah dapur. Ibu mungkin akan membuka plastik buku-buku itu satu persatu, entah judul mana yang akan lebih dulu dibacanya. Dan Keukeu sambil berjalan menyusul Asih, dengan riang-gembira mendekap, mengelus-elus buku barunya, sesekali menciumi sampul buku itu.

Aku meletakan dua buku-buku di tanganku. Kubereskan dus dan tali rapia bekas buku-buku itu. Aku lupa satu hal: Ayah ke mana? Ia tak ada dalam jarak pandangku yang sebatas satu hasta darinya, ia harusnya di depanku, memegang buku-buku yang baru saja diambilnya dari dasar dus. Kalau pun Ayah pergi ke kamarnya, harusnya aku merasakan saat ia melewatiku, atau paling tidak melihatnya saat menaiki tangga, sebab kamar Ayah dan Ibu berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Asih dan Keukeu.

Kutinggalkan buku dan dus begitu saja, aku ke beranda rumah, memanggil Ayah. Tidak ada. Lalu aku cari di belakang rumah, barangkali Ayah langsung nyebur ke kolam renang karena cuaca memang begitu terik, juga tidak ada. Terakhir, aku cek kamar mandi dan Ayah memang ada. Bukan sedang buang air kecil atau pun besar.

Ayah berdiri di atas air tanpa baju, hanya sempak melekat di selangkangannya, Ayah juga memamah buku-buku yang baru dibeli dengan rakusnya—entah aku harus kaget, lari, kemudian berteriak atau bagaimana—Tapi aku tidak takut, justru aku dibuat terheran-heran, bagaimana Ayah dapat berdiri di atas air, sejak kapan? Berulang kali aku mengucek-ngucek mataku, tetap saja, Ayah tidak menghilang, ini bukan fatamorgana, ya, aku tidak berhalusinasi. Aku coba menghampiri Ayah, memanggilnya. Ayah menatapku tajam, matanya merah, bukan tatapan Ayah yang ku kenal.

“Setan!” Aku berlari terseok-seok, kamar, ruang tengah, atau manapun aku akan ke sana, menyelamatkan diri. Aku terjatuh. Kemudian Aku menelungkupkan tubuhku sembari memejamkan mata. Hingga sebuah suara yang kukenal menyadarkanku “Manik..Manikmaya, eling! Setan dari mana?” itu suara Ibu. Aku membuka mata, kemudian cepat-cepat Kupeluk Ibu. Aku menunjuk kamar mandi dan Kukatakan kalau di sana ada setan mirip Ayah, tidak, Ayahlah setan itu. Ibu tak percaya. Asih tak percaya. Si bungsu malah bertanya “Apa setan Ayah, botak dan melayang seperti Casper, Kak?”

“Tidak ada setan sejelek Ayah, Manik. Mana setannya? berani-beraninya menjiplak muka Ayah” protes Ayah dari lantai dua dengan mengenakan piyama, tidak telanjang sebagaimana ku saksikan di kamar mandi. Rona muka Ayah memerah, sebab ku sebut setan.

Dari bawah Ibu menatap sayu ke arah Ayah.

***

Aku bertugas mencari Ayah di seluruh ruangan. Tidak ada. Asih mencari Ayah di beranda rumah, juga nihil. Sementara ibu mencari Ayah di berbagai benda di rumah kami: guci; barangkali Ayah masuk ke dalamnya; lukisan; mungkin Ayah tersirap ke dalam gambar. Tapi nyatanya tak ada. Keukeu, meski tak ditugaskan mencari Ayah, dengan imajinasi anak kecilnya berpikir kalau ayah masuk ke dalam buku-buku dongeng miliknya. Jadi ia memintaku menumpahkan semua buku-buku dongeng di rak kamarnya. Kami tak percaya dengan imajinasi anak kecil, serasa tidak mungkin. Namun, pada akhirnya kami tersadar, apa yang terjadi pada Ayah adalah ketidakmungkinan. “Patut dicoba” kata Ibu dengan wajah cemas.

Sekarang, kami membuka-buka semua buku-buku dongeng milik Keukeu. Sebelumnya, Keukeu sempat mengingatkan agar kami membuka lembar demi lembar buku-bukunya dengan hati-hati, ia tak mau satu pun dari halaman buku-bukunya tersobek, seolah apa yang terjadi pada Ayah bukan suatu hal yang penting dibanding buku-buku miliknya. Di tengah-tengah kami membuka-buka lembar buku, tiba-tiba Ibu teringat akan koleksi buku-bukunya, Ibu menyuruh kami tetap mencari. Sementara Ibu beralih untuk mengecek buku-bukunya di perpustakaan, lantai satu.

***

Kami menyerah mengikuti cara Keukeu. Ayah tak ditemukan dalam buku-buku dongeng miliknya. Kami bertiga segera turun menyusul Ibu di perpustakaan pribadinya. Ini akan lebih melelahkan, sebab koleksi buku-buku milik Ibu jauh lebih banyak mengalahkan banyaknya koleksi buku-buku milik Ayah, apalagi kami anak-anaknya. Buku-buku Ibu berserakan di lantai, tapi kali ini tentu Ibu takkan marah, demi menemukan Ayah. Aku menjatuhkan satu persatu buku Ibu yang masih tersisa banyak di rak setinggi dua meter, melemparkannya, dan Asih menangkisnya satu persatu. Namun Ibu malah jengkel dengan kelakuan kami yang dianggapnya malah bermain-main. Akhirnya, kuayunkan rak buku dengan berat tubuhku hingga miring, dan buku-buku pun berjatuhan, Keukeu yang sejak semula melihati Aku, bertepuk tangan keasyikan, dikiranya kami betul-betul sedang bermain-main.

Aku segera menyasar buku sekenaku, Asih mulai membuka lembar demi lembar buku-buku masak milik Ibu. Aku bertanya “Apa Mungkin Ayah berada di antara gambar panci, pisau, sendok, dan potongan daging-daging itu?” Asih menjawab dengan tak menghiraukanku “Barangkali Ayah menjadi bahan sushi, sandwich, atau mungkin rendang? Kak Manik, jangan banyak tanya. Carilah cepat”

Namun, Ibu Justru terhenti, Aku melihat buku terakhir yang Ibu buka Lelaki Harimau, apa Ibu berpikir Ayah menjadi harimau, seperti kisah dalam buku itu? Bisa jadi, seperti yang Ibu bilang, ketidakmungkinan bisa jadi mungkin, Ayah membuktikannya dua jam yang lalu.

“Sudah, anak-anak” titah Ibu pada kami, kemudian air mata keluar dari pelupuk matanya. Asih tak menghiraukan, ia tetap mencari, Keukeu Asyik berguling-guling di atas tumpukan Buku-buku Ibu “yuhuu..”

“Sudahi usaha kalian! Ayah kalian takkan kembali. Ajaran nenek moyang. Ayah kalian mengamalkannya. Ia sempat mengecil, dan melayang, bukan berdiri di atas air, Manik. Tubuhnya tidak seimbang, sebab itulah gejala menuju keseimbangan. ”

Kali ini Ibu benar-benar kalut. Kami tidak mengerti dengan perkataan Ibu: ajaran nenek moyang? Aku dan mungkin juga Asih ingin mengajukan pertanyaan pada Ibu. Tapi kami tahu ini bukan waktu yang tepat. Kami menyudahi pencarian Ayah. Ibu kami dekap. Ibu terisak-isak.

Kami tidak mengerti apa yang Ayah perbuat. setan, jimat, atau jika ilmu. Ilmu apa? Setan apa? Jimat macam apa?

Awang-awang uwung-uwung, apa yang disebut ‘ada’ adalah ‘tidak ada’” ucap Ibu di sela tangisnya. “Kita tak dapat berhubungan lagi dengan Ayah. Ayah sudah masuk alam kekosongan, di luar jangkauan kita” tangis Ibu pecah sejadinya-jadinya.

***

Selang beberapa hari Ibu baru menjelaskan sebab Ayah menghilang. Ibu mengumpulkan kami di ruang tengah. Ibu menceritakan soal Ayah yang diketahuinya, tapi belum pernah Ibu beritahu ke anaknya satupun.

“Selama ini Ayah tidak pernah ngantor. Sudah satu tahun, Ibu tahu dari orang-orang di kantor Ayah. Ibu beberapa kali membuntuti Ayah jika ia berangkat kerja. Mobilnya tak pernah menuju kantor, tapi ke sana, ke arah Tanggerang. Mungkin Ayah kalian ke Banten. Ibu bisa pastikan ia ke tempat sahabat dekatnya, yang mirip dukun itu. Ayah kalian belajar cara-cara orang terdahulu mencapai kesejatian diri. Ibu tidak terlalu paham bagaimana cara kerja ilmu yang dipelajari Ayah kalian. Tapi Ibu yakin akan terjadi sesuatu padanya. Hingga kalian lihat sendiri bagaimana Ayah kalian menghilang.” Ujar Ibu.

Kami samasekali tidak mengerti apa yang dipelajari Ayah, meskipun Ibu sudah menjelaskannya. Tapi, Keukeu, yang baru berusia tiga tahun tak ikut pusing dengan menghilanya Ayah. Ia memerhatikan Ibu, sesekali menyelia padakku dan Asih. Lalu lewat mulut mungilnya Keukeu berkata.

“Ibu cari Ayah baru saja, ya, Bu”






*Awang-awang uwung-uwung= konsep Sunda, dimana proses meleburnya manusia dengan sang pencipta.



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel