Yogyakarta yang sedang (tidak) Nyaman


Yogyakarta yang sedang (tidak) Nyaman
Sumber Foto: gapuranews.com

Penulis: Mira Dulsa*

Yogyakarta, yang akrab dengan sebutan pusat budaya dan pendidikan, setiap tahunnya menjadi daerah tujuan bagi kebanyakan orang. Daerah yang terbagi menjadi lima wilayah ini, menyimpan keunikan masing-masing. Mulai dari kampus yang terbilang banyaknya, kuliner yang beraneka ragam, sampai tumbuh suburnya komunitas-komunitas kecil. Ya, begitulah Yogyakarta dengan segala keindahan yang dimilikinya.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir ini, semboyan Yogyakarta berhati nyaman, tampaknya berubah menjadi Yogyakarta sedang (tidak) nyaman. Pasalnya, semenjak adanya wabah Covid-19 yang menyerang Indonesia, Yogyakarta pun tak terkecuali turut terkena dampaknya. Akhir-akhir ini, banyak sekali perubahan terjadi pada kehidupan yang ada di Yogyakarta. Hingar-bingar keramaian yang mulai hilang di setiap sudutnya, secara tidak langsung mengubah wajah Yogyakarta yang selama ini kita kenal.

Tidak berhenti sampai di situ saja, segala aktivitas rutinan yang ada di Yogyakarta, mau tidak mau ikut ditunda untuk sementara waktu. Dengan adanya wabah yang belum tahu kapan berakhirnya ini, kehidupan perkuliahan sampai ke pedagang angkringan, adalah korban nyata yang ada di Yogyakarta. Para korban yang ada di Yogyakarta, memang terkesan bingung dalam menyikapi wabah Covid-19. Tapi uniknya, dalam kondisi yang sedang (tidak) nyaman ini, saya masih menemukan secercah harapan dan keteguhan yang terpancar dari korban efek Covid-19.

Kejadian ini, terjadi pada hari Minggu yang lalu. Ketika saya berkunjung ke salah satu pasar yang ada di Yogyakarta. Tepatnya di dekat stasiun Lempuyangan. Pasar ini, biasanya selalu ramai, dan yang berjualan kadang sampai ke jalan yang ada di depan pasar. Akan tetapi, hari itu saya tidak melihat aktivitas yang biasa saya temukan ketika berkunjung ke pasar ini. Para pedagang tidak semuanya yang menggelar lapak. Dan terlihat banyak sekali lapaknya ditutup.

Yang membuat kondisi ini menjadi sama sekali berbeda dari biasanya, pengunjung dan pembeli yang datang pada hari itu sedikit sekali. Hal ini yang kemudian sebenarnya membuat para pedagang tidak bisa menutupi kekecewaannya. Bagaimana tidak, sumber penghasilan mereka ya hanya dari dagang itu semata. Jika pembeli yang datang hanya sedikit—karena mengantisipasi penyebaran virus Covid-19—secara tidak langsung juga berimbas kepada penghasilan para pedagang ini.

Dengan kondisi demikian, siapa yang bisa disalahkan? Tentu saja tidak ada, dan tidak mungkin untuk menyalahkan siapa-siapa. Oleh karena itu, para pedagang tadi hanya bisa menghibur diri masing-masing dan para pedagang yang ada pada hari itu. Mereka, yang saya lihat, setidaknya masih mampu tersenyum ketika saya tiba di lokasi. Tidak hanya itu, beberapa pedagang sayur, bahkan terlihat memainkan sayurnya dengan cara di lempar seperti bermain kasti.

Saya yang melihat kejadian itu, memang tidak bisa mengabadikan momen tersebut ke dalam sebuah foto. Tapi beruntungnya saya, karena kejadian ini adalah hal langka. Yang mungkin di kemudian hari akan sulit untuk menemukannya. Sembari masih mencari bahan yang akan saya beli, saya tersenyum sumringah melihat tingkah para pedagang sayur tadi. Dalam hati saya berucap dan berdoa; semoga rejeki para pedagang ini selalu dimudahkan selanjutnya. Sebagaimana doa dan ucapan saya biasnya, ketika meilhat pedagang yang jualannya sepi.

Cerita ini tidak berhenti sampai di situ saja. Hal selanjutnya yang akan saya ceritakan, turut membuat saya resah dengan kondisi Yogyakarta yang sedang (tidak) nyaman seperti sekarang. Seperti yang diketahui oleh orang kebanyakan, Yogyakarta menyimpan sejuta kenangan dan kerinduan. Baik bagi yang pernah tinggal lama atau yang hanya sekedar berkunjung.

Daya pikat Yogyakarta, tidak bisa ditampik memanglah sangat kuat. Hal ini terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang betah berlama-lama di Yogyakrta, sampai dengan yang mencari jodoh di Yogyakarta. Ketika ditanya kenapa betah, pasti kebanyakan akan menjawab bahwa Yogyakarta begitu nyaman, bahkan terkadang melebihi kenyamanan ketika sedang berada di rumah asal. Tidak bisa dipungkiri, itu sudah menjadi rahasia umum dan lumrah di kalangan mahasiswa dan perantau yang ada di Yogyakarta.

Namun, lagi-lagi perasaan nyaman di Yogyakarta juga ikut terganggu dengan adanya Covid-19. Berbondong-bondong mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta, lebih memilih pulang ke kampung  halaman, ketimbang memilih tetap di Yogyakarta akhir-akhir ini. Alasannya ya tentu saja untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. Kebanyakan mahasiswa ini merasa, bahwa mereka akan lebih aman di rumah ketimbang di Yogyakarta. Walaupun hasilnya juga sebenarnya bisa jadi fifty-fifty.

Pada nyatanya, apa yang menjadi pilihan kebanyakan mahasiswa dan perantau di Yogyakarta tadi, berbanding lurus dengan kondisi yang ada. Ketika semua kampus di Yogyakarta sudah memberlakukan kuliah online, tentu tidak menjadi sebuah alasan kalau pulang menjadi solusi yang tepat. Belum lagi mengingat, kerja sambilan yang biasanya dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa yang ada, juga turut serta mengalami pemberhentian. Maka, pulang ke kampung halaman tidak menjadi soal saya kira.

Fenomena ini juga terbilang langka, yang belum tentu akan ditemui kecuali ketika momen mudik hari raya lebaran. Karena sepengalaman saya, sepinya Yogyakarta baru bisa dirasakan ketika menjelang momen lebaran. Selebihnya, jantung kehidupan Yogyakarta memang tak akan pernah sepi. Pada akhirnya, Covid-19 juga membuat Yogyakarta menjadi tidak nyaman sekaligus aman.

Hikmah yang bisa diambil dari sepinya dan ketidaknyamanan yang berlangsung ini, adalah momen untuk memperbaiki yang sekiranya bisa diperbaiki. Dengan adanya wabah Covid-19, walaupun membuat Yogyakarta menjadi kurang nyaman, saya kira juga ada sisi positifnya. Dengan adanya himbauan dari Sultan Hamengkubuwono X tentang bersih-bersih Yogyakarta, bisa diartikan kalau kita yang tinggal di Yogyakarta memang harus bersih-bersih diri.

Bersih-bersih diri yang dimaksud di sini, bukan hanya sekadar mengantisipasi penyebaran Covid-19. Lebih jauhnya lagi, saya kira, dengan adanya himbauan dari Sultan ini, menjadi pengingat bagi kita semua yang akan kembali lagi ke Yogyakarta. Agar, setelah istirahat dan selama berada di rumah, bisa kembali menata hati dan meluruskan niat ketika kembali ke Yogyakarta. Tidak hanya itu, ketika sedang di rumah, menjadi momen yang tepat untuk kita beristirahat, dan menyimpulkan bahwa Yogyakarta setidaknya juga butuh istirahat dari keramaian yang ada selama ini.

*Pekerja di konter kecil yang bercita-cita menguasai banyak bahasa. Sekarang sedang asyik menonton film, biar nyambung pas diajak ngobrol.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel