Wisata sebagai Alat Penguat Ekonomi


Wisata sebagai Alat Penguat Ekonomi

Penulis: Raka Persada*

Yogyakarta, yang terkenal dengan objek wisatanya, memang selalu mengundang minat para wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara, yang datang untuk mengunjunginya. Terhitung, berdasarkan hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS), data kunjungan wisatawan ke Jogja per 2016 lalu, tercatat ada sekitar 5,5 juta. Dengan kunjungan rata-rata sekitar 100.000 wisatawan. (Harian Jogja, 7/2/18).

Hal tersebut, ternyata belum berbanding lurus dengan peningkatan perekonomian masyarakat yang berada di sekitar tempat wisata. Dari lima kecamatan yang terendah PDRB-nya, kecamatan Kraton dan Kotagede lah yang paling memprihatinkan. Padahal, jika dilihat, dua kecamatan ini termasuk yang paling banyak objek wisatanya.

Banyak faktor kendala yang mempengaruhi hal tersebut. Di antaranya, pertama, infrastruktur jalan yang sempit dan tidak tersedianya lahan parkir yang memadai. Akibatnya jarang sekali bus pariwisata dengan kapasitas besar yang dapat mengakses beberapa tempat wisata, khususnya di daerah Kraton dan Kotagede. Selain itu lahan parkir yang tidak memadai juga menjadi kendala untuk menarik minat pengunjung.

Kedua, belum tumbuhnya jiwa wirausaha masyarakat setempat. Hal ini juga menjadi kelemahan dari masyarakat dalam melihat potensi pasar yang ada. Oleh karena itu, sektor perdagangan dan jasa yang seharusnya menopang tempat-tempat wisata menjadi tidak terlalu berefek pada perekonomian masyarakat setempat.

Ketiga, kurangnya komunikasi dinas pariwisata dengan warga di sekitar tempat wisata. Hal ini yang selanjutnya menyebabkan seperti terpisahnya antara elemen pemerintah dengan masyarakat dalam mengelola tempat wisata. Terlebih lagi, sering terjadi beberapa kasus warga pendatang yang membuka usaha di sana lebih berhasil ketimbang warga setempat.

Padahal,  sudah seharusnya menjadi tugas pemerintah, khususnya dinas pariwisata, untuk mengorganisir warga yang ada di sekitar tempat wisata. Agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman, dan saling rebutan lahan dengan warga pendatang.

Banyak cara yang bisa dilakukan, untuk menjadikan tempat wisata sebagai alat penguat basis ekonomi. Di antaranya, pertama, dimulai dengan memperluas infrastruktur jalan dan pengadaan lahan parkir yang layak. Dengan adanya perluasan infrastruktur jalan dan pengadaan lahan parkir, hambatan yang berupa susahnya mengakses tempat wisata akan bisa teratasi.

Terlebih lagi mengingat, sektor jasa angkutan umum bisa diadakan dan dikelola oleh masyarakat setempat jika infrastruktur jalan sudah diperluas dan tersedianya lahan parkir. Pemkot Yogyakarta, sudah seharusnya ikut andil dan ambil peran dalam hal tersebut. Bukan semata untuk menggugurkan kewajiban yang ada, tapi juga sebagai bukti kepedulian terhadap warga yang ada di sekitar tempat wisata.

Kedua, mengadakan pelatihan wirausaha kepada masyarakat di sekitar tempat wisata. Melalui pelatihan tersebut masyarakat bisa kembali menghidupkan potensi kreativitas dalam berwirausaha. Dengan upaya ekonomi kreatif, masyarakat menjadi lebih memahami peluang pasar dan siap bersaing dengan produk interlokal. Bukan lagi menjadi rahasia umum, di tengah kemajuan zaman seperti sekarang, kreativitas adalah hal yang fundamental dan punya pengaruh besar. Jika lambat merespon perubahan, bisa dipastikan akan ketinggalan.

Ketiga, pengorganisiran oleh pihak dinas pariwisata. Untuk meminimalisir konflik yang terjadi antara warga setempat dengan warga pendatang, pihak dinas pariwisata bisa melakukan sosialisasi dan mengkomodir serta memprioritaskan warga setempat terlebih dahulu.

Hal ini bukan malah jatuh kepada nepotisme. Karena diakui atau tidak, yang namanya tuan rumah tentu tidak akan selalu senang dengan yang namanya tamu atau pendatang. Selanjutnya, pemkot dan dinas pariwisata tidak hanya fokus pada yang membuka usaha di sekitar tempat wisata. Tapi juga ke seluruh elemen yang ada di sekitar tempat wisata tersebut.

Pengorganisiran tersebut, juga harus rutin dikontrol agar bisa mengantispasi hal yang tidak diingkan. Karena tidak menutup kemungkinan, jika ada warga pendatang yang ingin membuka usaha di sekitar tempat wisata, bakal terjadi kesalahpahaman dan rebutan lahan dengan warga setempat. Oleh karenanya, struktur komunikasi yang baik haruslah menjadi hal nomor satu.

Tidak berhenti sampai di situ, dengan adanya manamjemen yang optimal, bukan hal yang mustahil akan berimbas baik ke banyak hal. Contohnya pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan para warga yang ada. Dengan demikian, layak kiranya kalau kita menjadikan wisata sebagai alat untuk menguatkan basic ekonomi yang sudah ada.

*Alumni sekolah yang masih seumur jagung. Yang kalau setiap upacara di musim hujan, sepatu bertambah tebal 5 cm. Bercita-cita menjadi kepala sekolah Suzuran!!!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel